Penyakit Majelis

Pergaulan dengan teman berkonsekuensi sering mengadakan pertemuan dan duduk dalam suatu majelis bersama mereka. Karena itu sudah menjadi keharusan bagi kita mengenal etika dan cara majelis yang bermanfaat, dan menjauhi berbagai penyakit yang biasa melandanya.

Semua itu terhimpun dalam satu prinsip, yaitu mencari manfaat buat agama.  Sesungguhnya prinsip ini merupakan kalimat yang mencakup semua pengertiannya dan mencegah infiltrasi pengertian lain masuk ke dalamnya. Di samping sebagai materi yang paling ringkas untuk menjadi pedoman bersaudara, sebagaimana yan ditegaskan oleh zainul ‘Abidin alias ‘Ali Ibnul Husain ra. melalui ungkapan berikut :

” Sesungguhnya lelaki yang sejati hanya yang mau duduk(bergaul) bersama orang yang dapat memberi masukan bermanfaat bagi agamanya “

Seorang da’i pemula hendaknya rajin membiasakan diri untuk menghadiri majelis-majelis yang dapat memberikan masukan tambahan bagi iman dan ilmunya.  Hendaknya pula dia sering mendatangi majelis-majelis yang memberikan manfaat bagi agamanya, dan tidak mengenal tempat-tempat hiburan dan permainan.  Hendaknya ia mengisi kekosongan waktunya dengan hal-hal yang berguna.

Hal ini telah dijabarkan oleh Iqbal melalui sya’irnya dengan tegas agar kita tidak bertanya-tanya lagi sesudahnya. Ia berkata dalam do’anya kepada Allah SWT  :

” Anugerahilah daku teman setia yang tulus lagi dapat meluruskan kebengkokan fitrahku, Wahai yang menguasai nikmat “

” Anugerahilah daku teman setia lagi berakal yang dapat membimbingku dan dia tidak mempunyai hubungan sama sekali dengan dunia “.

Sesungguhnya teman seorang da’i muslim adalah da’i muslim lainnya yang tidak punya hubungan sama sekali dengan dunia.

” Hubungannya hanyalah dengan masalah-masalah akhirat dan kerinduannya hanya kepada surga. Antara dia dan dunia putus hubungan dan tidak saling kenal. Jika engkau mencarinya dengan teliti, niscaya engkau akan mendapatkannya. Sesungguhnya dia adalah temanmu yang sejati. “

Jadikanlah dia sebagai saudaramu, cintailah dia dan temanilah dia dan berikanlah kepadanya hal yang semisal dengan apa yang diberikannya kepadamu. Jika tidak maka sesungguhnya engkau adalah orang yang lemah, sebagaimana yang dikatakan oleh pepatah berikut :

” Orang yang paling lemah adalah orang yang sembrono dalam mencari teman, dan orang yang lebih lemah dari itu adalah orang yang menyia-yiakan teman-teman yang telah berhasil diraihnya sebagai teman setia. “

Oleh karena itu carilah teman yang sejati, maka kami akan menghapuskan darimu gelar orang yang lemah.

 

 

( Kitab Ar-Raqa’iq karya Syeikh Muhammad Ahmad ar-Rasyid )

 

Mungkin Anda juga menyukai