Gelora Bung Karno

Oleh : Muhammad Anis Matta, Lc
(Disampaikan di Bali, Februari 2013)

Ikhwah, saudaraku semuanya, cobalah cari referensi di semua literatur asal muasal sebuah negeri yang dinamakan Indonesia ini. Carilah di banyak referensi, tidak akan ada yang tahu, sebelum tanggal 17 Agustus 1945 ada sebuah negeri yang disebut dengan Indonesia. Tidak pernah ada. Hanya ada sebuah kawasan yang disebut dengan nusantara, tapi definisi sebuah negara tidak ada.
Nama itu pertama kali kita definisikan pada saat Sumpah Pemuda, dan baru kita deklarasikan negeri Indonesia ini kepada dunia saat proklamasi kemerdekaan, tanggal 17 Agustus 1945 itu. Dan saudara tahu, nama besar di balik peristiwa ini adalah Bung Karno. Saya sengaja ingin menyebutkannya, karena saya secara pribadi sangat terpengaruh dengan Bung Karno. Saya telah membaca buku-buku Bung Karno salah satunya buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat yang sudah saya baca pada saat kelas tiga SMP.
Saudara sekalian, apakah yang membedakan Bung Karno dengan pemimpin yang lain di masanya? Banyak pemimpin yang lahir sezaman dengan Bung Karno. Tapi yang membedakan Bung Karno dengan pemimpin yang lahir sezamannya dan pemimpin sesudahnya adalah satu kata: gelora. Dia punya api di dalam jiwanya, dan api inilah yang menyulut revolusi republik ini yang mengantarkan kita menuju kemerdekaan. Kalau bukan karena gelora dalam dirinya itu, ia tidak akan mampu membuat rakyat memberontak, melawan penjajah, dan menyatakan diri untuk merdeka.
Waktu itu banyak perdebatan antara beliau dengan para pemimpin lainnya, salah satunya Bung Hatta. Apakah Indonesia sudah saatnya merdeka? Apakah bangsa ini bisa merdeka dan bisa mengelola dirinya sendiri? Dan perdebatan panjang itu semuanya diakhiri dengan satu pernyataan oleh Bung Karno.
Beliau mengatakan, “Kalau kita menunggu bangsa ini siap untuk merdeka, maka bangsa ini tidak akan pernah merdeka.” Bangsa merdeka dulu baru setelah itu bangsa ini akan belajar bagaimana mengatur dirinya sendiri.
Bung Karno memiliki gelora yang mampu membakar republik ini. Ikhwah sekalian, saya ingin api gelora yang ada di dada Bung Karno ini ada di dada Antum semuanya, dan kita bakar republik ini menuju bangsa yang lebih maju. Saya ingin gelora ini ada di dalam diri kita semuanya. Karena dengan gelora inilah kita dapat melakukan kerja-kerja besar dalam sejarah.
Saudara tahu dari mana datangnya gelombang? Gelombang datang karena ada angin yang besar. Dan angin yang besar ini disebut badai, maka jadilah badai untuk mencintakan gelombang besar. Untuk itu belajarlah menjadi badai, dan jika ingin belajar menjadi badai yang mampu menciptakan gelombang, maka ambilah inspirasi pada diri Bung Karno.

Mungkin Anda juga menyukai