Ibnu Abi Duad, Potret Ulama Su’ Zaman Imam Ahmad

Di antara manusia ada menjadi pembuka jalan kebaikan dan ada pula yang menjadi gerbang keburukan. Adalah Ahmad bin Farj bin Jarir bin Malik, atau yang lebih dikenal dengan Ibnu Abi Duad. Ia merupakan sosok yang telah membuka gerbang keburukan untuk para penguasa zaman Imam Ahmad bin Hambal. Ia mendapatkan sebuah kedudukan tinggi di sisi tiga khalifah Abbasiyah; Al-Ma‘mun, Al-Mu‘tashim, dan Al-Watsiq.
Disebutkan bahwa Ahmad bin Abi Duad merupakan salah satu dedengkot kelompok Mu‘tazilah. Saat itu, mereka sangat antusias untuk mempengaruhi para khalifah yang berkuasa. Ia menyebutkan bahwa Al-Qur‘an adalah bagian dari makhluk Allah bukan
Kalamullah. Seruan ini pun diimani oleh khalifah. Bahkan, ia memaksa rakyatnya untuk menerima pendapat tersebut.
Ketika itu Ibnu Abi Duad melihat bahwa musuh besarnya adalah Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Agar tersinggkir dari kepercayaan masyarakat, ia menuduh Imam Ahmad orang sesat lagi menyesatkan.” Ia menghasut para khalifah agar menyiksa beliau.
Jadi, setiap siksaan yang dialami Imam Ahmad, tidak lepas dari peran orang hina tersebut. Hingga terlafaz lah sebuah doa dari lisan Imam Ahmad:
“Ya Allah sesungguhnya dia telah menzalimiku, dan tidak ada penolong bagiku kecuali Engkau. Ya Allah tahanlah dia pada kulitnya sendiri dan siksalah dia.”
Ibnu Abi Duad bisa merasakan kenikmatan hidup pada masa pemerintahan tiga khalifah Abbasiyah, khususnya pada masa pemerintahan Al-Mu‘tashim dan Al-Watsiq. Benar, Allah Ta’ala memberi tangguh waktu bagi orang yang zalim. Hingga jika Dia mengadzabnya, ia tidak bisa meloloskan diri.
Akhirnya, Ibnu Abi Duad mengalami lumpuh. Tubuhnya terbagi menjadi dua bagian. Satu bagian yang jika digergaji atau digunting, ia tidak merasakannya. Sebab, tubuh tersebut telah mati dan lumpuh. Dan satu bagian lagi jika ada seekor lalat yang hinggap, hal itu akan sangat menyakitkannya. Sehingga ia selalu berada dalam adzab tersebut.
Di samping itu, Allah juga telah memberikan kuasa kepada khalifah Al-Mutawakil untuk menundukkan Ibnu Abi Duad. Seluruh hartanya disita hingga ia menjadi fakir dan membuatnya mengemis kepada menusia. Para pendukung yang ada di sekitarnya, yang dahulu selalu membantu kezalimannya, pun bercerai-berai.
Di sisi lain, sang khalifah juga membebaskan Imam Ahmad, memuliakan dan menghormati beliau. Sehingga, Allah memberikan balasan kepadanya dengan sebaik-baik balasan sebagai ganti kebaikannya terhadap Islam dan kaum muslimin.
Tersisalah diri Ibnu Abi Duad merasakan perbuatannya dalam keadaan terlulai di atas ranjang kematian dan mengalami penderitaan, kesedihan, kesempitan, serta kegembiraan musuh-musuhnya atas musibah yang menimpanya.
Abdul Aziz bin Yahya Al-Kinany, salah satu murid Imam Asy-Syafi‘i, pernah menemuinya dan berkata, “ Wahai musuh Allah, demi Allah, kedatanganku bukanlah untuk menjengukmu, melainkan untuk memuji Zat Yang Maha Tunggal lagi Mahakuasa yang telah memenjarankanmu di dalam kulitmu sendiri, yang merupakan hukuman yang lebih menyakitkan bagi dirimu daripada semua penjara.” Beliau kemudian menadahkan kedua tangannya seraya berdoa, “Ya Allah, tambahilah sakitnya dan janganlah Engkau kurangi.” (Siyaru A‘lâmin Nubalâ‘ XI)
Maka, sakitnya pun semakin bertambah hingga akhirnya dia mati pada bulan Muharram tahun 240 Hijriyah.
Dalam kitab Al-Bidayah Wan Nihayah, Ibnu Katsir menyebutkan, seseorang berkata, “Pada suatu malam aku bermimpi Ibnu Abi Duad mati. Seakan-akan terdengar suara nyala api dengan suara yang begitu keras, kemudian keluar darinya kobaran api. Aku pun bertanya, ’Apa ini?’ Ada yang menjawab, “ Ini adalah balasan bagi Ibnu Abi Duad.”
Fitnah Ibnu Abi Duad merupakan akar dari fitnah-fitnah sesudahnya.” Semoga Allah melindungi kita dari fitnah-fitnah tersebut.
Sumber : Kiblat.net
Penulis : Fakhruddin
Sumber : Buku “Hati-hati Doa Orang Terzalimi” karya Saad bin Said Al Hajuri, Penerbit Aqwam Solo.

Mungkin Anda juga menyukai