Sanad

1. Berkata Imam Syafii : “Tiada ilmu tanpa sanad”,
berkata pula AL Hafidh Imam Attsauri : “Sanad adalah senjata orang mukmin, maka bila kau tak memiliki senjata, maka dengan apa kau membela diri?”.
berkata Imam Ibnul Mubarak rahimahullah : penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan orang yg ingin naik ke atap rumah tanpa tangga”
berkata pula Imam Syafii : “penuntut ilmu tanpa sanad adalah bagaikan pencari kayu bakar yg mencari kayu bakar ditengah malam, yg ia membawa tali pengikatnya adalah ular berbisa dan ia tak tahu”
(Faidhul Qadir Juz 1 hal 433)
dan masih banyak lagi, dan merupakan hal yg baku diantara para Muhadditsin bahwa mereka tak mengakui suatu ajaran/tuntunan ibadah dari seseorang ustaz/guru/ulama kecuali orang itu mempunyai sanadnya.
namun , hal semacam ini tidak perlu dirisaukan untuk kita, karena ahlussunnah waljamaah telah mempunyai sanad dalam segala perbuatannya, ziarah, tawassul, istighatsah, tabarruk, maulid, tahlilan dlsb ini ada sanadnya, bersambung kepada Rasul saw, atau pada sahabat, atau pada para Muhadditsin, oleh sebab itu tak perlu risau.
semua guru guru/ustaz / ulama / kyai yg mengajarkan hal yg sama secara umum, dalam fiqihnya yg bermadzhab syafii, dalam masalah furu’iyah dll walaupun mereka mungkin ada yg tak mempunya sanad, namun apa yg mereka ajarkan itu sama, dan itu sudah cukup, karena perbuatan2 itu berlandaskan sanad.
yg mesti dirisaukan adalah ajaran baru semacam wahabii, syiah dan ajaran aneh lainnya ini, mereka tak punya sanad, hanya fatwa fatwa akal dan logika yg menyesatkan ummat,
maka disinilah senjata kita, maka oleh sebab itu kita selalu membahas dan mensyiarkan masalah sanad ini, agar ummat tidak tertipu kepada para penipu syariah itu, kembalilah pada bimbingan yg mempunyai sanad, jangan menuruti mereka yg sanadnya putus, karena sanad pada Buku tak diakui dalam syariah.
kita ahlussunnah waljamaah mempunyai sanad dan guru guru yg jelas sampai pada Nabi Muhammad saw dan para sahabat dan para Muhadditsin.
2. Buku menjadi rujukan, namun kita tak berguru pada buku,
kita membaca dibuku, muncul masalah aneh yg diluar pengetahuan kita maka kita bertanya pada guru yg mempunyai sanad, guru yg berfatwa bukan dari fatwanya, tapi dari gurunya lagi, demikian hingga kepada ujung sanad,
misalnya begini, kita membaca shahih Bukhari, kita pun belajar shahih Bukhari pada guru kita, lalu  menemukan masalah yg aneh yg di temui pada Shahih Bukhari, maka kita tidak merujuk pada pendapat sendiri, kita bertanya pada guru , karena guru kita mempunyai sanad hingga Imam Bukhari, dan beliau lebih luas pemahamannya dari kita tentunya tentang pernak pernik dalam shahih Bukhari,
mengapa  bertanya pada guru yg mempunyai sanad kepada Imam Bukhari?,
bila anda bertanya, siapakah yg paling tahu mengenai penjelasan shahih Bukhari?, tantunya yg paling tahu adalah murid murid Imam Bukhari, yg langsung mendapatkan pengajaran buku itu dari Imam Bukhari,
nah.. lalu pada generasi selanjutnya, siapa yg paling tahu tentang shahih Bukhari?, tentunya orang orang yg berguru langsung kepada murid Imam Bukhari,
demikian selanjutnya sanad itu hingga kini, tak ada orang lebih tahu makna shahih Bukhari selain orang yg mempunyai sanad pada Imam Bukhari,karena ialah pewaris makna tersebut dari guru gurunya.
demikian pula sanad Imam syafii, demikian sanad Imam nawawi, demikian sanad parsa Muhadditsin lainnya, bahkan kita memiliki sanad hingga Rasulullah saw.
tentunya boleh saja membaca kitab dan buku, namun kita mempunyai sanad guru, bila terbentur dalam masalah, maka segera kita rujuk pada guru yg mempunyai sanad pada penulis buku tersebut, maka kita tidak tersesat, walaupun pemahaman kita terhadap syariah terbatas, namun kita tak akan tersesat karena dibimbing oleh guru.
3. tentunya kita merujuk pada guru, guru yg mempunyai banyak sanad, guru yg shalih dan mengamalkan ilmunya, ikutilah mereka, karena mengikuti mereka kita tak akan tersesat.
Wallahua’lam

Mungkin Anda juga menyukai