Penerapan Fikih Istidh’af di Masa Kenabian

Pada tulisan sebelumnya sudah disebutkan isyarat-isyarat syar’i yang mendukung kajian fikih Istidh’af. Isyarat-isyarat ini didukung dengan praktek-praktek yang menunjukkan bahwa kondisi istidh’af, menuntut adanya suatu pengecualian dari hukum yang umum berlaku. Beberapa hukum pengecualian ini juga bisa dilihat dari sejarah Nabi Muhammad SAW.

Pertama : Mendapat Pengecualian Untuk Tidak Hijrah

Allah mewajibkan bagi umat Islam di Mekkah untuk hijrah ke Madinah. Barangsiapa yang enggan maka telah menzalimi dirinya sendiri, kecuali orang-orang yang lemah. Allah Ta’ala berfirman :

Sesungguhnya orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzalimi diri sendiri. Mereka (para malaikat) bertanya : “Bagaimana kamu ini?” mereka menjawab, “Kami orang-orang yang tertindas di bumi bumi (Mekkah). Mereka (para malaikat) bertanya, “Bukankah bumi Allah itu luas dan kalian bisa berpindah di bumi itu? Maka orang-orang itu tempatnya di Jahannam dan itu seburuk-buruk tempat kembali.” (97) Kecuali mereka yang lemah baik laki-laki atau wanita atau pun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah)(98) Mereka itu, mudah-mudahan Allah memaafkannya. Dan adalah Allah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun.” (QS. An-Nisa : 97-99)

Al-Baidhawi berkata, “Ayat ini turun terkait dengan penduduk Mekkah yang masuk Islam, namun tidak melakukan hijrah, meskipun hukum hijrah (saat itu) wajib. Mereka memilki uzur dari berhijrah karena kelemahan dan ketidakmampuan mereka untuk hijrah atau ketidakmampuan untuk izharuddin (menampakkan agama) dan menegakkan kalimat Allah….. Ayat tersebut merupakan dalil wajibnya hijrah bagi seseorang yang tidak bisa menegakkan agamanya, kecuali bagi orang-orang yang lemah (untuk berangkat hijrah).” (Tafsir al-Baidhawi, 2/92)

Allah memberikan izin kepada orang-orang yang lemah untuk tidak hijrah ke negeri Islam. Karena ketidak-mampuan mereka melakukan hijrah, atau jika mereka berangkat hijrah justru akan membahayakan diri mereka. Mereka diperbolehkan tetap tinggal di negeri kafir dengan melakukan syari’at Islam semampunya.

Kedua : Perbedaan Hukum antara Negara Islam dan Negara Kafir

Allah telah menjelaskan bahwa orang yang tinggal di negeri Islam hukumnya berbeda dengan orang yang tinggal di negara kafir. Hal ini karena pertimbangan kondisi. Di antaranya adalah hukum diyat pada qotlul khoto’(Diyat adalah harta yang dibayarkan orang yang membunuh kepada ahli waris korban yang dibunuh secara tidak sengaja)

Jika qotlul khotho’ dilakukan di negara Islam, maka bagi si pembunuh wajib membebaskan budak dan membayar kaffarah. Namun, jika korban salah bunuh itu orang muslim yang tinggal di negeri kafir, maka si pembunuh hanya diwajibkan membayar kaffarah tanpa diyat. Allah SWT berfirman :

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ أَن يَقْتُلَ مُؤْمِنًا إِلَّا خَطَأً ۚ وَمَن قَتَلَ مُؤْمِنًا خَطَأً فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ وَدِيَةٌ مُّسَلَّمَةٌ إِلَىٰ أَهْلِهِ إِلَّا أَن يَصَّدَّقُوا ۚ فَإِن كَانَ مِن قَوْمٍ عَدُوٍّ لَّكُمْ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَتَحْرِيرُ رَقَبَةٍ مُّؤْمِنَةٍ ۖ

“Dan tidak patut bagi seseorang yang beriman membunuh seorang yang beriman (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja). Barang siapa membunuh seorang yang beriman karena tersalah (tidak sengaja) hendaklah ia memerdekakan budak (hamba sahaya) yang beriman serta membayar tebusan yang diserahkan kepada keluarganya korban (si terbunuh) itu, kecuali jika mereka (keluarga terbunuh/korban) membebaskan pembayaran.Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu (negeri kafir), padahal ia mukmin, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba sahaya yang mukmin (tanpa membayar diyat).” (QS. An-Nisa’ : 92)

Ibnu Abbas berkata :

فإن كان في أهل الحرب وهو مؤمن، فقتله خطأ، فعلى قاتله أن يكفّر بتحرير رقبة مؤمنة، أو صيام شهرين متتابعين، ولا دية عليه

Jika dia (tinggal) di negeri kafir padahal dia mukmin, kemudian dia dibunuh dengan tidak sengaja, maka pembunuhnya cukup membayar kafarat dengan membebaskan budak atau puasa dua bulan berturut-turut, tanpa wajib diyat.” (Tafsir ath-Thabari, 9/40)

Contoh yang lain adalah masalah perlindungan bagi mereka yang tinggal di negeri kafir. Allah berfirman :

وَالَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يُهَاجِرُوا مَا لَكُم مِّن وَلايَتِهِم مِّن شَيْءٍ حَتَّى يُهَاجِرُوا وَإنِ اسْتَنصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ

“Dan (terhadap) orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban sedikitpun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi) jika mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan.” (Qs. Al-Anfal : 72)

Imam Asy-Syaukani berkata :

مَا لَكَمَ مِنْ نُصْرَتِهِمْ وَإِعَانَتِهِمْ، أَوْ مِنْ مِيرَاثِهِمْ، وَلَوْ كَانُوا مِنْ قَرَابَاتِكُمْ لِعَدَمِ وُقُوعِ الْهِجْرَةِ مِنْهُمْ حَتَّى يُهاجِرُوا فَيَكُونُ لَهُمْ مَا كَانَ لِلطَّائِفَةِ الْأُولَى الْجَامِعِينَ بَيْنَ الْإِيمَانِ وَالْهِجْرَةِ وَإِنِ اسْتَنْصَرُوكُمْ أَيْ: هَؤُلَاءِ الَّذِينَ آمَنُوا، وَلَمْ يُهَاجِرُوا، إِذَا طَلَبُوا مِنْكُمُ النُّصْرَةَ لَهُمْ عَلَى الْمُشْرِكِينَ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ أَيْ: فَوَاجِبٌ عَلَيْكُمُ النَّصْرُ

Kalian tidak diwajibkan membantu dan menolong mereka, atau mewarisi harta mereka, walaupun mereka adalah kerabat kalian, karena mereka tidak hijrah kecuali mereka berhijrah. (jika mereka telah hijrah) maka mereka memiliki hak sebagaimana hak kelompok pertama, yang terkumpul pada diri mereka iman dan hijrah. ‘Jika mereka meminta tolong’, yaitu mereka yang beriman, ‘namun belum berhijrah’. Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian (dalam urusan agama) untuk memerangi orang musyrik, maka kalian wajib menolong mereka.” (Asy-Syaukani, Fathul Qadir, 2/375)

Contoh lainnya adalah apa dilakukan oleh Khabab bin Al-Arat yang tetap membuat pedang untuk orang musyrik Mekkah. Padahal, pedang itu mereka pakai untuk memerangi umat Islam. Apa yang dilakukan oleh Khabab bin Al-Art ditolerir karena kondisi istidh’af. Perbuatan yang sama, bisa saja memiliki hukum yang berbeda jika dilakukan ketika kondisi tamkin. (Sirah Ibnu Hisyam, 1/357)

Ketiga, Mengucapkan Kalimat Kufur dalam Keadaan Terpaksa

Allah Ta’ala mengizinkan bagi seorang yang lemah untuk mengucapkan kalimat kufur saat terpaksa. Allah berfirman :

مَن كَفَرَ بِاللَّهِ مِنْ بَعْدِ إيمَانِهِ إلَّا مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإيمَانِ وَلَكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam keimanan (dia tidak berdosa), akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (QS. An-Nahl: 106)

Ayat ini turun berkenaan dengan shahabat Ammar bin Yasir. Ibnu Abbas berkata :

وأما عمار فأعطاهم ما أرادوا بلسانه مكرهًا، فشكا ذلك إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم، فقال له رسول الله صلى الله عليه وسلم: كيف تجد قلبك؟ قال: مطمئن بالإيمان، فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: فإن عادوا فعد

Sedangkan Ammar (bin Yasir) menuruti permintaan orang-orang musyrik dengan lisannya (mengucapkan kalimat kufur) karena terpaksa, kemudian mengadukan perihal tersebut pada Rasulullah. Beliau bertanya, ‘Bagaimana keadaan hatimu?’ ia menjawab, ‘Tetap dalam keimanan.’ Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika mereka memintamu kembali (untuk mengucapkan kalimat itu) maka lakukanlah.” (Tafsir al-Qurthubi, 10/180)

Sahabat Ammar bin Yasir dalam kondisi lemah, disiksa oleh orang-orang musyrik di tengah terik matahari. Ia melihat sendiri bapaknya dibunuh, bahkan ibunya ditusuk kemaluannya dengan tombak hingga wafat. Orang-orang musyrik memaksa Ammar untuk mengucapkan kalimat kufur, maka ia mengucapkannya. Hal ini ia lakukan untuk menyelamatkan dirinya yang dalam kondisi lemah dan terpaksa. Hingga akhirnya Allah dan Rasulullah mengizinkannya melakukan hal itu dalam kondisi terpaksa.

Hukum-hukum di atas, menunjukkan adanya perlakuan khusus ketika istidh’af. Perlakuan yang keluar dari hukum umum. Pengecualian dari kaidah utama. Adanya hukum-hukum pengecualian dari kondisi-kondisi di atas, semakian menguatkan bahwa kondisi istidh’af seringkali menuntut perbedaan hukum.

Akan tetapi yang perlu dicatat, jika terjadi istidh’af di suatu masa pasca zaman turunnya wahyu, maka fikih istidh’af haruslah dikaji dan dihasilkan melalui proses ijtihad ulama yang mumpuni di bidangnya dan mengetahui realitas dan tingkatan istidh’af itu sendiri. Wallahu a’lam bissowab.

 

Sumber : Kiblat.net

Mungkin Anda juga menyukai