Pusat Keunggulan

Oleh : Muhammad Anis Matta, Lc

Para pahlawan mengajarkan sebuah kaidah kepada kita; seseorang hanya akan menjadi besar dan meledak sebagai pahlawan, jika ia bekerja secara optimal pada kompetensi intinya. Sebab, pekerjaan pekerjaan yang kita tuntaskan yang kemudian membuat kita dicatat sebagai pahlawan, akan dijadikan mudah oleh Allah SWT karena la memang meyiapkan kita untuk pekerjaan itu.
Akan tetapi, sebenarnya tidak ada manusia yang dapat menemukan seluruh potensi yang terpendam dalam dirinya sekaligus. Seperti tambang yang tersembunyi di perut bumi, setiap kita membutuhkan waktu yang panjang untuk mengeksplorasi, menemukan, baru kemudian menggali dan mengeksploitasinya.
Sebelum diakhiri oleh kematian, setiap potensi yang kita temukan dalam diri kita tidak pernah bersifat final. Yang
bisa kita lakukan adalah membuat model-model analog, misalnya peta, yang dapat menghampiri gambaran
keseluruhan potensi diri kita.
Karena itu, pencarian tidak boleh berhenti. Proses pemotretan dan pemetaan harus terus berlanjut. Kita
hanya harus memastikan, bahwa semua potensi yang telah kita temukan langsung terpakai secara maksimal.

Inilah konsep yang disebut sebagai pengenalan berkesinambungan. Namun, di sini muncul sebuah pertanyaan,
“Bagaimana cara mengetahui, pada akhirnya bahwa inilah kompetensi inti kita, atau bahwa inilah pusat
keunggulan kita?”
Kompetensi inti atau pusat keunggulan biasanya dicirikan oleh beberapa hal. Misalnya, adanya minat yang tinggi terhadap suatu bidang, kemampuan penguasaan yang cepat dalam bidang itu, kegembiraan natural saat menjalaninya, optimisme pada kemampuan pengembangan lebih jauh, dan seterusnya.
Lihatlah misalnya dua tokoh yang sudah berulang-ulang kita kaji. Umar Bin Khattab dan Khalid Bin Walid.
Mereka sama-sama berasal dari klan Bani Makhzum, memiliki postur tubuh yang tinggi dan besar, wajah yang
sangat mirip, dan bangunan karakter yang sama, yang digambarkan dengan kata kunci “prajurit”.
Akan tetapi, Abbas Mahmud Al-‘Aqqad, yang menulis biografi kedua pahlawan yang jenius itu, menemukan
perbedaan yang tipis pada tipologi keprajuritan di antara keduanya. Keprajuritan pada Khalid bersifat agresif,
sementara keprajuritan pada Umar bersifat pembelaan.
Kedua tipologi ini, tentu saja, baru akan optimal, jika masing-masing disalurkan pada peran dan fungsi yang
sesuai dengan tabiatnya.
Agaknya inilah yang menjelaskan mengapa Khalid Bin Walid selalu mendapat peran sebagai panglima perang,
khususnya di era ekspansi, sementara Umar Bin Khattab lebih tepat memimpin negara. Sifat agresif lebih dibutuhkan
dalam perang, apalagi yang bersifat ekspansif, sementara semangat pembelaan lebih dibutuhkan dalam
kepemimpinan negara yang mudah terseret oleh godaan arogansi dan kediktatoran.
Begitulah akhirnya kedua pahlawan itu menjadi ulung pada perannya masing-masing. Khalid dikenal dengan
keberanian dan kehebatan strategi perangnya, sementara Umar dikenal karena kasih sayang dan keadilannya kepada rakyatnya. Dari klan Bani Makhzum itu, dua legenda Islam menjadi abadi dalam sejarah; karena keduanya meniti jalan kepahlawanan pada jalur kompetensi intinya masing-masing.

Mungkin Anda juga menyukai