Berjuang Sampai Titik Mastatho’tum

Bismillahirrahmanirrahim…
Adalah Abdullah Al Azzam, seorang syekh teladan dan panutan.
Dihormati lagi disegani oleh para muridnya.
▪Pada suatu saat beliau ditanya oleh muridnya;
“Ya syekh, apa yang dimaksud dengan mastatho’tum”
▪ Sang Syekh-pun membawa muridnya ke sebuah lapangan. Meminta semua muridnya berlari sekuat tenaga, mengelilingi lapangan semampu mereka. Titik dan waktu keberangkatan sama, akan tetapi waktu akhir dan jumlah putaran setiap murid akan berbeda.
● Satu putaran masih belum terasa. Putaran kedua berkurang tenaga. Kini mulai berguguran perlahan di putaran ketiga. Hingga tersisa beberapa saja yang masih berusaha sekuat tenaga.
Hingga akhirnya satu persatu merasa lelah, menyerah. Mereka semuanya menepi ke pinggir lapangan, kelelahan. Mereka sudah berusaha sekuat tenaga, semampu mereka.
Setelah semua muridnya menyerah, Sang Syekh-pun tak mau kalah. Beliau berlari mengelilingi lapangan hingga membuat semua muridnya keheranan.
Semua murid kaget dan tidak tega melihat gurunya yang sudah tua itu kepayahan. Satu putaran masih berseri seri. Dua putaran mulai pucat pasi. Tiga putaran mulai kehilangan kendali. Menuju putaran yang keempat Sang Syekh makin tampak kelelahan, raut mukanya memerah, keringat bertetesan, nafas ter-sengal-sengal tidak beraturan.
Tapi dia tetap berusaha. Beliau terus berlari sekuat tenaga, dari cepat, melambat, lebih mlambat lagi, hingga kemudian beliaupun terhuyung tanpa  penyangga. Energinya terkuras habis tak tersisa. Beliau jatuh pingsan, tak sadarkan diri.
Setelah beliau siuman dan terbangun, muridnya bertanya;
“Syekh, apa yang hendak engkau ajarkan kepada kami?.”
“Muridku, Inilah yg dinamakan titik mastatho’tum❗
Titik di mana saat kita berusaha semaksimal tenaga sampai ALLAH sendiri yang menghentikan perjuangan kita.”*
Jawab Sang Syekh dengan mantap.
Semoga kita mampu memahami khaidah ini, dan menerapkan dalam setiap perjuangan hidup sampai ALLAH Ta’ala sendiri yang menghentikan…Aamiin.

Mungkin Anda juga menyukai