Suami Bekerja di Bank

Assalamualaikum wr wb,  afwan saya ingin bertanya kepada ustdz
Bagaimana hukumnya jika istri yg tdk bekerja, dan lebih memilih di rumah.akan tetapi istri tsb memakan nafkah dari suami yang nafkahnya dari pekerjaan di Bank?
Sang istri mengetahui bahwa nafkah dari bank itu adalah nafkah karna riba, akan tetapi dia sudah berusaha memberitahu suaminya agar keluar dari Bank, tetapi suami belum terbuka pintu hatinya utk mencari pekerjaan lain.
Sebaiknya apa yg dilakukan sang istri? Apakah sang istri harus mencari nafkah sementara anaknya masih kecil”?
Apakah dosa bagi sang istri dan anak anaknya krn telah memakan harta haram?
Jazakallah khairan ustadz
Jawaban :
Hendaknya setiap istri shalehah untuk senantiasa mendorong suaminya berlaku ta’at kepada Allah ta’ala dalam setiap ubudiyah dan menjalankan setiap syari’at-Nya, termasuk untuk mencari penghasilan yang halal. Bantulah sang suami, untuk mencari nafkah yang halal, atau setidaknya berpesanlah kepadanya setiap suami hendak mencari nafkah, sebagaimana pesan wanita-wanita shaleh para salaf ;
“Wahai suamiku, berilah makanan yang halal bagi kami, kami sanggup menahan diri dengan bersabar kondisi lapar, namun kami tidak sanggup bersabar dari neraka dan murka Al Jabbar (Allah yang maha mutlak ketetapan-Nya).”
Tunjukkan sikap qona’ah (merasa cukup) sebab salah satu sebab seorang suami tega mencari yang haram, adalah dalam rangka ‘membahagiakan’ keluarganya, agar sang istri senanatiasa terlihat tersenyum.
Wahai para istri beri tahukan pada sang suami  ;
Merupakan musibah besar yang menimpa keluarga muslim adalah penghasilan suami sebagai penanggung jawab nafkah dari sumber yang haram, meskipun hidup terlihat nyaman dipandangan orang lain, atau bisa menikmati fasilitas-fasilitas dari sumber yang haram tadi. Tapi hakekat kehidupan yang dibangun dari perkara yang haram maka akan menyesakkan jiwa, sebagaimana firman Allah ta’ala:
“Siapa yang berpaling dari peringatan yang Aku turunkan, dia akan mendapatkan kehidupan yang sempit…” (QS. Thaha: 124).
Sering sekali para suami beralasan ingin membahagiakan keluarga, mereka harus bergelut dengan kerasnya dunia, hingga tidak memperdulikan halal haram hasil yang mereka dapatkan. Sungguh bukan kebahagiaan yang akan mereka dapatkan, sebab Nabi shalallahu ‘alahi wasallam bersabda ;
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ لَحْمٌ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ ، النَّارُ أَوْلَى بِهِ
“Tidak akan masuk surga, daging yang tumbuh dari as-suht, maka neraka lebih layak baginya.” (HR. Ahmad 14032 dengan sanad jayid sebagaimana keterangan al-Albani).
Jika engkau (wahai para suami) mencemaskan keluargamu dari laparnya didunia, sempitnya kehidupan dunia, tidakkah engkau mencemaskan keselamatan anak istrimu kelak diakherat, yang dagingnya tumbuh dari as suht, bukankah itu membahayakan mereka.
Aisyah menceritakan,
Abu Bakar memiliki seorang budak. Pada suatu hari, sang budak datang dengan membawa makanan dan diberikan kepada Abu Bakar. Setelah selesai makan, sang majikan yang wara’ bertanya, ‘Itu makanan dari mana?’ Si budak menjawab: “Dulu saya pernah berpura-pura jadi dukun semasa jahiliyah. Kemudian aku meramal seseorang. Sebenarnya saya tidak bisa meramal, namun dia hanya saya tipu. Baru saja saya bertemu dengannya dan dia memberi makanan itu, yang baru saja tuan santap.” Seketika itu, Abu Bakar langsung memasukkan jarinya dan memuntahkan seluruh isi perutnya. Abu Bakar mengatakan,
لو لم تخرج إلا مع نفسي لأخرجتها اللهم إني أبرأ إليك مما حملت العروق وخالط الأمعاء
Andaikan makanan itu tidak bisa keluar kecuali ruhku harus keluar (mati), aku akan tetap mengeluarkannya. Ya Allah, aku berlepas diri dari setiap yang masuk ke urat dan yang berada di lambung. (HR. Bukhari, 3554).
Selanjutnya, bagaimana seorang istri yang suaminya bekerja ditempat yang haram, sedangkan istrinya tak mampu mencari nafkah sendiri ? , kami nukilkan
jawaban syaikh Ahmad Khathibah ;
وَإِنْ كَانَ كَسْبُهُ مِنْ عَمَلٍ مُحَرَّمٍ كَمَنْ يَعْمَلُ بِوَظِيْفَةٍ مُحَرَّمَةٍ فَلَهَا أَنْ تَأْخُذَ بِقَدْرِ نَفَقَتِهَا الَّتِي تَحْتَاجُهَا وَعَلَيْهَا أَنْ تَأْمُرَهُ بِتَقْوَى اللهِ وَالْبَحْثِ عَنِ الْحَلاَلِ وَالْبُعْدِ عَنِ الْحَرَامِ
“dan jika pekerjaannya (suami) dari pekerjaan yang haram seperti bekerja pada pekerjaan yang diharamkan, maka istrinya cukup mengambil jatah nafkah yang dibutuhkannya, dan wajib atasnya (istri) untuk senantiasa menyuruh suaminya bertakwa kepada Allah ta’ala dan mencari yang halal dan menjauhi yang haram”.
Semoga Allah buka hati para suami, untuk berusaha mencarikan yang halal untuk anak-istri mereka. Amiin.

Mungkin Anda juga menyukai