Kekuatan Do’a dan Tekad

Oleh :  Komiruddin Imron

Dalam suatu episodenya, Syaikh Fahad Al Kandari pernah bercerita,

Dulu saat mengimami sebuah masjid di Kuwait, saya lupa sebuah ayat. Ternyata, ada seorang yg mengoreksi bacaan saya. Hanya seorang, yang ternyata ia adalah kakek tua.
Saya tertarik untuk menemuinya.
Syaikh Fahad: “Kek, anda hafal Qur’an ya?”
Kakek, “Iya, benar.”
Syaikh Fahad: “Masya Allah, tentu anda hafal sejak kecil kan?”
Kakek, “Tidak Syaikh. Saya malah baru mulai menghafal sejak usia 60 tahun.”
Syaikh tertegun.
Syaikh Fahad: “Masya Allah, bagaimana mungkin? Bagaimana ceritanya? Bukannya itu sulit ?”
Kakek, “Tidak juga. Mungkin salah satu penyebabnya, adalah ibuku. Ada satu hal yg selalu ia lakukan, tak pernah ia tinggalkan hingga beliau meninggal.”
Syeikh Fahad,  “Apa itu?”
Kakek,  “Ia tidak pernah berhenti mendoakan ku agar hafal Al-Qur’an…”
Saya tertarik untuk memberikan komentar pada cerita itu karena kejadian yang luar biasa.
Paling tidak ada dua hal yang dapat kita ambil sebagai inspirasi :
Pertama,  Kekuatan doa orang tua terhadap anaknya.  Ini penting kita harus bawahi. Sebab sebagian anak-anak kita ini ada tingkah lakunya tidak begitu menggembirakan.
Bahkan cenderung menyebalkan. Tidak nurut,  susah diingatkan,  lebih senang main game atau gitar-gitaran dari pada membaca atau belajar.
Dalam kondisi seperti ini,  orang tua jangan sekali membenci anaknya. Marah boleh,  tapi jangan sampai keluar kata-kata sumpah serapah dan doa yang buruk.
Marilah kita berpikiran jernih dengan tetap berkata lembut dan menjauhi emosi. Sebab sedurhaka-durhakanya Kan’an masih tetap dipanggil olehayahnya nabi Nuh As dengan panggilan kesayangan,  *YA BUNAYYA.*
وَهِيَ تَجْرِي بِهِمْ فِي مَوْجٍ كَالْجِبَالِ وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَبْ مَعَنَا وَلَا تَكُنْ مَعَ الْكَافِرِينَ
Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil anaknya, sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: “Hai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang yang kafir”. (Qs,  9:43)
Berlapang dada,  memaafkan kesalahan dan selalu mendoakan kebaikan untuknya itu lebih baik dan tindakan yang tepat.
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ ۚ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Hai orang-orang mukmin, sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”  (Qs,  64:14)
Kedua,  *kekuatan tekad.* Bayangkan kakek-kakek yang sudah berumur 60 tahun baru memulai untuk menghapal Al Qur’an.
Sangat sedikit yang berfikir seperti ini apalagi melakukannya. Kalau bukan karena taufiq dari Allah kemudian tekad yang kuat,  tentu kakek tersebut tidak akan sanggup melakukannya. Pepetah arab mengatakan,
إذا صدق العزم وضح السبيل
Idzaa shadaqal azmu wadhahas sabiilu. (Dimana ada kemauan di situ ada jalan).
Jadi kata kuncinya,  tidak ada kata terlambat untuk sebuah kebaikan,  khususnya menghapal Al Qur’an.*
Natar,  19 Agustus 2017

Mungkin Anda juga menyukai