Ketika Ruh Berpisah Dengan Jasad

Suatu ketika Rasulullah mendatangi rumah istri beliau al Humairah Aisyah ra. Melihat kedatangan beliau, Aisyah yg sedang duduk bersila ingin bangkit menyambut,  “Duduklah saja pada tempatmu, wahai yg kemerah – merahan  tidak perlu engkau berdiri”.
Nabi menghampiri Aisyah dan kemudian berbaring dengan berbantalkan pangkuannya, tampak sekali kemanjaan dan kasih sayang beliau kepadanya.
Sepertinya pada hari itu Rasulullah sangat lelah sehingga tidak lama berselang beliau telah tertidur.
Aisyah memandangi wajah beliau dengan kasih sayang dan kekaguman. Tanpa disadari jari jemarinya mengurai jenggot Rasulullah dan Aisyah menemukan sembilanbelas rambut jenggot yg telah memutih (beruban), tersirat dalam hatinya, “Sesungguhnya beliau akan keluar dari dunia (meninggal) sebelum aku, dan tinggallah umat Islam dalam keadaan tanpa nabi”.
Merasakan kenyataan seperti itu, Aisyah menangis, air matanya mengalir ke pipi dan menetes jatuh mengenai wajah Rasulullah sehingga beliau terbangun.  “Apa yg membuatmu menangis, wahai Ummul Mukminin”.
Aisyah menceritakan perasaan sedih yg menghantui dirinya, dan Nabi hanya tersenyum mendengarnya. Beliau bersabda,
“Wahai Aisyah, keadaan apakah yg sangat menyusahkan bagi seseorang (yakni bagi ruhnya) ketika ia menjadi mayat ?.”
Aisyah berkata, “Katakanlah padaku, ya Rasulullah”.
Beliau berkata, “Engkau saja yg mengatakannya dahulu”.
Aisyah sejenak berfikir, kemudian ia berkata, “Tidak ada yg menyusahkan atas diri mayit kecuali ketika ia diusung ke luar rumah menuju kuburnya, anak² yg ditinggalkannya akan berduka dan berkata: Wahai ayah, wahai ibu !. Begitu juga orang tuanya akan berkata : Wahai anakku.
Nabi SAW bersabda, “Hal itu memang terasa akan pedih, tetapi ada yg lebih pedih daripada itu”.
Aisyah berkata lagi, “Tidak ada yg lebih berat bagi mayit kecuali ketika ia dimasukkan ke dalam liang lahad dan ia diurug di bawah tanah, anak dan orang tuanya, kerabat dan kekasihnya akan meninggalkannya pulang. Mereka membiarkannya sendirian beserta amal perbuatannya, menyerahkan urusannya kepada Allah. Kemudian setelah itu datanglah malaikat Munkar dan Nakir ke dalam kuburnya”
Beliau bersabda lagi, “Apa lagi yg lebih berat dari apa yg engkau katakan itu?”
Akhirnya Aisyah menjawab,
“Allah dan Rasul-Nya yg lebih mengetahui”.
Maka Nabi bersabda, “Hai Aisyah, sesungguhnya saat yg paling berat (paling menyedihkan) bagi mayat adalah ketika tukang memandikan masuk ke dalam rumahnya untuk memandikan mayatnya….”.
Kemudian beliau menjelaskan lebih lanjut, bahwa ketika tukang memandikan itu melepas perhiasan dari tubuhnya, melepas pakaian dari badannya, melepaskan sorban para syaikh dan fuqafa dari kepalanya, ketika itulah sang ruh berseru saat melihat tubuhnya yg telanjang, seruan yg bisa didengarkan oleh seluruh mahluk kecuali jin dan manusia,
“Wahai tukang memandikan, demi Allah aku memohon kepadamu, agar engkau melepaskan pakaianku (dan lain-lainnya) dengan pelan², karena sesungguhnya saat ini aku tengah beristirahat dari sakitnya dikeluarkannya nyawaku oleh malaikat maut”.
Ketika tukang memandikan menuangkan air ke mayatnya, sang ruh berteriak keras dengan teriakan yg didengar oleh semua mahluk, kecuali jin dan manusia, “Hai tukang memandikan, demi Allah, janganlah engkau menuangkan air yg panas, jangan pula engkau tuangkan air yg terlalu dingin, sesungguhnya jasadku telah terbakar saat dicabutnya nyawaku”.
Ketika tukang memandikan mulai menggosok tubuhnya, lagi² sang ruh berteriak, “Wahai tukang memandikan, demi Allah, janganlah memegang tubuhku terlalu keras, sungguh jasadku telah terluka sebab keluarnya nyawaku”.
Ketika selesai memandikan dan jasadnya diletakkan pada kain kafan, dan mulai diikat di bawah kakinya, sang ruh berseru lagi, “Demi Allah wahai tukang memandikan, janganlah engkau ikat terlalu erat pada kepalaku, agar masih terlihat wajah² keluargaku, anak²ku, dan kerabat²ku lainnya. Karena saat ini terakhir kali aku bisa melihat mereka, aku tidak akan melihatnya lagi hingga hari kiamat tiba”.
Ketika dikeluarkan dari rumahnya dan diletakkan di dalam keranda, sang ruh berseru lagi, “Demi Allah, wahai para pengantarku, janganlah tergesa-gesa membawaku pergi sehingga aku berpamitan kepada rumahku, keluargaku, kerabatku, dan hartaku. Aku tinggalkan istriku menjadi janda, anak²ku menjadi yatim, karena itu janganlah kalian menyakiti mereka. Biarkanlah aku sesaat untuk mendengarkan suara keluargaku, anakku, dan kerabatku, karena aku akan berpisah hingga saat kiamat tiba….!”
Ketika kerandanya dipikul dan keluar tiga langkah dari rumahnya, lagi² sang ruh berseru, “Hai para kekasihku, saudar²aku dan anak²ku, janganlah kalian terbujuk oleh dunia sebagaimana dunia telah memperdaya aku!! Janganlah kalian dipermainkan oleh jaman sebagaimana ia telah mempermainkan aku!! Ambillah ibarat (hikmah) dariku !. Sesungguhnya aku meninggalkan untuk ahli warisku apa yg aku kumpulkan, dan aku tidak membawa (manfaat) apapun dari dunia (harta) yg kutinggalkan, bahkan Allah akan menghisabku. Engkau bersenang-senang dengannya (harta peninggalanku itu) dan kalian tidak mendoakan aku!!”
Sungguh nasehat yg sangat berharga.
Sayangnya, semua seruan dan teriakan ruh tersebut yg bisa didengar oleh seluruh mahluk, ternyata jin dan manusia tidak bisa mendengarnya. Padahal justru dua jenis mahluk itu yg sebenarnya bisa memperoleh banyak manfaat dan pengajaran jika saja bisa mendengar dan memahami seruan sang ruh.
Ketika jenazahnya dishalatkan dan sebagian orang lainnya meninggalkan masjid atau musholla, sang ruh berseru lagi,
“Demi Allah, wahai saudara²ku, aku tahu bahwa orang mati akan dilupakan oleh orang² yg masih hidup, akan tetapi janganlah kalian cepat² pulang sebelum kalian melihat tempat tinggalku. Sesungguhnya aku tahu bahwa wajah mayat itu lebih dingin daripada air yg sangat dingin bagi orang² yg masih hidup, tetapi janganlah kalian terlalu cepat pulang meninggalkan aku sendirian!!”
Ketika jenazahnya diletakkan di sisi kuburnya, dan kemudian diturunkan ke liang lahad, sang ruh berseru untuk terakhir kalinya,
“Demi Allah, wahai saudara²ku dan para pengantarku, sesungguhnya aku mendoakan kalian semua tetapi mengapa kalian tidak mau mendoakan aku? Wahai ahli warisku, tidaklah aku kumpulkan harta dunia kecuali aku tinggalkan untuk kalian, maka ingatlah kalian kepadaku dan berbuatlah kebaikan. Setelah aku mengajarkan kalian membaca al Qur’an dan tata krama (adab), hendaklah kalian jangan lupa mendoakan aku !”.
لا تسبوا الْأموات فإنهم قد أفضوا إلى ما قدموا
“Janganlah mencaci maki orang yg telah meninggal dunia, sebab mereka telah menerima balasan terhadap apa yg mereka perbuat.”
Marilah senantiasa beristighfar memohon ampun atas segala dosa dan khilaf kepada Allah azza wa jalla..
استغفر الله العظيم واتوب اليك..  اللهم هون علينا في سكرات الموت.. امين
(Hr Bukhari).
Sirah Nabawiyyah.

Mungkin Anda juga menyukai