Ridwan Kamil, Dilema Jokowi di Jabar

Oleh : Hersubeno Arief
Keputusan  Partai Golkar   mencabut dukungan kepada  Ridwan Kamil (RK) sebagai cagub Jawa Barat (Jabar)  memunculkan berbagai spekulasi dan pertanyaan besar,  langkah  politik  apa  yang sedang direncanakan dan dimainkan oleh Presiden Jokowi?
Pertanyaan tersebut wajar muncul  karena beberapa faktor.
 *Pertama*, sudah menjadi pengetahuan umum bahwa RK merupakan calon yang didukung dan akan mendukung Jokowi pada Pilpres 2019.
*Kedua*, Golkar baik pada saat dipimpin  Setya Novanto maupun setelah dipimpin oleh Airlangga Hartarto secara bulat  menyatakan akan mengusung Jokowi  pada Pilpres 2019.
Sikap tersebut ditegaskan kembali dalam Munaslub Golkar yang kini tengah berlangsung (18-20/12). Dengan begitu seharusnya RK dan Golkar adalah sekutu, karena sama-sama menjadi pendukung Jokowi.
*Ketiga*, Jabar merupakan  wilayah pertaruhan utama  yang harus dimenangkan oleh Jokowi jika ingin pencalonanannya sebagai presiden untuk periode kedua, berjalan mulus. Bila kemudian RK batal maju pencalonan, siapa sebenarnya cagub yang didukung Jokowi?
*Menghidupkan atau mematikan kartu RK?*
Kedekatan RK dengan Jokowi sebenarnya telah terendus cukup lama. Ketika berlangsung hiruk pikuk Pilkada DKI 2017, RK sempat dielus-elus sejumlah partai untuk menjadi lawan tanding Ahok. Namun atas saran Jokowi, RK menolak. Sebagai imbalannya dia akan dicalonkan sebagai cagub Jabar.
Janji Jokowi kepada RK dipenuhi ketika  Nasdem mengusung RK sebagai cagub. Sebagai imbalannya, dalam pakta integritas dengan Nasdem, RK sepakat akan memenangkan Jokowi di Jabar.
Posisi RK menjadi semakin kuat ketika PKB, PPP, dan kemudian Golkar mengeluarkan rekomendasi  untuk mendukungnya sebagai cagub.  Keempat  partai tersebut adalah  pendukung pemerintahan Jokowi. Khusus untuk Golkar adalah partai yang pertamakali deklarasi akan mengusung Jokowi.
Untuk mendukung RK, Golkar bahkan tega menyingkirkan  Dedi Mulyadi calon internal  yang nota bene adalah Ketua DPD Golkar Jabar.
Dengan komposisi dukungan seperti itu posisi RK sangat kuat. Semua sumber daya yang dimiliki Jokowi dikerahkan untuk RK. Partai pendukung  RK , total  memiliki 38 kursi di DPRD Jabar. Nasdem (5), PKB (7), PPP (9), dan Golkar (17).
Secara kalkulasi matematis RK merupakan cagub terkuat. Jadi  misi untuk mengamankan Jokowi sudah setengah berhasil.
Indikasinya setidaknya bisa terlihat dari  tiga hal. (1) Berbagai survei menunjukkan elektabilitas RK selalu teratas. (2) Dari sisi finansial, RK juga cagub paling tajir. Alat peraga kampanyenya  paling massif dan sudah tersebar di seluruh wilayah Jabar. (3) Jumlah dukungan partai terbesar.
Poin ketiga  ini selain menunjukkan secara politis RK sangat kuat, sekaligus penegasan bahwa dia didukung modal yang berlimpah. Sudah menjadi rahasia umum bila dukungan parpol erat kaitannya dengan mahar politik.  Makin banyak jumlah kursinya, makin mahal maharnya.
Ketika kemudian Golkar di bawah kepemimpinan Airlangga menganulir keputusan  dukungan kepada  RK,  menjadi pertanyaan besar apa yang sedang terjadi? Apakah Jokowi berubah pikiran karena kalkulasi politik di Jabar juga berubah?
Apalagi PPP dan PKB  kemudian juga ramai-ramai mengancam akan menarik dukungannya dari RK.
Secara logika politik, kendati ada dinamika internal,  tidak mungkin Golkar berani mengambil keputusan politik sendiri yang bertentangan dengan kepentingan politik Jokowi. Begitu juga halnya dengan PPP dan PKB.
Jabar bagi Jokowi benar-benar merupakan kantong suara yang harus dimenangkan. Dengan total pemilih sebanyak  34 juta  atau sekitar 19 persen dari pemilih nasional, apapun caranya, dan berapapun biayanya, harus dimenangkan.
Betapa seriusnya Jokowi menggarap pasar Jabar bisa terlihat dari tingginya frekuensi kunjungannya ke tlatah Priangan itu. Dalam situs http//presidenri.go.id tercatat Jokowi sudah 71 kali berkunjung ke Jabar. Tertinggi dibandingkan provinsi lainnya. Dalam tiga bulan terakhir Jokowi bahkan tercatat 4-5 kali blusukan ke Jabar.  Boleh dibilang hampir setiap pekan Jokowi  bertandang ke Jabar.
Dalam satu,  dua hari ke depan kita akan mendapat kepastian, apakah PPP dan PKB benar-benar jadi menarik dukungan ke RK. Bila itu terjadi, maka karir politik RK akan tamat. Sebaliknya bila PPP dan PKB tetap bertahan, maka RK akan tetap maju, tapi tidak lagi mendapat dukungan politik sepenuhnya dari Jokowi.
Dengan konstelasi terjadinya pembelahan politik yang sangat dalam di tengah masyarakat, RK tampaknya menjadi dilema politik bagi Jokowi.
*Pertama*,  Jika  terus mendukung RK maka Jokowi akan menghadapi oposisi yang sangat kuat di Jabar, terutama dari kalangan umat Islam. Posisi ini jelas  tidak menguntungkan Jokowi bila ingin  merangkul kalangan  umat  di perkotaan  yang sangat kritis terhadapnya.
Sebuah survei yang digelar Instrat pada awal Desember menemukan fakta bahwa 36 persen warga Jabar  mendukung Aksi 212, sementara yang menolaknya hanya 26 persen.
Citra RK yang terasosiasi dengan Ahok juga sangat kuat. Apalagi menjelang Reuni Alumni 212, RK   menyampaikan pernyataan yang terkesan menentang kegiatan tersebut. Dia mempertanyakan apa urgensi acara tersebut, karena Ahok juga sudah  mendapat hukuman. Pernyataan RK tersebut segera mengundang reaksi negatif di dunia maya.
Dengan konstelasi ini RK menjadi beban politik bagi Jokowi untuk memenangkan Jabar. Karena itu akan lebih menguntungkan bagi Jokowi untuk mencari kandidat lain yang citranya lebih bersahabat dengan umat.
Diantara calon yang ada,   figur Deddy Mizwar menjadi pilihan yang paling rasional. Demiz mempunyai kedekatan dengan umat dan juga pendukung Aksi 212. Jokowi sebenarnya sudah berkali-kali mencoba mendekati Demiz dan menawarkan dukungan. Namun Demiz ternyata lebih memilih bergabung dengan PKS-Gerindra.
Dengan pecahnya kongsi Demiz -Gerindra, maka peluang Jokowi untuk  merangkulnya, kembali terbuka. Apalagi  Demiz  kemudian menjadi kader Partai Demokrat yang melihat  gelagatnya  sedang  mencoba mendekati Jokowi.
Sebagai kader  yang terikat pakta integritas untuk memenangkan Demokrat pada  pemilu legislatif  dan mendukung capres yang diusung,  otomatis Demiz juga harus mendukung Jokowi bila partai besutan SBY itu berkoalisi dan mengusungnya.
Demiz saat ini juga terancam kehilangan tiket, bila PKS balik kanan dan CLBK (cinta lama bersemi kembali)  dengan Gerindra. Ini peluang bagus Jokowi  untuk  menyelamatkan Demiz.  Jokowi bisa memerintahkan partai pendukungnya (PPP dan PKB)  putar haluan mendukung Demiz.
*Kedua,* Jika memutuskan meninggalkan RK, maka  Jokowi akan kehilangan dukungan dari  seorang kandidat yang mempunyai potensi memenangkan kontestasi. Seperti telah disebutkan sebelumnya  RK mempunyai tingkat elektabilitas paling tinggi. Dia tinggal mencari pasangan cawagub yang tepat dan dapat mendongkrak perolehan suaranya.
Jokowi juga akan kehilangan pasar kelompok nasionalis, karena dinggap terlalu jauh berbelok ke “kanan.”
Dengan kalkulasi semacam itu Jokowi harus benar-benar cermat untuk memutuskan pilihan. Untuk tahap awal targetnya membuat  lapangan pilkada Jabar menjadi “ becek” sudah sangat berhasil.
Umat  belum  berhasil  melakukan konsolidasi politik. PKS-Gerindra yang  diharapkan  menjadi sekutu dan kembali  mengulang kemenangan di DKI berhasil dipecah.
Sejak awal Jokowi tidak menginginkan pertarungan head to head  yang berdarah-darah model Pilkada DKI 2017. Karena itu calon yang tampil harus lebih dari dua pasang.
Tingginya frekuensi  blusukan,  membuat  elektabilitas Jokowi di Jabar  sudah  berhasil mengungguli  Prabowo.
Jokowi tinggal memberi sentuhan akhir untuk memenangkan Pilpres 2019. Jabar akan menjadi indikator penting apakah skenarionya bisa berjalan dengan baik, atau malah berantakan. 20/12/17

Mungkin Anda juga menyukai