Tetap Bekerja di Kala Sedih

Oleh : Muhammad Anis Matta, Lc
(Disampaikan di Sumatra Utara, 2013)

Tidak ada peristiwa yang mampu memukul Rasulullah saw. kecuali peristiwa kehilangan dua orang yang sangat penting bagi beliau. Yaitu wafatnya Khadijah istri beliau dan Paman beliau Abu Thalib. Oleh karena itu, banyak sejarawan yang mengatakan tahun itu adalah tahun kesedihan.
Dan tahukah saudaraku semuanya, surah apakah yang diturunkan Allah setelah peristiwa itu?
Ada dua surah, yang pertama adalah surah adh-Dhuha dan kedua adalah surah al-Insyirah. Mari sejenak kita resapi kedua surah ini.
Di ayat awal-awal di surah adh-Dhuha, Allah bersumpah dengan waktu, “Demi waktu matahari sepenggalah naik, dan demi malam apabila telah sunyi.” Mengapa Allah perlu bersumpah dengan waktu? Karena waktu berhubungan langsung dengan kerja. Bagaimana dalam ketertekanan hati, kesedihan hati, meski dalam kondisi seperti itu, tetap harus bekerja. Saudara sekalian, bisakah kita berimajinasi sedikit, bagaimana kondisi Rasulullah ketika mereka berdua wafat? Bagaimana perasaan Rasulullah melalui malam pertamanya dan malam-malam selanjutnya setelah Khadijah pergi? Tentu sangat sedih, merasa sendirian, di tengah musuh yang sangat banyak. Di tengah kesendirian ini, Allah menurunkan ayatnya kembali dalam surah adh-Dhuha, “Tuhanmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu. Dan sesungguhnya hari kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang sekarang (permulaan).” Di sini, Allah ingin mengingatkan kepada Rasulullah bahwa ia tidak sendiri, Allah tidak akan meninggalkannya, sekaligus mengingatkan Rasulullah visi utamanya adalah visi akhirat.

Begitu juga dengan visi kita dalam berpolitik, bukan negara yang kita tuju, pada akhirnya negera hanya sebuah jembatan menuju akhirat, insyaallah. Setelah Allah mengingatkan Rasulullah dengan orientasi akhiratnya, Allah tetap memberikan janji jangka pendek. Dalam lanjutan surah adh-Dhuha, “Dan kelak Tuhanmu pasti memberikan karunia-Nya kepadamu, lalu (hati) kamu menjadi puas.” Allah mengingatkan pada visi akhirat tapi Allah juga menjanjikan kesenangan jangka pendeknya. Kemudian Allah mengingatkan kembali memori Rasulullah saw, tentang karunia Allah di ayat surah adh-Dhuha selanjutnya. “Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk. Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan.” Rasulullah pernah mengalami yang sulit-sulit itu dan Allah mengingatkan kembali atas banyak pertolongan Allah. Saudara sekalian, kita dulu mendirikan partai juga dengan modal yang sedikit, kader sedikit, uang hampir tidak ada, pengetahuan sedikit, hampir kita tidak memiliki memenuhi syarat apa pun untuk mendirikan sebuah partai politik.

Tapi dengan pertolongan Allah swt., alhamdulillah, kita tumbuh menjadi partai besar di republik ini.
Setelah Allah membuka memori Rasulullah tentang pertolongan Allah, kemudian Allah melanjutkan ayat-Nya dalam surah adh-Dhuha, yang meminta Rasulullah agar terus beramal dengan mengatakan, “Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang. Dan terhadap orang yang minta-minta, janganlah kamu menghardiknya. Dan terhadap nikmat Tuhanmu, maka hendaklah kamu siarkan.” Dari surah Adh-Dhuha ini, kita jadi memahami, kita tidak boleh berhenti bekerja meskipun dalam kondisi sesedih apa pun. Surah kedua yang diturunkan Allah di tahun kesedihan ini adalah, surah al-Insyirah. Allah mengatakan, “Bukankah Kami telah melapangkan dadamu? Dan Kami telah meringankan bebanmu, yang memberatkan punggumu. Dan kami telah angkat namamu setinggi-tingginya.” Saya ingin menekankan ayat yang keempat ini, “Dan Kami telah angkat namamu setinggi-tingginya.” Saudara-saudara sekalian, yang menaikan nama dan yang menjatuhkannya itu adalah Allah swt. Dan jika kita terus-menerus bekerja, Allah akan menaikan derajat kita, insyaallah.

Untuk itu saya sangat percara bahwa momentum ini adalah momentum kebangkitan bagi kita semuanya, insyaallah.

Mungkin Anda juga menyukai