Mengapa Kita Bermadzhab ?

Setidaknya ada tujuh point penting yang akan kita dapatkan dalam bermadzhab.
1. Sanad Bersambung
Madzhab-madzhab fiqih itu musannadah atau memiliki sanad dalam setiap perkataan dan pemahamannya. Sanad merupakan hal yang sangat penting dalam kehidupan beragama seorang muslim.
Awalnya Rasulullah memgajarkan agama ini kepada para sahabat. Para sahabat pun memiliki derajat pemahaman terhadap agama yg berbeda-beda karena beberapa sebab. Maka dikenallah beberapa orang sahabat yg tidak hanya meriwayatkan hadits dari Rasulullah saw, namun juga mereka dikenal sebagai para mujtahid dari para sahabat. Diantaranya adalah Umar bin Khattab, Ali bin Abu Thalib, Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Ibnu Mas’ud dan Aisyah binti Abu Bakar.
Saat Rasulullah saw tiada, para sahabat ini beserta para sahabat lain berpencar ke berbagai penjuru daerah untuk menyebarkan apa yg telah mereka dapatkan dari Rasulullah. Ibnu Mas’ud menetap di Kufah, Ibnu Umar menetap di Madinah, Abu Musa al Asy’ari di Yaman, Anas bin Malik di Bashrah, dan Amru bin al ‘Ash di Mesir.
Dan di generasi selanjutnya, terdapat dua aliran besar dalam Islam yaitu madrasah ahlu ra’yi para murid dari Ibnu Mas’ud di Kufah, dan madrasah ahlu hadits para murid Ibnu Umar di Madinah.
Dari dua madrasah inilah kemudian muncul Imam Abu Hanifah di Kufah dan Imam Malik bin Anas di Madinah. Kemudian muncul Imam Syafi’i yg belajar kepada Imam Malik dan Imam Muhammad bin al Hasan Asy Syaibani murid dari Imam Abu Hanifah. Kemudian muncul Imam Ahmad bin Hanbal yg belajar kepada Imam Syafi’i.
Para Imam itu kemudian mengajarkan ilmunya kepada generasi-generasi selanjutnya dengan cara yg sama. Penjelasan tentang sanad dalam madzhab Syafi’i saja akan menghabiskan banyak sekali lembaran catatan yg berisi nama, tahun wafat, nama guru dan muridnya.
Sanad merupakan salah satu sebab kenapa ajaran agam Islam bisa bertahan dan tidak berubah laiknya agama Yahudi dan Nasrani. Maka, menjaga tradisi beragama melalui sanad dalam madzhab juga merupakan jalan untuk menjaga agama ini dari serangan tangan orang luar Islam.
2. Makhdumah
Madzhab-madzhab fiqih itu makhdumah atau menjadi bahan penelitian yg sangat serius. Awalnya bermula dari kitab yg dituliskan oleh Imam madzhab ataupun oleh muridnya, kitab itu kemudian diringkas, diteliti dan dikembangkan oleh generasi selanjutnya. Ringkasan itu kemudian kita kenal sebagai matan yg kemudian disyarah oleh generasi selanjutnya.
Syarah dari matan itu pun kemudian dijelaskan lagi dalam bentuk hasyiah, kemudian diberikan komentar-komentar oleh generasi selanjutnya. Tidak berhenti disitu, terkadang sebuah matan kembali diringkas, ditambahi, kemudian dijelaskan, dan begitu seterusnya. Maka akan terdapat silsilah kitab yg jelas disetiap madzhab.
Contohnya dalam madzhab Syafi’i, terdapat empat kitab yg diwariskan oleh Imam Syafi’i dan muridnya, yaitu kitab Al Umm, Al Imla’, Mukhtasar Buwaythi, dan Mukhtasar Al Muzani. Mukhtasar Al Muzani kemudian disyarah oleh tujuh orang ulama generasi setelahnya dan diringkas oleh satu orang sehingga terdapat delapan buah kitab muktamad yg berasal darinya. Salah satunya adalah kitab Nihayah al Mathlab fi Dirayah al Madzhab karya Imam Haramayn al Juwaini yg kemudian diringkas oleh Imam al Ghazali menjadi tiga kitab, yaitu Al Basith, Al Wasith, dan Al Wajiz.
Al Wajiz kemudian disyarah oleh Imam Rafi’i menjadi Fath al ‘Aziz yg kemudian diringkas lagi oleh Imam Nawawi menjadi Rawdhah ath Thalibin dan Imam Qazwini menjadi Al Hawi Ash Shagir.
Kedua kitab itupun masih diringkas, lalu disyarah, dan syarah itu kemudian disyarah, dikomentari, dan ditambahi hingga menjadi belasan kitab lainnya. Selain itu terdapat tiga kitab utama dari kalangan ulama Syafi’i muta’akhir yaitu Al Lubab, Al Muharrar, dan Ghayah al Ikhtishar. Ketiga kitab itupun disyarah, diberi hasyiah, terus dan terus dikaji hingga silsilah kitab dalam madzhab Syafi’i bisa tergambar jelas dalam sebuah diagram pohon silsilah yg panjang.
3. Mudallalah
Madzhab-madzhab itu mudallalah, yaitu setiap hukum yg terdapat didalamnya memiliki landasan baik dari al Qur’an, As Sunnah, maupun sumber hukum lainnya sesuai dengan metode ijtihad dari masing-masing madzhab. Perbedaan pendapat diantara madzhab satu dengan lainnya bukanlah didasarkan atas akal-akalan para Ulama madzhab, namun karena perbedaan metode, pemahaman, tempat tinggal dan beberapa sebab lain. Contohnya saja dalam masalah basmalah dalam surat al fatihah. Ada pendapat yg menyatakan bahwa basmalah bukan termasuk surat al fatihah, ada juga pendapat yg menyatakan bahwa basmalah termasuk surat al Fatihah. Dalam membacanya pun terdapat perbedaan dari masing-masing madzhab. Semuanya memiliki dalil dan metode sendiri-sendiri yg menyebabkan perbedaan pendapat ini.
4. Punya Akar Kepada Imam
Madzhab-madzhab itu memiliki akar yg menyambung kepada para Imam masing-masing. Dan perbedaan imam tersebut menjadikan perbedaan kaidah-kaidah dan metode ijtihad yg berbeda satu sama lain. Didalam fiqih madzhab Syafi’i terdapat lima kaidah utama yg dijelaskan oleh Imam As Suyuthi dalam kitab al Asybah wa al Nadza’ir, yg lima kaidah itu belum tentu ada di madzhab lainnya.
5. Kurikulum Berkesinambungan
Madzhab-madzhab itu memiliki metode sendiri dalam pengajarannya. Setiap madzhab memiliki metode yg berbeda dalam setiap tingkatan untuk memudahkan para penuntut ilmu dalam menyerap dan memahami fiqih sesuai kemampuannya. Misalkan dalam madzhab syafi’i terdapat kitab Safinah al Najah untuk pemula dengan berbagai syarahnya, kemudian diteruskan dengan kitab al Ghayah wa al Taqrib untuk tingkatan selanjutnya juga dengan berbagai syarahnya. Ada kitab Fath al Mu’in, al Muhadzab, Minhaj al Thalibin, dan kitab-kitab lain hingga jika seorang murid telah mampu untuk membaca dan memahami ia bisa menelaah sendiri kitab-kitab yg menjadi rujukan utama dalam madzhab syafi’i. Seorang pelajar pemula akan lebih cepat memahami dan mempraktekkan apa yg ia pahami jika telah dibuat ringkas sebagaimana safinah al najah. Jika anda membuka matan kitab itu, maka anda akan melihat bahwa didalamnya hanya terdapat hal-hal yg utama untuk diketahui lebih awal oleh para pemula. Kitab itu hanya membuat bab rukun Iman dan Islam, bab bersuci, bab sholat, bab jenazah, bab zakat, puasa dan haji dengan penjelasan yg sangat singkat.
Berbeda dengan matan al Ghayah wa al Taqrib yg isinya lebih lengkap, dan berbeda juga dengan matan Minhaj al Thalibin yg didalamnya disertai dengan perbedaan pendapat antara ulama-ulama didalam madzhab Syafi’i.
Hal itu berbeda jika pembelajaran dimulai menggunakan kitab yg berisi hadits-hadits dengan sedikit komentar didalamnya. Sebuah hadits bisa saja memiliki dua hingga lima maksud yg berbeda yg hal itu akan sangat menyulitkan bagi pemula. Belum lagi bahwa diperlukan waktu yg lama untuk mempelajari seluruh hadits shahih yg ada dalam bab bersuci, lalu kapan bab shalat, puasa dan haji akan dipelajari ? Bagaimana jika seorang pelajar telah memasuki usia baligh namun ia baru sampai di bab bersuci ?
Matan kitab-kitab tersebut adalah hasil ijtihad dari penulis kitab itu sesuai dengan metode yg telah ia pelajari. Memang, didalam matan-matan itu jarang sekali terdapat dalil baik dari al Qur’an ataupun Sunnah. Namun pendalaman akan dalil-dalil itu bisa diperdalami di kemudian hari saat seorang pelajar telah siap untuk hal itu.
6. Terkodifikasi
Madzhab-madzhab itu telah terkodifikasi, dan telah terkomparasikan antara satu dan lainnya. Pada tingkat selanjutnya, seorang pelajar akan bertemu dengan pelajaran fiqih perbandingan madzhab yg mana disana ia akan bertemu dengan perbedaan antara madzhab satu dengan yg lainnya. Disana juga ia akan mengenali perbedaan pendapat, dalil dan metode ijtihad yg telah menjadi ciri dari madzhab-madzhab itu sendiri.
7. Cara Bertahan
Dengan kodifikasi madzhab-madzhab tadi maka setiap madzhab telah memiliki metode ijtihad sendiri yg dapat dijadikan landasan dalam menghadapi hal-hal baru yg tidak ada sebelumnya dan perlu dicarikan hukumnya. Jika bermadzhab dilarang, maka para mujtahid dimasa yg akan datang akan terputus dari metode ijtihad yg telah ada pada generasi sebelumnya. Bermadzhab itu bukanlah soal mengikuti pendapat Imam A dan meninggalkan hadits yg ada, namun lebih dari itu. Bermadzhab itu mempelajari metode ijtihad dalam menggali hukum dari Al Qur’an dan Hadits. Bermadzhab itu melestarikan tradisi keilmuan fiqih Islam yg telah dibangun sejak zaman Rasulullah dan para sahabat.
(Ushul Fiqih Ringkas, Ustadz Ahmad Sarwat Lc MA, Rumah Fiqih Publishing, hlm 128-134)

Mungkin Anda juga menyukai