Menanti Kematangan

Oleh : Muhammad Anis Matta, Lc

Ada dua kutub yang bergerak diam-diam, merangkak perlahan untuk saling bertemu, pada suatu masa tertentu, di tempat tertentu, dalam suasana dan kondisi tertentu. Itulah ledakan kepahlawanan. Kutub pertama bergerak dari dalam diri,
di mana seorang pahlawan mengalami proses pematangan internal. Kutub kedua bergerak dari luar, dimana situasi dan kondisi lingkungan mengalami proses pematangan eksternal. Ledakan kepahlawanan terjadi ketika kedua kutub itu mencapai kematangannya.
Menanti saat-saat kematangan seorang pahlawan sama seperti menanti kematangan buah di pohon. Jika Anda memetiknya sebelum waktunya, buah itu tidak akan terlalu lezat. Namun, jika anda memetiknya tepat pada waktu kematangannya, maka anda akan merasakan kelezatan yang tiada tara.
Sultan Murad telah mengangkat puteranya, Muhammad, yang kemudian dikenal dengan nama Muhammad Al-Fatih Murad, sebagai raja ketika ia masih berusia 16 tahun. Saat itu, kerajaan mengalami goncangan instabilitas yang hebat di dalam negeri.
Pemuda yang berbakat itu ternyata belum saatnya memimpin. Akhirnya, sang ayah mengambil alih kepemimpinan
dari sang putera. Akan tetapi, proses pematangan ternyata hanya membutuhkan waktu beberapa tahun lamanya. Di atas usia 20 tahun, Muhammad Al-Fatih kembali memimpin. Tepat ketika ia berusia 23 tahun, sang pahlawan telah mewujudkan mimpi 8 abad umat Islam; mimpi membebaskan Konstantinopel.
Agaknya inilah rahasia yang menjelaskan, mengapa Allah SWT selalu menanti saat-saat kematangan seseorang, sebelum kemudian diangkat menjadi nabi atau rasul. Sebagaimana tugas dan peran kenabian, peran kepahlawanan hanya dapat diemban oleh mereka yang memenuhi syarat-syaratnya.
Akan tetapi, perjalanan menuju kematangan terkadang sangat panjang dan berliku. Bahkan, ada kalanya dilalui dalam lumpur yang berbau. Namun mungkin, Allah SWT telah menggariskan bahwa sebagian proses kematangan memang harus dilalui di sana.
Hasan Al-Banna dan Sayyid Quthb lahir pada waktu yang hampir bersamaan. Menyelesaikan pendidikan tinggi pada universitas yang sama, pada angkatan yang sama, dengan jurusan yang berbeda. Al-Banna di jurusan Ilmu Pendidikan, sedangkan Sayyid Quthb di jurusan Sastra Arab. Setelah tamat, Al-Banna langsung mendirikan Ikhwanul Muslimin, sementara Sayyid Quthb justru malang melintang dalam belantara pemikiran jahiliyah moderen yang kompleks. Dua puluh tahun kemudian, Sayyid Quthb mendengar berita penembakan Al-Banna di Kairo dari pembaringannya di salah satu
rumah sakit Amerika Serikat. Namun, saat itulah ia mendeklarasikan dirinya sebagai pengikut dan anggota
Ikhwanul Muslimin, justru ketika CIA sedang berusaha merekrutnya untuk ditugaskan sebagai pemimpin Mesir.
Dua tokoh itu tidak pemah bertemu, walaupun pernah saling mendengarkan. Suatu saat, salah seorang murid Hasan Al-Banna hendak membantah tulisan Sayyid Quthb yang ingin mengembangkan hedonisme dan kebebasan sampai kepada ketelanjangan. Tapi, Al-Banna mencegahnya dengan berbagai alasan. Al-Banna kemudian berkata sembari meramal, “Tapi, aku melihat ia (Sayyid Quthb) adalah seorang pemuda yang penuh semangat.”
Dan, semangatnya itulah yang kemudian membawanya ke tiang gantungan. Dua tokoh itu menemui takdir yang sama sebagai syahid, dengan liku-liku perjalanan yang sangat berbeda. Saat kematangan setiap pahlawan selalu datang dengan caranya sendiri.

Mungkin Anda juga menyukai