Sholat yang Berkualitas, Kunci Sukses Ramadhan

Bulan Ramadhan adalah bulan yang dirindukan. Kehadirannya selalu dinanti setiap tahun. Bulan ini juga merupakan bulan latihan dan juga bulan peningkatan. Terlihat umat Islam berduyun-duyun memenuhi masjid di awal bulan Ramadhan. Fenomena ini jamak terjadi di seantero nusantara.

Namun, begitu memasuki 10 hari Ramadhan kedua, euforia itu seolah sedikit demi sedikit terkikis. Hal itu terjadi karena ibadah yang dilakukan terutama shalat hanya digenjot masalah kuantitas semata. Maka dari itu, penjiwaan dan kualitas ibadah kurang diberi perhatian. Rasa futur pun muncul karena ibadah hanya menjadi rutinitas tanpa makna.

Bagi seorang aktivis, Ramadhan seharusnya bukan hanya menjadi peningkatan kuantitas ibadah semata. Seorang aktivis harusnya naik level lebih tinggi dari orang awam dengan meningkatkan kualitas ibadah di samping peningkatan kuantitas.

Karena ibadah yang mempunyai kualitas akan berhikmah di dalam kehidupan seorang aktivis. Walaupun hikmah bukanlah tujuan semata kita beribadah, tetapi hal itu juga adalah aspek penting yang perlu diketahui.

Shalat Sebagai Obat Keluh Kesah

Salah satu sifat dasar manusia adalah dikaruniai oleh-Nya sifat suka berkeluh kesah. Jika diberi kekayaan masih merasa kurang dan ingin lebih banyak serta kikir. Jika diberi kesusahan juga mengeluh atas ketidakadilan Rabbnya. Dan Allah pun telah berfirman di dalam surat Al-Ma’arij tentang sifat dasar manusia ini.

إِنَّ الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا,إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا,وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir, Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir” (QS.Al-Maarij : 19-21)

Dalam tafsir Ibnu Katsir dan Al-Qurtubi disebutkan yang dimaksud di dalam ayat itu adalah orang-orang kafir. Orang-orang yang tidak mengenal Allah tentunya tidak pernah terbesit bahwa apa yang mereka dapatkan sejatinya dari Allah. Maka dari itu, sifat dasarnya sebagai manusia muncul karena tidak adanya dienullah di hatinya, yaitu ketika diberi kesenangan dan harta tidak bersyukur serta jika diberi kesusahan atau kesulitan tidak sabar. Penjelasan lebih detail dijelaskan pada dua ayat setelahnya.

“Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir”

Sisi yang menarik adalah jalan keluar yang diberikan Allah pada manusia agar terhindar dari sifat dasar manusia itu. Sekaligus hal itu menggelitik kita sebagai umat Islam seharusnya tidak lagi memiliki sifat itu karena kita telah mengenal Allah dan beribadah hanya pada-Nya. Kita sebagai umat Islam punya tempat kembali jika menghadapi masalah, yaitu Allah.

Dua ayat setelahnya disebutkan

إِلا الْمُصَلِّينَ,الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلاتِهِمْ دَائِمُونَ

“kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya” (QS.Al-Maarij:22-23)

Jadi,  mengapa para ulama mengatakan  sifat keluh kesah itu adalah sifat orang kafir  karena cara pertama agar seseorang terhidar dari itu adalah dengan shalat. Kita tahu adalah shalat adalah batas seseorang dikatakan sebagai muslim atau kafir.

بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاَةِ

“(Pembatas) antara seorang muslim dan kesyirikan serta kekufuran adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim no. 257)

Maka, di atas telah sedikit kita singgung bahwa seharusnya kita sebagai seorang muslim apalagi aktivis tidaklah berkeluh kesah dalam hidup. Karena keluh kesah itu adalah sifat seseorang yang tidak mengenal Allah dalam hidupnya. Allah adalah sebaik-baik tempat kembali dan mengadu jika tertimpa masalah. Wajar jika orang kafir suka berkeluh kesah karena hidupnya hanya untuk menghamba pada dunia dan tidak mengenal tempat kembali yang hakiki, Allah Subhanahu wat taala.

Shalat Berkualitas

Bukan sembarang shalat yang bisa menjauhkan seseorang dari keluh kesah. Ayat setelahnya menyebutkan

الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلاتِهِمْ دَائِمُونَ

“yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya” (QS.Al-Maarij:23)

Orang-orang yang akan dijauhkan dari sifat keluh kesah adalah orang yang “daim” dalam shalatnya. Apa makna “daim” menurut para ulama tafsir? Inilah inti dari pembahasan bahwa shalat hanya sekadar shalat untuk menggugurkan kewajiban atau hanya segi kuantitasnya saja tidak akan berhikmah dalam diri seseorang.

Para ulama berbeda-beda dalam menafsirkan makna kata ini. Namun, jika kita menggabungkannya ternyata menyimpan makna yang besar dan bagus jika diterapkan di dalam shalat-shalat kita.

Ibnu Mas’ud dan Ibrahim An-Nakhai berpendapat bahwa makna kata daim adalah memelihara waktu shalat dan kewajiban-kewajiban di dalamnya. Uqbah bin Amir mengatakan makna kata itu adalah rasa tenang dan khusyu’. Ada juga yang berpendapat bahwa kata itu bermakna tuma’ninah, kemudian yang terakhir berpendapat bahwa makna kata itu adalah amalan yang dilakukan secara terus menerus.

Jika kita menilik satu per satu pendapat ulama mengenai makna kata daim ternyata mengacu pada kualitas shalat seseorang. Shalat yang dapat menjauhkan seseorang dari sifat keluh kesah adalah shalat yang

  1. Dilakukan tepat waktu dengan melakukan kewajiban-kewajiban di dalamnya
  2. Tenang dan khusyu’
  3. Tuma’ninah
  4. Dilakukan terus menerus atau istiqomah

Kembali pada pembahasan awal, mengapa banyak umat Islam yang berguguran di tengah bulan Ramadhan karena kurangnya kualitas shalat mereka. Mengapa banyak umat Islam yang masih berkeluh kesah karena shalatnya kurang berkualitas.

Ramadhan ini adalah waktu yang tepat untuk memperbaiki itu semua. Tingkatkan kualitas ibadah agar kelak peningkatan itu terus berlanjut hingga di luar Ramadhan. Tingkatkan kualitas ibadah agar terjauh dari sifat futur yang kerap menghinggapi para aktivis.

https://www.kiblat.net/2018/05/30/sholat-yang-berkualitas-kunci-sukses-ramadhan/

Mungkin Anda juga menyukai