Bayangan Sang “Icon”

Oleh : Muhammad Anis Matta, Lc
Kadang-kadang, pada suatu masa yang sama, dua orang pahlawan muncul secara bersamaan, pada bidang yang sama, tetapi dengan kadar kepahlawanan yang relatif berbeda. Salah satu di antara keduanya biasanya mengalami prows “iconisasi “, atau “simbolisasi “, dimana ia dianggap sebagai simbol dari zaman dan genrenya.
Pada masyarakat yang sudah dewasa dan matang, proses iconisasi itu biasanya tidak berlanjut dengan proses sakralisasi. Umumnya mereka mengerti sang icon bukanlah segalanya. la hanyalah bagian dari sebuah karya bersama, sebuah kepahlawanan kolektif. Karena itu, setiap pahlawan tetap mendapatkan tempatnya yang layak dan terhormat, sebab masyarakat mereka cukup dewasa untuk menilai karya mereka secara objektif dan proporsional.
Namun, itu tidak terjadi dalam masyarakat yang belum dewasa dan matang, apalagi dalam masyarakat yang jumlah pahlawannya masih sangat sedikit. Simbol adalah bentuk penyederhanaan terhadap suatu makna yang abstrak. Kebutuhan akan simbol dalam masyarakat yang belum dewasa dan matang merupakan kebutuhan psiko-sosial yang sangat mendasar. Karena itu, kecenderungan untuk menyimbolkan suatu makna, misalnya perlawanan, pada sesosok tokoh, atau
kecenderungan untuk meng “icon”kan sang tokoh, merupakan tradisi pada masyarakat tersebut.
Ambillah contoh masyarakat kita. Soekarno, misalnya, hingga kini selalu dilukiskan sebagai “icon” revolusi kemerdekaan Indonesia. Padahal sebenamya, ada begitu banyak pahlawan yang memberikan kontribusi yang boleh jadi lebih besar, atau sama besarnya, dengan kontribusi yang diberikan Soekarno. Namun, di tengah masyarakat yang belum dewasa dan matang, Soekarpo memang mendapatkan berkah ketidakdewasaan itu, yaitu dalam bentuk sikap sakralisasi.
Bangsa Indonesia terhadap dirinya sebagai “icon” revolusi kemerdekaan. Bangsa kita telah melakukan tindakan penyederhanaan terhadap sejarah perjuangan kemerdekaannya sendiri, dengan meng”icon”kan Soekarno.
Akan tetapi, ketidakdewasaan itu tidak selalu merupakan berkah bagi sang icon. Sebab, ketidakdewasaan
dapat mendorong sebuah masyarakat melakukan iconisasi secara sangat sederhana, seperti juga ketidakdewasaan dapat mendorong mereka melakukan penghukuman yang sadis, begitu mereka kecewa. Dan itulah yang terjadi pada diri Soekarno. la ternyata tidak terlalu “menikmati” akhir hidup yang diberikan Bangsa Indonesia kepadanya.
Masalahnya mungkin adalah pada para pahlawan lain yang hidup di bawah bayang-bayang sang icon. Mereka
mungkin tidak mendapatkan kehormatan sejarah yang sama dengan sang icon. Namun, apakah yang membuat
mereka mampu melanjutkan semangat kepahlawanannya, jika “reward” dari sejarah ternyata terasa kurang
fair?
Kuncinya adalah keikhlasan. Dan keikhlasanlah yang membawa kita kepada sebuah hakikat besar yang abadi;
hakikat kehidupan akhirat yang abadi. Di sana setiap orang akan mendapatkan tempatnya yang layak, adil,
dan objektif. Di sana tidak ada penyederhanaan, tidak ada simbolisasi, tidak ada iconisasi. Keikhlasanlah yang
membuat kita dapat menerima keluguan masyarakat kita dengan lapang dada, sebagaimana kita dapat menerima
“ketidakadilan” sejarah dengan kebesaran jiwa, dan tetap bekerja di bawah bayang-bayang pahlawan lain
yang terlanjur ter-“icon”-kan di tengah masyarakat.

Mungkin Anda juga menyukai