Presiden Muslim Pertama di Benua Amerika

“… Hassanali mewakili wajah lain dari Islam, dan Trinidad. Ia adalah orang yang terdidik, lembut, layak, dan seorang yang patuh kepada Tuhan, serta taat terhadap hukum yang sebenarnya bukan mewakili dirinya sendiri… Ia adalah presiden yang dicintai dan sangat dihormati.”

Begitu yang tertulis dalam buku Days of Wrath: The 1990 Coup in Trinidad and Tobago karya Raoul Panti, seorang jurnalis terkemuka dari Trinidad & Tobago. Buku ini diterbitkan setahun setelah wafatnya Noor Hassanali, sosok yang dipuji oleh Raoul dalam karyanya itu. Hassanali meninggal dunia pada 25 Agustus 2006, tepat 11 tahun silam.

Raoul Panti dan Noor Hassanali adalah dua orang dari segelintir pemeluk Islam yang lahir dan hidup di Trinidad & Tobago. Dan hebatnya, Hassanali pernah menjadi presiden yang memimpin negara kepulauan di ujung utara Amerika Selatan itu selama satu dekade. Noor Hassanali juga merupakan kepala negara muslim pertama di Benua Amerika.

Penguasa Karibia Berdarah India

Noor Mohamed Hassanali dilahirkan di San Fernando, Trinidad & Tobago, 13 Agustus 1918. Ditilik dari namanya yang jauh dari kesan kebarat-baratan maupun Latin, Hassanali memang sosok yang berbeda dari orang Karibia kebanyakan. Ia adalah keturunan India (Ralph Premdas, Trinidad and Tobago: Ethnic Conflict, Inequality and Public Sector Governance, 2007:73).

Di Trinidad & Tobago memang cukup banyak orang berdarah India, baik yang muslim maupun pemeluk Hindu. Ini tidak lepas pengaruh Inggris yang menguasai kawasan ini sejak 1802 melalui Perjanjian Armiens dengan Perancis (John T. Harricharan, Church and Society in Trinidad, 2005:51). India dan Trinidad-Tobago dengan demikian sama-sama berada di bawah kekuasaan Inggris. Sebelumnya, Trinidad & Tobago juga pernah diduduki Spanyol yang lantas menanamkan pengaruh kuat di wilayah ini.

Tahun 1845, Inggris mendatangkan rombongan pekerja pertama dari India ke Trinidad & Tobago, sebanyak 225 orang, disusul oleh gelombang berikutnya selama bertahun-tahun setelahnya (Bridget Brereton, An Introduction to the History of Trinidad and Tobago, 1996:59). Para imigran dari India ini menetap di Trinidad & Tobago hingga beranak-pinak, termasuk menurunkan Noor Hassanali.

Sebelum terjun ke ranah politik, Hassanali dikenal sebagai seorang akademisi sekaligus ahli hukum. Ia lulusan Universitas Toronto di Kanada dan pernah menjadi tenaga pembantu dalam Perang Dunia Kedua. Hassanali juga sempat bekerja di bar pada sebuah hotel mewah di London setelah perang usai selepas tahun 1945, sembari menjalani profesinya di bidang hukum sebagai pengacara partikelir.

Hassanali pulang ke Trinidad & Tobago tahun 1953 untuk menjadi hakim. Karier Hassanali di sektor hukum cukup cemerlang. Tahun 1960, ia sudah berstatus sebagai hakim senior. Lima tahun kemudian diangkat sebagai Asisten Jaksa Agung sekaligus hakim pengadilan tinggi, lalu bekerja di majelis banding hingga pensiun pada 14 April 1985 (Who’s who in Trinidad and Tobago, Volume 2 , 1972:291).

Presiden Muslim Dua Periode

Setelah pensiun, Hassanali beralih ke dunia politik. Jejak rekamnya yang bagus membuat salah satu partai paling berpengaruh di Trinidad & Tobago, National Alliance for Reconstruction (NAR), mengusungnya sebagai calon presiden dalam Pemilu 1987. Ini merupakan pemilu kedua setelah Trinidad & Tobago merdeka dari Inggris. Mereka merdeka pada 31 Agustus 1962 meski baru bisa membentuk pemerintahan republik sejak 1 Agustus 1976.

Hassanali pun terpilih sebagai presiden Trinidad & Tobago yang kedua, setelah era presiden sebelumnya, Ellis Clarke (1976-1987), berakhir. Dengan demikian, Hassanali menjadi presiden muslim pertama di Trinidad & Tobago maupun di seantero Benua Amerika.

Sebagai pemeluk Islam taat, Hassanali tidak melanjutkan kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran agamanya, termasuk tidak menyediakan minuman beralkohol di istana kepresidenan. Kebijakan ini sempat dipertanyakan oleh Arthur N.R. Robinson selaku Perdana Menteri, namun justru disikapi dengan biasa-biasa saja oleh publik.

Robinson pun menghormati kebijakan itu. “Saya menganggapnya sebagai presiden dari bermacam-macam agama yang ada di Trinidad & Tobago –yang mungkin bagi beberapa orang terlihat seperti memaksakan kepercayaan terhadap orang lain. Tapi, masalah ini tidak pernah menjadi isu di negara ini dan masa jabatan presiden ditandai dengan penerimaan damai oleh rakyat,” kata Robinson kepada Trinidad Guardian (26 Agustus 2006).

Seperti pengakuan Robinson, juga yang dituliskan oleh Raoul Panti, Hassanali memang sangat dicintai sekaligus dihormati oleh rakyatnya. Terbukti, ia terpilih kembali sebagai Presiden Trinidad & Tobago pada Pemilu 1992. Jabatan tertinggi ini diemban hingga tuntas selama 5 tahun masa kepemimpinannya yang kedua.

Noor Mohamed Hassanali, presiden muslim pertama Trinidad & Tobago dan Benua Amerika itu, meninggal dunia pada 25 Agustus 2006 dalam usia 88 tahun. Namanya terus mewangi hingga kini, begitu pula warisannya untuk umat Islam di negara kepulauan itu yang tetap lestari sampai saat ini.

Warisan Toleransi Dari Hassanali, Pernah memiliki presiden muslim, bukan berarti Trinidad & Tobago adalah negara yang sebagian besar warganya beragama Islam. Malah sebaliknya. Agama Islam justru minoritas di negara Kepulauan Karibia ini. Pada 2013 saja, jumlah muslim di Trinidad & Tobago hanya sekitar 6 persen dari total populasi 1.340.557 jiwa penduduknya saat itu (Discover Trinidad & Tobago, “Mosques and Muslim Organizations”, 19 April 2013).

Agama yang punya penganut terbesar di Trinidad & Tobago adalah Katolik Roma (26 persen), diikuti Kristen Protestan (25,8 persen), baru kemudian Islam (6 persen) meskipun jaraknya terpaut cukup jauh, lalu ada Hindu (5,8 persen), berbagai sekte Nasrani (5,8 persen), dan sisanya adalah pemeluk ajaran lain, termasuk kepercayaan lokal.

Meski Islam bukan agama mayoritas, namun pemerintah Trinidad & Tobago memberikan perhatian yang cukup tinggi kepada para pemeluknya. Itu terjadi berkat andil Noor Hassanali selama menjabat sebagai presiden dan masih dilestarikan hingga kini.

Salah satu kebijakan terkait kepentingan umat Islam yang paling menonjol di Trinidad & Tobago adalah penetapan hari libur nasional selama 7 hari setiap Hari Raya Idul Fitri tiba. Hampir serupa dengan tradisi libur Lebaran di Indonesia.

Pemerintah Trinidad & Tobago juga menyediakan Stadion Nasional Port of Spain di ibukota untuk melaksanakan Salat Ied. Selain itu, tidak kurang dari 100 orang warga Trinidad & Tobago yang menunaikan ibadah haji ke Mekkah tiap tahunnya (“From Trinidad to Mecca”, CaribbeanMuslims.com, 19 April 2013).

Seperti halnya berbagai sekte dalam agama Kristen yang hidup rukun berdampingan di Trinidad & Tobago, pemerintah negara itu juga tidak mengkotak-kotakkan aliran dalam agama Islam. Semua pemeluk Islam diayomi dan dilindungi tanpa ada perbedaan, Ahmadiyah termasuk di dalamnya (Ahmadiyya Muslim Mosques Around The World, 2008: 319).

Ketika sejumlah negara di dunia latah terjangkit islamphobia, tidak demikian dengan Trinidad & Tobago. Tempat yang oleh Christopher Columbus diberi nama “La Isla de la Trinidad” atau “Pulau Trinitas” ini tetap melestarikan toleransi keberagaman yang sudah terbangun selama berpuluh-puluh tahun. Dan itulah salah satu warisan terbesar dari sang presiden muslim di kepulauan Nasrani, Noor Hassanali.

Sumber : https://tirto.id/presiden-muslim-pertama-di-benua-amerika-cvi5

Mungkin Anda juga menyukai