Mimbar Jum’at Hasan Al Banna

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (Al Jumu’ah: 9)

Dakwah Islam berpijak di atas dasar iman kepada Allah, amal shalih, dan persaudaraan yang mulia di antara manusia. Pagar bagi semua itu adalah keshalihan pribadi dan konsistensi diri diatas manhaj-manhaj kebaikan dan kebenaran.

Itulah prinsip-prinsip yang telah ditetapkan oleh agama-agama terdahulu, dan dibawa oleh syariat-syariatnya semenjak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Allah berfirman,

“Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa Yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang-orang musyrik agama yang kamu seru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada (agama)-Nya orang yang kembali (kepada-Nya).”(Asy Syura’: 13)

Dalam mengkokohkan masa depan tersebut dalam jiwa dan menancapakannya dalam hati, Islam menyandarkan pada dakwah yang tekun, ucapan yang baik, argumen yang jelas, dan bukti yang terang.

“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri?” (Fushshilat: 33)

“Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (An Nahl: 125)

Demikianlah kita melihat bahwa materi dakwah diambil dari Al Quran dalam berbagai surat dan ayat pada tempat yang berbeda-beda. Hal ini mengisyaratkan pengaruh dan kedudukan yang mulia.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada Setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.”(Ibrahim: 24-25)

Agama Islam yang hanif ingin mengingatkan umat Islam akan tujuan dan sarana dalam bentuk perbuatan nyata yang dapat diperhatikan kepada mereka setiap minggunya. Oleh karena itu, Islam memilih hari Jum’at sebagai hari terakhir diantara hari-hari dunia, dan mengajak manusia pada hari itu sebagai ajakan yang wajib untuk menuju rumah-rumah Allah.

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”(Al Jumu’ah:9)

Mereka duduk didalam masjid-masjid dengan mempersiapkan diri untuk sebuah majelis dengan pakaian yang bersih, wewangian, ketenangan, kekhusyu’an, perhiasan, dan disiplin; dibawah naungan persamaan yang menakjubkan. Tidak ada perbedaan antara orang tua dan muda, antara orang kaya dan orang miskin. Semua sama dihadapan Allah. Saling mengasihi antar sesama, baik yang datang terlebih dahulu maupun yang belakangan. Itu semua merupakan nilai-nilai social yang menjadi tiang persaudaraan yang sebenarnya. Para filasuf dan orang-orang shalih membahasa persaudaraan itu dengan berbagai pendapat dan teori, sedangkan para Rasul dan Nabi mempraktekkannya dengan amal dan ibadah, serta meralisasikan secara nyata di berbagai ruang ibadah di hadapan Allah Tuhan semesta Alam.

Manusia duduk sekali seminggu untuk mendengarkan ayat-ayat Al Quran dibacakan. Untuk menyimak nasihat yang diberikan dan peringatan serta pelajaran yang dituturkan. Setelah itu, mereka berdiri pada shaf shalat dengan penuh keimanan dan kekusyu’an. Menghadap kiblat dan arah yang satu untuk tujuan yang satu, yaitu mendekatkan diri kepada Allah, Tuhan Pencipta makhluk yang Memiliki segala kerajaan.”Saat seseorang hamba paling dekat kepada Tuhannya adalah saat ia sujud.”

Begitulah. Manusia mengingat Thuan mereka sehingga keimanan menjadi kuat, dan mereka menyibukan diri dengan amla shalih yang terbaik, yaitu shalat. Mereka berkumpul di satu tempat selama satu jam untuk lebih memperkuat persaudaraan. Semua itu merupakan kebaikan diri, jiwa, kehidupan batin, dan hati nurani mereka. Khatib berulang-ulang membacakan ayat-ayat Allah agar hikmah segala ayat itu tertanam dalam jiwa mereka. Adakah kamu melihat system yang lebih cermat, lebih indah, lebih cantik, dan lebih memesona selain itu? Mahabenar Allah dengan segala firmannnya.

“Maka Apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran? kalau kiranya Al Quran itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.”(An Nisa’:82)

Siapa imamnya? Siapakah orang yang memimpin umat di mihrab, menerangkan hadits dan Al Quran, mengimami shalat dan mengajak mereka melakukan amal-amal shalih? Apakah ia merupakan representasi dari kekuasaan keagamaan dan pelayanan ruhani?

Tidak. Tidak ada dua kekuasaan. Masyarakat Islam tidak boleh berselisih menjadi dua arah. Akan tetapi, masyarakat hanya mempunyai satu pemimpin, tidak boleh lebih. Pemimpin itu adalah negara. Negara yang melayani segala permasalahan masyarakat, baik permasalahan dunia maupun agama. Mengarahkan semua masyarakat kearah kebaijikan, menegakan hukum, menjaga keamanan, dan kedisiplinan. Menjadi imam ditempat ibadah, mengajar di sekolah, dan menegakan keadilan dengan seadil-adilnya.

“Mereka Itulah orang yang dikutuki Allah. Barangsiapa yang dikutuki Allah, niscaya kamu sekali-kali tidak akan memperoleh penolong baginya.”(An Nisa’:52)

Renungkanlah, bagaimana para ulama fiqih memberikan persyaratan menjadi imam agar shalat memenuhi segala persyaratan dan rukun-rukunnya.

Wahai para Imam, embanlah tugas dengan baik, bimbinglah jiwa-jiwa ini kepada kebajikan dan arahkan ia kepada kebenaran, akhlak mulia, keutamaan, dan cahaya, karena kamu sekalian adalah penjamin.

فَالإِمَامُ ضَا مِنٌ وَالْمُؤَذِّنُ مُؤْ تَمَنٌ

“Imam adalah penjamin, sedangkan muadzin adalah pemegang amanah.”

Wahai orang-orang yang melakukan shalat! Bukalah telingamu, hadirkan hatimu, renungkan segala nasihat mingguan dan janganlah kamu menjadikan nasihat-nasihat itu sekedar rutinitas.

فَالْعِلْمُ عِلْمَانِ ׃ عِلْمٌ فِي الْقَلْبِ فَذَلِكَ الْعِلْمُ النَافِعُ، وَعِلْمٌ عَلَى اللِّسَنِ، فَذَلِكَ حُجَّةُ اللَّهِ عَلَى ابْنِ آدَمَ

“Ilmu itu terbagi dua: pertama, ilmu yang ada didalam hati, dan itulah ilmu yang dinamakan ilmu yang bermanfaat; dan kedua, ilmu lisan, dan itu menjadi argumentasi Allah yang memberatkan manusia.”

Wahai orang-orang yang tidak melakukan shalat, mengapa kamu meninggalkannya? Bukankah shalat itu latihan bagi ruhmu, cahaya bagi hatimu, ketenangan bagi jiwamu, penghubung antara dirimu dan Tuhanmu, amal shalih di dunia, dan pahala di akhirat? Bukanlah shalat itu tidak melelahkan dan tidak pula membebani? Oleh karena itu wahai saudaraku, kerjakanlah shalat dengan segera dan jawablah pangilan Allah!

“Dan orang yang tidak menerima (seruan) orang yang menyeru kepada Allah Maka Dia tidak akan melepaskan diri dari azab Allah di muka bumi dan tidak ada baginya pelindung selain Allah. mereka itu dalam kesesatan yang nyata”.(Al Ahqaf:32)

 

sumber : http://www.hasanalbanna.com/mimbar-jum%E2%80%99at/

Mungkin Anda juga menyukai