Kesholehan Sosial

Al-Ustadz Muhammad Qutb – semoga Allah merahmatinya – menulis dalam buku “Manhaj Tarbiyah Islamiyah”, dan saya pikir buku ini masih merupakan buku terbaik yang ditulis mengenai masalah tarbiyah, dia katakan dalam buku ini bahwa hakikat tarbiyah adalah seni memproduksi manusia. Dan manusia yang lahir di dunia ini , bakatnya, orang tuanya, sukunya, dan bangsanya, yang ditakdirkan untuknya, dan dalam lingkungan dan keadaan, dan waktu yang ditetapkan untuknya, orang yang lahir dan membawa kapasitasnya, maka tanggung jawab tarbiyah adalah memformatnya, mencetaknya sepadan dengan waktu dan tempat di mana dia berada.
Kesalehan memiliki aspek personil, dan dia memiliki aspek lain yang bukan aspek personil.
Aspek kesalehan personil adalah apa yang berhubungan dengan kehidupan orang ini dan hubungannya dengan Tuhannya, namun kesalehan non personil berhubungan dengan sejauh mana kesesuaian orang ini dengan zaman dan tempatnya berada.
Inilah fikrah amat mendasar dalam tarbiyah.
Kita tidak berusaha membentuk atau memproduksi manusia sempurna, tidak, tapi kita berusaha untuk mencetak orang yang tepat untuk masanya, sehingga dalam harmoni ini bertemulah semua talenta yang ditakdirkan baginya, semua perolehan yang mungkin dimilikinya, dan apa yang dibutuhkan oleh waktu dan tempat di mana ia berada, ia berkontribusi. Anda bisa mencetak orang yang saleh, tapi jika tidak sesuai dengan waktu dan tempatnya, orang saleh ini tidak mampu berkontribusi (al-‘atha).
Agar seseorang dapat sesuai dengan waktu dan tempatnya, peran tarbiyah adalah menanamkan “fa’iliyyah” (karakter efektif dan efisien) dalam pribadinya, dengan karakter ini ia bisa memperoleh berbagai talenta disamping kemampuan dirinya yang telah ada, sehingga dengan fa’iliyyah ini ia mampu berkontribusi sesuai kebutuhan waktu dan tempatnya.
Jadi kita memiliki kata kunci dalam masalah ini:
– Seni mencetak manusia
– kesalehan
– dan fa’iliyyah.
Inilah kira-kira kata kunci yang harus diciptakan dan dirumuskan dalam sistem tarbiyah.
Saya menduga bahwa Imam Syahid telah menempuh perjalanan jauh dalam masalah ini.
Tapi ada masalah. Tentu saja, khususnya dalam beberapa tahun terakhir, kita alami masalah ini, merupakan bagian dari kekurangan di dalam internal jamaah, dalam fikrah jamaah sebagai gerakan, dan sebagian darinya diciptakan oleh berbagai tantangan yang tengah kita geluti.
Apakah kekurangan manhaji tersebut?
Imam Syahid, ketika dia mendefinisikan tujuh maratib amal dari pembentukan individu muslim sampai ustadziyyatul ‘alam, sangat menyadari bahwa usianya tidak akan cukup untuk mengcover semua tahap ini. Seperti yang Anda ketahui bahwa Imam Syahid mendirikan harakah di usia dua puluhan tahun, dan syahid saat berusia empat puluhan tahun. Seperti yang Anda ketahui (pula), para Nabi menjadi Nabi setelah usia empat puluhan tahun. Jika Imam Syahid hidup dua puluh tahun lagi, saya pikir masalahnya akan berbeda, dan saya pikir kontribusi dan karyanya juga akan berbeda.
Beliau fokus di tahap pertama dan kedua yakni dalam hal pembentukan individu muslim, dan keluarga muslim. Oleh karena itu, dalam referensi jamaah yang merupakan warisan intelektual kita, tema takwin individu memenuhi perpustakaan jamaah, bukankah begitu? Tema pembentukan keluarga muslim juga surplus, dan saya telah melihat berbagai penelitian di sini semuanya tentang tema ini, bahkan saya lihat sebuah buku tentang muwashafat anak muslim.
Tapi ada kelangkaan referensi di tahap irsyad al-mujtama’, dalam ishlah al-hukumah/pemerintahan, membebaskan tanah air kaum muslimin, dan ustadziyyah al-‘alam.
Pasti ada hikmah dari Allah bahwa gerakan ini ada unsur statisnya di Mesir setelah syahidnya beliau, namun sebagai gantinya harakah menyebar dan meluas. Harakah memulai lagi dari tahap awal dan pembentukan pertama, pada tahap ini, yakni takwin individu muslim dan keluarga muslim. Seperti itulah harakah ini ditakdirkan menyebar di mayoritas negeri-negeri Islam, juga di Eropa, Amerika dan yang lainnya.
Kemudian perubahan global dan perubahan internasional membawa kita sampai pada titik dimana kita kadang dipaksa, terkadang juga secara sukarela masuk ke dalam pertarungan politik. Bukankah begitu? Kita memasuki mihwar lain dari amal Islami dalam keadaan tidak memiliki warisan manhaji yang jelas, tidak seperti warisan manhaji yang kita miliki tentang ishlah individu muslim dan takwin keluarga muslim.
Apakah ini jelas? Ini penting, karena ini memiliki efek pada banyak hal, dan punya implikasi dalam urusan tarbiyah.
Apa yang terjadi saat kita memasuki amal siyasi?
Saya pikir kevakuman manhaji ini adalah salah satu alasan mengapa banyak perpecahan di negara-negara di mana jamaah ini bekerja, di internal jamaah sendiri, mengapa? Karena ada area kosong, sementara ada tekanan nyata, riil, dimana para aktifis terpaksa melakukan ijtihad lapangan, bukankah demikian? Ada masalah dengan ijtihad ini. Saya tidak mengatakan bahwa masalahnya adalah pada isi kandungannya, tapi masalahnya adalah bahwa nilai-nilai Islam, gagasan Islam yang kita pegang, dan persepsi kita tentang negara ideal, masyarakat ideal, dan kota yang bagus, semua persepsi ini bertabrakan secara langsung dan kenyataan yang kita hadapi.
Ketika kita berada di usar, saat belum menggeluti amal siyasi, Anda merasa bahwa Anda hidup dalam idealisme, bukankah begitu? Anda melihat orang-orang, pendapat/kebijakan pemerintah dengan perspektif ini, dengan idealisme ini, dan belum membayangkan bahwa ada sesuatu selain idealisme, yang disebut dengan kapasitas manusia. Idealisme ini ketika dihadapkan pada kenyataan, mendatangkan masalah baru, menciptakan kesadaran baru di dalam diri kita bahwa kapasitas internal kita tidak sesuai dengan idealisme kita. Inilah yang menciptakan citra atau gambaran realistis dari Islam yang kita persembahkan kepada orang-orang. Idealisme adalah musuh kapasitas. Jika idealisme kita misalnya seratus, sementara kapasitas kita adalah lima puluh, maka citra Islam yang tampak jelas adalah lima puluh. Bukankah begitu?
Dan begitulah orang luar melihat citra atau bentuk Islam yang kita presentasikan, melihat angka 50, bukan seratus. dan kita menyalahkan mereka karena tidak melihat yang seratus, hanya melihat angka 50, padahal yang kita tampilkan memang hanya 50, bukankah begitu? Apakah Anda mengalami masalah ini?
Maka muncullah reaksi di berbagai quthr jamaah dalam menghadapi masalah ini, dan sebagian dari reaksi ini (sayangnya) menunjukkan bahwa mereka tidak mampu mendeskripsikan masalah ini secara spesifik dan akurat.
Apa saja reaksi tersebut? Sebagian dari reaksi ini dapat disebut dengan reaksi pemisahan diri. Mereka yang merasa dalam diri mereka ada ketidakberdayaan, menutupi kelemahan mereka dengan memisahkan diri dan menarik diri. Anda menemukan bahwa dia langsung menjauhi amal (siyasi), dan mempertahankan kesucian tarbiyahnya agar tidak dicemari oleh najis politik, dan menuduh politisi itu najis sedikit atau banyak.
Sebagian dari reaksi ini adalah perilaku tidak terprogram dan tidak dikaji lebih dulu, dan banyak juga berupa ijtihad serampangan yang memperdalam pemisahan diri ini, bukankah begitu?
Ini semua adalah reaksi, semua reaksi, tapi yang tidak manhaji. Mengapa ya ikhwah?
Jika kita perhatikan, jika kita kembali ke warisan referensi kita dalam pemikiran politik, kita menemukan sesuatu yang sebelumnya tidak kita ketahui, bahwa sebagian besar buku-buku politik ditulis pada era stabilitas, di era khilafah, terutama di era kekhalifahan Abbasiyah. Ini punya indikasi, indikasi apa? Bahwa buku-buku ini merepresentasikan masa stabilitas, dan tidak menampilkan masa kekacauan dimana kita hidup, dan karena itu, sebagian besar buku ini selalu memulai dengan bab imamah (kepemimpinan): tugas Imam, sifat Imam, dan sebagainya. Bukankah begitu?
Pada saat buku-buku ini ditulis, masih ada sejumlah besar kesalehan dan ilmu di kalangan khalifah, dan beberapa masalah sosial yang dialami oleh masyarakat muslim saat itu. Buku-buku ini memang sesuai untuk waktunya, dan menjawab permasalahan di zamannya, dan karena itu Anda tidak menemukan banyak hal “njelimet” di buku-buku politik itu, kecuali buku-buku politik yang ditulis setelah abad kelima hijriyah dan seterusnya, bersama invasi Mongol, bersama masuknya tentara salib ke dunia Islam, dengan kemunculan gubernur dan khalifah yang lemah, dan dengan banyaknya kekalahan. Bersama itu semua, mulailah muncul di kitab-kitab siyasah, misalnya, tema tentang impeachment imam dalam kitab al-Ghayatsi karya Al-Juwaini misalnya. Ini yang pertama.
Karena jamaah sebagai gerakan belum menggeluti pengalaman politik pada tingkat yang luas, kita juga menemukan masalah lain dalam warisan pemikiran politik modern, dan bahwa sebagian besar buku ini ditulis berdasarkan metodologi kitab-kitab politik lama, sehingga kita memiliki warisan pemikiran modern pada saat ini tapi dengan metodologi lama (sama dengan kitab klasik).
Ada hal lain yaitu bahwa sebagian besar dari buku-buku ini ditulis di bawah tekanan politik, tidak seperti buku-buku dahulu. Ada keinginan, bukan kesadaran, hanya reaksi, sampai pada upaya menciptakan harmoni antara pemikiran politik Islam dan warisan pemikiran politik modern.
Misalnya, dalam masalah distribusi kekuasaan, tiga kekuasaan (otoritas), misalnya, buku ini: “Visi Peradaban Komprehensif” yang ditulis oleh sejumlah pemikir internal jamaah, adalah eksplorasi dari pemikiran warisan Islam lama dan juga pemikiran politik Islam modern. Karena ditulis jauh dari praktik (jadi banyak kekurangannya), padahal  semua yang terkait dengan ilmu-ilmu humaniora ditulis setelah eksperimen atau adanya praktik. Teori sosial dalam ilmu humaniora karakternya adalah cerminan atau olahan dari pengalaman sebelumnya. Penulisnya terinspirasi oleh eksperimen yang telah dipraktikkan. Kaidah-kaidah itu diambil dari pengalaman masa lalu, mengapa? Karena eksperimen membuktikan keabsahan asumsi, dan di atasnyalah berbagai teori dibangun. Inilah metodologi dalam ilmu-ilmu humaniora.
Tentu saja, ada wilayah luas mengenai masalah ini, terutama masalah muamalah, dan politik secara umum, ia masuk dalam visi dan misi perbaikan menurut ulama ushul, bukan yang sudah given seperti ibadah dan ‘aqidah. Ia bersifat reformatif.
Apa konsekuensi dari hal ini?
Ada kekosongan manhaji dalam pemikiran politik. Praktik politik ini menjadi tidak matang, karena tidak dipandu oleh warisan intelektual yang matang dalam tema ini. Dan seperti yang saya katakan, ini bukan kesalahan Imam Syahid, beliau hanya belum menyempurnakannya, karena “keburu syahid”, jika beliau hidup dua puluh tahun lagi, mungkin dia punya karya dan sumbangsih lain tentang masalah ini, dengan kejeniusannya, sangat mungkin.
Hal ini telah menciptakan semacam keguncangan dalam pengalaman politik kita.
Jika kita perdalam tema tentang politik, kita menemukan bahwa politik memiliki dua aspek:
Salah satu aspek terkait dengan tujuan, dan aspek lainnya terkait prosesnya, aktifitasnya.
Tentang tujuannya, ini adalah hal yang mulia, dan sebagian besar buku fiqih siyasah berbicara tentang tujuan, bukankah begitu? Anda berbicara tentang tujuannya, jadi aktifis Islam memiliki persepsi bahwa amal siyasi semuanya adalah tujuan, dan lupa pada prosesnya.
Misalnya, kita tidak mengerti mengapa orang Barat takut pada daulah Islamiyah? Kita tidak mengerti.
Tujuan ditegakkannya daulah Islamiyah adalah tujuan mulia, mengapa orang barat takut akan hal itu? Kita tidak mengerti bahwa Barat sadar negara adalah sumber daya, bahwa institusi negara merupakan sumber daya terbesar untuk menghasilkan perubahan.
Lihat, misalnya, dalam Sirah Nabawiyah, berapa yang masuk Islam di periode Makkah? Kita menghitung dua ratus muhajirin ke Madinah, 85 muhajirin ke Habasyah, sekitar tujuh puluh orang dari Anshar, merekalah yang masuk Islam sebelum hijrah Nabi ke Madinah, bukankah begitu? Berapa total? Tiga ratus lima puluh lima (355). Ini modal awal sebuah negara. Dengan tiga ratus lima puluh lima orang berdiri negara di Madinah. Berapa banyak yang masuk Islam dalam sepuluh tahun terakhir di kota ini? Kami hitung, agar Anda lihat. Berapa banyak yang berpartisipasi dalam perang Badar? Tiga ratus dan sekian, riwayat paling banyak menyebutkan tiga ratus sembilan belas. Berapa banyak yang ikut serta dalam perang uhud? Seribu. Berapa banyak yang berpartisipasi dalam perang Khandaq? Tiga ribu, kan? menghadapi sepuluh ribu musuh. Berapa banyak yang ikut dalam Fathu Makkah? Sepuluh ribu. Berapa banyak yang ikut dalam Haji Wada’? Satu riwayat menyatakan: seratus ribu, dan riwayat lain menyebutkan: seratus dua puluh lima ribu. Ini perkiraan. Lalu, apa bedanya? Proses islamisasi dengan perangkat negara, dan tanpa negara, Anda melihat perbedaannya?
Negara, seperti yang kita katakan, memiliki efek multiplier atau pelipatan yang tidak dimiliki institusi lain. Orang kaya dari kita bisa membangun sebuah masjid. Jika kita mendirikan lembaga amal, kita bisa membangun seratus masjid, tapi tidak jika kita membangun sebuah negara, mungkin kita bisa membangun puluhan ribu masjid. Ini yang kita maksud dengan efek pelipatan. Institusi ini memiliki kewenangan dan kapasitas untuk menciptakan pelipatan.
Oleh karena itu, semua ideologi dunia berpikir dengan cara ini, komunisme berpikir seperti ini, kaum liberal berpikir seperti ini, dan kaum nasionalis memikirkan hal ini, dan aktifis Islam berpikir … (suara tertawa).. bukankah begitu?
Anda sekarang ada dalam kepadatan di jalan, mengapa? Karena jika kita ingin mencapai tujuan tertentu, mungkin kita berpikir bahwa orang tidak akan lewat sini, lalu kita lewat sini. Ternyata kita mendapati bahwa semua orang berpikir seperti ini, itu jadi ramai, kemacetan lalu lintas seperti inilah yang terjadi dalam proses politik. Ini adalah bagian dari politik: proses.
Bagian terkait tujuan kita menyebutnya manajemen perubahan, yang menyangkut proses kita menyebutnya manajemen konflik.
Kemacetan inilah yang terjadi sekarang di Musim Semi Arab. Kita berpikir, mengapa Barat takut pada negara Islam? Mereka berpikir dengan metode ini, mereka berpikir dengan metode tadi.
Sekarang lihat sejarah Islam kita, berapa banyak muslim saat Haji Wada’? Di dunia saat Haji Wada? Berapa yang muslim, seratus ribu misalnya, untuk menyederhanakan. Berapa jumlah manusia di dunia? Referensi sejarah memperkirakan sekitar seratus juta, di seluruh dunia. Berapa perbandingannya? Rasionya? Satu banding seribu, kan? Dan sekarang, berapa proporsi muslim-non muslim di dunia? Satu dari empat atau satu dari tiga setengah, bagaimana jadinya? Perbandingan itu berubah dalam lima belas abad. Apa saja faktornya? Negara salah satunya.
Jihad, tentu saja, adalah faktor lain, dan ada banyak faktor dalam melipatgandakan angka-angka ini. Persentase ini berubah. Perbandingan demografis dunia ini, yang disebut demografi keberagamaan, telah banyak berubah karena banyak faktor, termasuk faktor negara. Yang ingin kita perlihatkan di sini dalam kasus kita di sini adalah bahwa banyak aktifis Islam lupa dengan aspek proses politik ini. Dan ketika kepadatan serta kemacetan ini terjadi, kemampuan kita untuk bertahan hidup, dan kemampuan kita untuk berkembang ternyata berbeda dengan idealisme kita. Mereka yang memikirkan tujuan adalah para idealis, bukankah begitu? Tapi saat mereka memasuki proses, mereka tidak berdaya.
Anda menemukan bahwa ada fenomena yang kita sebut fenomena idealis tak berdaya, ideal, tapi tak berdaya, karena kemampuannya terbatas untuk bertarung, artinya tidak memiliki faktor bertahan, dan tidak memiliki faktor-faktor untuk berkembang.
Mencapai kekuasaan negara adalah sesuatu, tapi bertahan dalam kekuasaan negara adalah sesuatu yang lain, begitu kan?
Revolusi Iran – terlepas dari Syiahnya – telah mempertahankan kekuasaannya selama hampir 40 tahun, bukankah begitu? Terlepas dari Syiahnya. Dan revolusi ini telah mengangkat sedari awal proyek senjata nuklir, proyek yang tidak diangkat oleh Jamaah untuk menghadapi dunia. Iran tetap bertahan, terlepas dari Syiahnya, terlepas dari pertumbuhan yang dihasilkannya, namun kenyataannya ia bertahan. Dan kudeta Sudan, terlepas dari pembangunan yang dihasilkannya, dan masalah yang dihadapinya, bertahan selama hampir tiga puluh tahun, bukan? Dan Partai Keadilan Turki, bertahan dalam berkuasa sudah tiga belas tahun, dan kita  berdoa agar Allah mengokohkannya sejak hari ini. Dan jamaah di Mesir bertahan satu tahun. Inilah model yang ada di dunia Islam saat ini.
Dan jika kita ingin menarik sesuatu dari aspek tarbawi tentang masalah ini, kita katakan bahwa ada perbedaan antara shalah (kesalehan) dan fa’iliyyah (efektivitas), kesalehan adalah sesuatu, dan efektivitas adalah sesuatu yang lain. Kita tidak ingin masuk ke dalam berbagai ijtihad poltik ini, tidak. Saya fokus pada aspek tarbawi pada kasus ini, bahwa kesalehan adalah sesuatu, dan efektivitas adalah sesuatu yang lain.
Fokus tarbiyah hanya pada kesalehan tidak pada fa’iliyyah sebabnya adalah kekosongan manhaji dalam aspek politik. Kita mentarbiyah ikhwah dan akhawat dengan nilai-nilai yang akan membuat mereka saleh, tapi kita belum menciptakan efektifitas pada diri mereka.
Karena itu faktor discount dalam idealisme itu besar, kenapa discount lima puluh persen? Terkadang malah mencapai tujuh puluhan.
Ada sebuah buku yang ditulis oleh salah satu pengagum Ustadz Malik bin Nabi, Jawdat Said: “Amal itu Kemampuan dan Kemauan” (Amal = kemampuan + kemauan), inilah yang akan menciptakan keefektifan, ada kemauan, dan ada kapasitas, yang pada intinya menciptakan efektifitas. Nilai-nilai membentuk kesalehan, kemauan dan kemampuan yang membuat efektifitas dan efisiensi.
Saya kira ini adalah tantangan terbesar kita di medan tarbiyah, wallahu a’lam bish-shawab
Wassalamu’alaikum WrWb

Mungkin Anda juga menyukai