Meraih Ketinggian harus Ditempuh dengan Kelelahan

Sesungguhnya orang-orang saleh telah memberi petunjuk kepadamu jalan untuk meraih ketinggian dan kepemimpinan dengan niat dan cita-cita. Kamu harus menjalani kelelahan untuk mencapainya dan menanggulangi kesulitan-kesulitannya. Demikian itu karena kepemimpinan merupakan jalan yang jelas kesulitannya.

Mencapai kepemimpinan bukanlah perkara mudah. Kepemimpinan adalah ‘kalimat yang berat’ yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi-Nya dan para pengikutnya ; bahwa mereka harus menjadi pemimpin.

Beban berat ini bisa diperingan oleh niat, sehingga pengaruh yang ditimbulkan oleh kelelahan menjadi minim berkat niat yang baik, sebagaimana yang diisyaratkan oleh orang-orang yang menggambarkan cara melakukan langkah permulaan tadi.  Akan tetapi hidayah hati, kecerahan jiwa, dan bangkitnya cita-cita hanya dapat dihidupkan dengan kesungguhan.  Karena itu barangsiapa yang menghendaki agar semuanya itu tetap lestari, maka dia harus melestarikan kesungguhannya. Hal inilah yang dimaksud oleh ucapan mereka berikut ini :

” Raihlah cahaya hati dengan melestarikan kesungguhan “

Kesungguhan yang lestari merupakan suatu keharusan, mengingat pikiran selalu berputar dan gerakan seluruh anggota tubuh saling berkaitan. Jika hal ini tidak dibarengi dengan kesungguhan yang terus menerus, tentulah semuanya disibukkan oleh hal-hal yang rendah atau kebalikannya. Dan sebagai akibatnya akan terjadi penurunan sesudah mencapai ketinggian. Hal ini telah diperingatkan kepadamu oleh Abdul Wahab ‘Azzam melalui ungkapan berikut :

” Pikiran tidak dapat dibatasi, dan lisan tidak dapat dibungkam, serta anggota tubuh tidak mau diam. Karena itu jika kamu tidak disibukkan dengan hal-hal yang besar, maka kamu akan disibukkan dengan hal-hal yang kecil. ” 

Jika tidak engkau gunakan untuk kebaikan, niscaya semuanya akan berbuat untuk keburukan.

Sesungguhnya jiwa manusia selalu cenderung kepada kesenangan dan kemudahan, dan benci kepada hal yang tidak disukai dan yang berat-berat.  Oleh karena itu bawalah jiwamu kepada hal yang bermanfaat sekalipun berat, sebatas kemampuanmu. Dan jinakkanlah dirimu serta bujuklah ia terhadap hal-hal yang tidak disukai tetapi baik, agar jiwamu terbiasa dengan perkara-perkara yang besar dan bersemangat untuk meraih hal-hal yang tinggi, sehingga muncul rasa antipati terhadap hal-hal yang rendah dan enggan terhadap hal-hal yang kecil.

Ajarilah jiwamu untuk terbang tinggi, niscaya ia tidak akan suka dengan kerendahan.

Kenalkanlah kepadanya kemuliaan, niscaya ia akan membenci kehinaan.

Rasakanlah kepadanya kesenangan ruhani yang besar, niscaya ia akan meremehkan kesenangan jasmani yang kecil.

 

( Kitab Ar-Raqa’iq – syeikh Muhammad Ahmad ar-Rasyid )

Mungkin Anda juga menyukai