Adab Adab Niat

Seorang Muslim membenarkan pentingnya keberadaan niat dan urgensinya bagi seluruh amalan, baik yang berkaitan dengan masalah keagamaan maupun keduniaan, keseluruhan amal tersebut sangat tergantung bagi niatnya.
Niat inilah yang menjadi ukuran suatu amal itu dikatakan kuat atau lemah, sah atau rusak (batal), semua tergantung bagaimana niatnya. Keyakinan seorang Muslim terhadap keharusan niat bagi setiap amal serta kewajiban untuk memperbaikinya bersandar pada:
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus.” (Al Bayyinah: 5)
Nabi Shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda,
“Barangsiapa yang berkeinginan melakukan kebaikan namun dia belum dapat melakukannya, maka dicatat baginya satu kebaikan.” (Diriwayatkan oleh Muslim: 130)
Di dalam sebuah hadits, Nabi Shalallahu ‘alaihi wasalam bersabda,
Manusia ada empat macam, yaitu:
1. Orang yang diberi Allah ‘azza wajalla ilmu dan harta dia mengamalkan ilmunya terhadap hartanya,
2. Maka ada orang lain yang berkata, ‘Andaikan Allah Ta’ala memberikan kepadaku semisal yang diberikan kepadanya, maka aku akan melakukan sebagaimana yang telah dia lakukan, maka kedua orang tersebut sama di dalam mendapatkan pahala.
3. Dan sesorang yang diberi oleh Allah harta dan dia tidak diberikan ilmu sehingga dia menghamburkan hartanya,
4. Maka ada orang lain yang berkata, ‘Andaikan Allah memberikan kepadaku semisal yang diberikan kepadanya, maka aku akan melakukan seperti yang dia lakukan, ‘maka kedua orang tersebut sama di dalam mendapatkan siksa.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah: 4228 dengan sanad yang bagus).
Oleh karena itu orang yang berniat dengan niat yang baik, maka ia diberi pahala amal shalih. Dan orang yang mempunyai niat buruk juga mendapatkan dosa sebagaimana orang yang berbuat buruk, semuanya ini semata-mata kembali kepada niat.
(Diringkas dari kitab Minhajul Muslim karya Syaikh Abu Bakr Jabir al-Jaza`iri)

Mungkin Anda juga menyukai