Serial Manhaj Ishlah ke-3

Dakwah kita adalah, keimanan yang mendalam, kuat dan yang paling abadi ..
Kepada Allah, pertolongan dan kemenangan dari-Nya
Kepada pemimpin Rasulullah Saw., kejujuran dan amanahnya
Kepada manhaj, keistimewaan dan kelayakannya
Kepada persaudaraan, kewajiban dan kesuciaannya
Kepada balasan, kebesaran, dan kemuliaannya
Kepada diri mereka sendiri .. mereka adalah sebuah jamaah yang diberikan kekuatan untuk menyelamatkan dunia seisinya.”
Imam Syahid sangat memperhatikan pemuda, dan berhasil menjadikan mereka sebagai darah segar yang mengalir di tubuh umat Islam, yang mampu membangkitkan dan menggerakkannya.
Di akhir kehidupannya, sekitar dua minggu sebelum kesyahidannya, kondisi pada saat itu sangat genting-, salah seorang berkata, “Wahai Ustadz, banyak berita yang tersebar tentang engkau, dan tentang apa yang terjadi terhadap engkau. Imam Syahid berkata, “Apa yang akan terjadi? Apakah pembunuhan? Sesungguhnya kami mengetahui bahwa hal itu adalah kesyahidan, dan itu adalah cita-cita kami.
Seseorang bertanya lagi, “Bagaimana dengan dakwah? Imam menjawab, “Aku telah menyelesaikan tugasku dan aku telah meninggalkan para rijal (pejuang) dan aku melihat mereka dengan mataku bahwa mereka benar-benar rijal, maka aku akan mati dengan penuh ketenangan, dan yang aku inginkan adalah mati sebagai syahid.” Cita-cita itu benar-benar terwujud, ia mendapatkan syahadah.
Setiap orang yang mempelajari pemikiran Imam Hasan Al Banna, maka ia akan mendapatkan bahwa pikiran-pikiran sosok ini mempunyai karakter khas yang sangat cocok dengan realita kehidupan dan mengacu kepada dasar-dasar agama, yang jauh dari sikap berlebih-lebihan (ekstrimisme) maupun sifat meremehkan.
Pemikiran-pemikirannya mampu survive dan berkomunikasi dengan alam pikiran manusia dan tidak dibenci oleh jiwa, pemikiran-pemikiran yang diterima secara baik yang tidak mengenal kekerasan dan terorisme. Dasarnya berpijak kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasulullah Saw. serta amalan para ulama terdahulu yang shalih.
Imam Al Banna adalah seorang pembaharu urusan agama ini pada masa dan generasinya, ia dan para pembaharu lainnya.
Ia menyerukan manusia untuk beriman kepada Allah dan kembali kepada ajaran Rasulullah Saw. Ia menempuh jalan yang pernah dijalani para ulama-ulama terdahulu. Ia menyerukan dakwahnya dan mengembalikan konsep berpikir Islami yang benar yang berasaskan kepada_:
1. Membebaskan akidah dari tipuan-tipuan kejumudan dan yang terkandung di dalamnya berupa khayalan dan syubhat, sebagai perbaikan penggambaran yang benar seorang muslim terhadap keberadaan alam semesta, manusia dan kehidupan, untuk mewujudkan keseimbangan dan keadilan, agar akidah (keyakinan) dapat memberikan pengaruh dalam melahirkan para pejuang, agar dapat melahirkan kembali profil muslim yang berakhlak yang pernah dibangun dan dibina Rasulullah Saw. di Darul Arqam bin Abi Arqam. Kemudian membangun dengan profil-profil ini –baik lelaki maupun wanita- batu bata yang akan menyusun sebuah keluarga yang nantinya mampu melahirkan para pejuang, yang menciptakan sebuah umat yang berdiri dia atas budi pekerti dan akhlak yang mulia sebelum ia berdiri di atas sebuah negara.
2. Menyucikan akal seorang muslim dari pikiran-pikiran pragmentatif terhadap Islam, karena hal itu hanya akan memperbesar perbedaan dalam masalah-masalah furu’ dan parsial, dan meniadakan pola berpikir yang universal terhadap Islam.
3. Menghancurkan kejumudan yang dialami oleh akal akibat ditutupnya pintu ijtihad, yang sebenarnya mematikan kecerdasan untuk menciptakan dan berkontribusi dan akhirnya menjatuhkannya pada lubang taklid buta yang tercela. Ini juga menghalangi umat Islam menikmati solusi-solusi konsep pemikiran dalam Islam terhadap problematika dan permasalahan kontemporer yang jauh dari alam berpikir yang banyak berbenturan dengan ketetapan prinsip-prinsip agama.
Maka untuk mengembalikan konsep berpikir yang baik dan benar, diperlukan sebuah sebuah frame pandangan yang universal terhadap Islam, dan pandangan ini dimiliki oleh Imam Hasan Al Banna-, dan yang dimiliki oleh para pendahulunya, yaitu para pejuang yang mengambil ajaran ini dari konsep yang diajarkan Rasulullah Saw.. Dengan konsep tersebut, mereka kemudian membangun sebuah peradaban, mendirikan sebuah pemerintah, dan merekapun memimpin peradaban di muka bumi.
Ia adalah sebuah konsep yang sempurna dan universal yang mengajak saudara-saudaranya ikut bersama menjadi bagian untuk membangun sebuah jama’ah, yang memberikan darah dan jiwanya untuk menegakkan kalimat Allah di muka bumi, dan membuat panji-panji kejahatan menjadi hina dan tercela, demikianpula yang dilakukan oleh Imam Al Banna. Jama’ah Ikhwanul Muslimin membawa konsep pemahaman ini, dan menyeru kepadanya. Ia teguh menahan akibatnya demi menancapkan nilai tersebut di tengah masyarakat. Telah berapa banyak pejuang yang gugur demi memperjuangkannya? Imam Syahid Hasan Al Banna adalah yang terdepan dalam Jama’ah Ikhwanul Muslimin yang membuktikan pengorbanan tersebut  semoga Allah membalas apa yang telah ia berikan untuk Umat Islam dengan balasan yang sebaik-baiknya. Telah berapa banyak darah yang ditumpahkan? Sudah berapa banyak anak-anak menjadi yatim? Telah berapa banyak wanita yang kehilangan anaknya? Kita menabungnya menjadi kebaikan di akhirat-, Hingga pemahaman benar-benar tertancap kuat dan menjadi sesuatu yang lumrah yang tidak ada perbedaan di dalamnya, kendati dengan banyaknya fitnah dan ujian serta tersebarnya syubhat dan tuduhan-tuduhan palsu dan perbantahan. Apa yang dibawa oleh Imam Hasan Al Banna adalah sebuah pembaharuan, walaupun sebenarnya Imam Syahid hanya memperbaharui sesuatu yang lama yang hampir dilupakan.
Problematika yang dihadapi umat tidaklah sederhana seperti yang diyakini oleh sebagian orang. Apa yang telah merasuki pikiran berupa kemelut, kebingungan dan invasi pemikiran, pada gilirannya akan menghalangi terwujudnya tujuan yang hendak dicapai, dan menghalangi misi yang diemban. Permasalahan ini tidak mungkin disembuhkan dalam waktu sehari semalam, atau dengan penyampaian kuliah dari seorang pakar, atau dengan pelajaran di beberapa tempat dari seorang pemikir muslim, ataupun dengan nasehat-nasehat secara regular dari salah seorang ulama kesohor, atau dengan selebaran-selebaran yang diedarkan kemudian hilang tanpa bekas seiring berakhirnya bacaan, atau dengan buku-buku yang dihapal teks atau naskahnya. Ia sesungguhnya adalah penderitaan yang telah berlangsung lama, yang membutuhkan t
arbiyah dan upaya yang keras, agar kita dapat mewarisi para rijal (pejuang) bukan mewarisi buku saja, karena kita ingin mendirikan agama yang tegak di atasnya negara dan peradaban, serta menyadarkan umat yang akan memimpin dunia.
Sesungguhnya manhaj yang mampu melahirkan para pejuang dan yang mampu memenuhi ikrarnya kepada Allah, memerlukan beberapa hal berikut,
Pemahaman yang benar (Al Fahm Al Shahih), pembentukan yang sangat cermat, keimanan, ketulusan cinta, pengorganisasian yang rapi, agar kita bisa membuat jalinan jama’ah yang di serukan Allah dengan panggilan, “wahai orang-orang yang beriman,” yaitu orang-orang yang senantiasa memiliki hubungan yang baik dengan Allah. Agar mereka menjadi ahli ibadah terlebih dahulu sebelum menjadi pemimpin, maka dengan ibadah mereka akan dihantarkan untuk memimpin dengan sebaik-sebaiknya, hal itu tentunya dilakukakn dengan manhaj yang jelas, amalan yang terus menerus, budi pekerti yang tinggi, napas yang panjang, kesabaran dengan sebaik-sebaiknya, nasehat kebaikan, diskusi yang bijak, dan kesadaran, serta evaluasi yang sangat cermat. Mengapa demikian? Karena manhaj perbaikan apapun yang digunakan untuk keperluan manusia, dan dakwah kebenaran apapun yang ide dasar dan pemahamannya tidak bersandar pada nilai-nilai ini, dan tidak mengacu pada Al Quran dan Sunnah Rasulullah Saw. maka ia adalah dakwah yang rapuh dan akan tercerabut akarnya dari permukaan bumi. Namun jikai ia menyatu dengan sumber gizi, kekuatan dan kehidupannya maka akarnya tertancap kuat dan dahannya menjulang ke langit dan akan memberikan buah di setiap waktu dengan izin Allah.
Imam Hasan Al Banna telah menjelaskan nilai-nilai ini dengan sangat jelas tanpa ada kesamaran dan keraguan, baik dari segi kejelasan ide, kesatuan pandangan dan etika, kesatuan target dan tujuan dan kesatuan visi serta kesamaan sarana prasarana mewujudkannya. Imam Hasan Al Banna mengetahui bahwa masyarakat sangat membutuhkan penjelasan pemahaman untuk merapikan gerakan, dan penjelasan pandangan untuk menyamakan barisan, serta penjelasan ide agar bisa berjalan secara benar dan mewujudkan cita-cita yang diharapkan.
Kita sangat memperhatikan budaya dialog, diskusi dan bertukar pandangan ..
Kami katakan kepada mereka yang menyelesihi kami,
Artinya:
​“Marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu .. “ (Q.S Ali Imran: 65)
Kepada mereka yang mendebat kami, kami katakan,
​Artinya:
​“Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar. “ (Q.S Al Baqarah: 111)
Kepada mereka yang membangkang, kami katakan:
​Artinya:
​“Dan Sesungguhnya kami atau kamu (orang-orang musyrik), pasti berada dalam kebenaran atau dalam kesesatan yang nyata. “ (Q.S Saba: 24)
Karena sesungguhnya syiar setiap da’I yang meyerukan agama Allah adalah,
​Artinya:
​“Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, ..” (Q.S Al Baqarah: 83)
Adapun para penyeru dakwah Islam yang menyelesihi kami, maka kami katakan kepada mereka, “Mari kita saling tolong menolong dalam perkara yang kita sepakati dan saling memaklumi dan memaafkan dalam perkara-perkara yang tidak kita sepakati.” Namun jika mereka mengabaikan seruan itu, maka kami akan katakan, “Semoga keselamatan selalu dilimpahkan kepada kalian dan kami tidak menginginkan apapun kecuali ikatan cinta karena Allah. “
Kajian dalam buku ini *memaparkan pandangan yang jelas dan menyeluruh terhadap manhaj perubahan dan konsep merealisasikan tujuan-tujuannya*. Di dalamnya juga terdapat jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang banyak diutarakan, serta penjelasan permasalahan yang banyak mengandung perbedaan, begitupula perbedaan pikiran. Ini merupakan langkah serius yang dilakukan untuk menjelaskan pandangan dan manhaj dakwah Ikhwanul Muslimin serta tujuan-tujuannya. Ini merupakan tambahan referensi yang ditulis dan diedarkan oleh civitas dakwah Ikhwan, untuk menjelaskan dakwah mereka dan menjawab syubhat-syubhat. penulisnya adalah salah seorang yang dibina dalam barisan dakwah, mengusung dan teguh di atas prinsip-prinsip jama’ah. Dan kita mengagungkan seseorang yang merupakan hak Allah.
Cairo, Ramadan 1426 H/Oktober 2005
 IR. Muhammad Khairat Syathir

Mungkin Anda juga menyukai