Serial Manhaj Ishlah ke-2

Pengetahuan Imam Syahid terhadap kondisi realitas umat yang begitu mendalam, jelas dan terperinci, membuatnya mampu –dengan izin Allah-menciptakan sebuah konsep praktis dengan beberapa fase dan dengan tujuan dan target yang saling berkaitan, serta mengacu kepada langkah-langkah yang ditempuh Rasulullah Saw. ketika memulai dakwah Islam yang pertama dan pondasi negara yang menjadi model dan panutan.
Imam Syahid memiliki kecakapan politik dan elastisitas yang luarbiasa dalam menghadapi krisis dan rencana-rencana jahat, oleh karena itu tidak ada jalan lain bagi para penyeru kebatilan selain membunuh dan melenyapkannya. Mereka lupa bahwa bahwa dakwah yang dipimpinnya akan terus berlanjut, dan sesungguhnya itu adalah dakwah Allah yang akan terus maju dan mendapat kemenangan dengan izin Allah.
Ia (Imam Syahid) –semoga Allah meridhainya-, sangat memelihara salafiyah dakwah, dengan mengikuti sunah dan tidak membuat bid’ah, dengan pemahaman yang benar mendalam terhadap Islam dan sunnah Rasulullah Saw.
 Ia berkal-kali mengulang dan menegaskan hal ini di dalam risalahnya, ia menulis dalam risalahnya ‘Ila Ayyi Syai-in Nad’u an Nâs’ dengan mengatakan, “Wahai kaum, sesungguhnya kami berdakwah kepada kalian dengan Al Quran di tangan kanan dan Sunnah di tangan kiri, dan perbuatan para Salaful Ummah dari umat ini merupakan sumber kekuatan kami, kami mengajak kalian kepada Islam, nilai-nilai Islam, hukum dan petunjuk Islam.”
Dan diantara perkara yang sangat dijaga oleh Imam Syahid Hasan Al Banna dalam membangun jama’ah dan membentuk profil seorang al akh muslim adalah implementasi rukun Tajarrud (menyucikan diri) dan tidak bergantung kepada figuritas dan lembaga, namun seharusnya ikatan seorang al akh yang hakiki dan loyalitas tertingginya hanya kepada Allah -azza wajalla.
 Ketika Imam Syahid menghadiri sebuah acara besar, salah seorang peserta yang hadir berdiri menyambutnya dan mengelukan-elukan beliau –hal ini sebagaimana dilakukan kepada setiap pembesar dan pemimpin politik  namun Hasan Al Banna menolak perlakukan tersebut dan tidak mendiamkannya, ia berkata, “Sesungguhnya hari dimana diserukan nama Hasan Al Banna tidak akan pernah terjadi, seharusnya seruan kita adalah, “Allah ghayatuna (Allah tujuan kami), Al Rasul Dza’imuna (Rasulullah pemimpin kami), Al Quran Dusturuna (Al Quran pedoman kami), Al Jihad Sabiluna (Jihad adalah jalan juang kami), Al Maut fi Sabilillah asma amanina (Mati di jalan Allah adalah Cita-cita kami tertinggi), Allah Maha Besar dan pujian kesempurnaan hanya milik Allah.
 Ia juga menegaskah di dalam risalah ta’lim, “Setiap orang diambil dan ditolak perkataannya, kecuali al Ma’shum Rasulllah Saw., dan setiap yang datang dari salaful Ummah –semoga Allah meridhai mereka-, yang sesuai dengan kitabullah dan sunnah Rasulullah, maka kami akan menerimanya.”
 Sesungguhnya sosok Imam Syahid merupakan contoh dalam hal ini. Sebagian Ikhwan mendebat dan memberikan tanggapan terhadap ide dan pemikiran-pemikirannya, sebagian yang lain berbeda atau bahkan menegurnya.
Ia juga berkata, Sesungguhnya keikhlasan adalah dasar sebuah keberhasilan dan sesungguhnya ditangan Allah-lah semua urusan. Sesungguhnya para pendahulu kalian yang mulia tidak mencapai kemenangan kecuali dengan kekuatan iman mereka, kesucian jiwa dan kebersihan diri, serta keikhlasan hati dan amal mereka dari ikatan apapun atau pikiran. Mereka menjadikan segala sesuatu sesuai dengan nilai-nilai keikhlasan tersebut, sehingga jiwa mereka menyatu dengan akidah, dan akidah mereka menyatu dengan jiwa-jiwa mereka.
Merekalah sesungguhnya gagasan itu, dan gagasan itulah mereka. Jika kalian demikian maka pikirkanlah, sesungguhnya Allah mengilhamkan kepada kalian kecerdasan dan kebenaran, maka amalkanlah dan sesungguhnya Allah membantu kalian dengan kekuatan dan keberhasilan, namun jika diantara kalian ada yang mengidap penyakit hati, yang tujuan hidupnya berpenyakit, yang kehilangan harapan dan keinginan, yang memiliki luka masa lalu, maka keluarkanlah dia dari barisan kalian, karena sesungguhnya ia adalah penghalang turunnya rahmat, yang terkurung tanpa ada taufik (petunjuk).
Sesungguhnya Ikhwan –sebagaimana yang dibina oleh Hasan Al Banna dengan nilai-nilai Islam, tidak mengkultuskan figur seseorang dan tidak menyembah mereka. Mereka mengetahui benar kadar para tokoh dan menempatkan mereka pada tempatnya secara wajar, dan selalu menjaga adab-adab Islam dan petunjuk Rasulullah Saw. dalam melakukan interaksi dengan para pemimpin dan imam mereka.
Imam Syahid Hasan Al Banna –semoga Allah meridhai mereka-, meyakini kebenaran jalan yang dilaluinya* dan kebenaran manhaj, serta dengan pertolongan Allah –azza wajalla- terhadap dakwahya.
Ia melanglang buana menyerukan agama Allah, menyadarkan jutaan manusia dari kelalaian, dan ia diikuti oleh banyak lapisan masyarakat. Ia pernah bertemu dengan seseorang yang bertanya kepadanya, “Apakah engkau akan melihat buah kemenangan dari usaha yang engkau lakukan? Imam Syahid menjawad dengan tenang dan penuh keyakinan, Kemenangan itu tidak akan terlihat di generasiku dan digenerasimu, tapi akan tampak di generasi yang akan datang.
Imam Syahid memberikan perincian yang jelas tentang tugas dan peran seorang muslim serta persiapan yang harus dimiliki, ia mengatakan, Tugas kita adalah memimpin dunia dan memberikan petunjuk kepada manusia seluruhnya kepada aturan Islam yang benar dan ajaran-ajarannya yang tiada ajaran lain yang dapat membahagiakan manusia selain ajaran-ajarannya.

Mungkin Anda juga menyukai