Belajarlah dari sejarah dan pengalaman

Oleh : Komiruddin Imron

Negeri ini adalah negeri teraman dalam berdakwah. Setiap orang bebas menyampaikan gagasan dan idenya secara terbuka.

Suara adzan menggema setiap lima waktu, masjid masjid dipenuhi oleh mereka yang mendirikan shalat dan mengkaji ilmu.

Pesanteren pesanteren berdiri di mana mana, diizinkan berkembang dan tak ada yang ditutup.

Para ustadz bebas menjadi Imam masjid, menyampaikan khutbah dan ceramah tanpa harus memilki izin seperti di Negara tetangga.

Indonesia impian semua penyeru kebenaran, surga para dai dalam menyampaikan ajaran Islam. Tapi bukan berarti kita diam terhadap kezaliman para penguasa.

Bukankah mengatakan kebenaran di depan penguasa zalim adalah salah satu bentuk jihad fi sabilillah.

Bukankah kita wajib menolong orang yang zalim dan yang dizalimi?. Orang zalim kita tolong dengan menjelaskan kezalimannya dan menahannya dari berbuat zalim.

Bukankah nabi Allah Musa as terus saja mendakwahkan kebenaran di depan kezaliman Fir’aun?

Bahkan sebahagian kaumnya mengeluhkan dampak dakwah Nabi Allah Musa, karena dakwahnya mereka mala lebih susah.

قَالُوا أُوذِينَا مِنْ قَبْلِ أَنْ تَأْتِيَنَا وَمِنْ بَعْدِ مَا جِئْتَنَا ۚ قَالَ عَسَىٰ رَبُّكُمْ أَنْ يُهْلِكَ عَدُوَّكُمْ وَيَسْتَخْلِفَكُمْ فِي الْأَرْضِ فَيَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُونَ

Kaum Musa berkata: “Kami telah ditindas (oleh Fir’aun) sebelum kamu datang kepada kami dan sesudah kamu datang. Musa menjawab: “Mudah-mudahan Allah membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi(Nya), maka Allah akan melihat bagaimana perbuata (7:128)

Bukankah Rasulullah saw mengumpamakan bahwa kita seperti berada dalam satu bahtera yang sedang berlayar?.

Ada orang yang ingin melobangi bahtera tersebut. Kalau kita diam maka kita akan tenggelam, jika kita larang maka selamatlah seluruh penumpang.

***

Mengetahui lapangan, masalah dan kondisi global dan regional dunia islam adalah kewajiban para da’i.

Supaya dalam memberikan arahan, nasihat, statmen dan penilaian terhadap gerakan lainnya tidak membingungkan.

Apa yang terjadi di belahan dunia berupa krisis itu hasil ijtihad mereka di lapangan. Tidak perlu kita sesalkan

Selama hasil ijtihad walaupun salah, tetap Allah memberikan apresiasi dengan mendapatkan pahala, asal dari awal niatnya ikhlash.

Dan itu resiko dan harga yang harus dibayar dari setiap perjuangan. Tidak ada yang sia sia.

Belum terlihatnya kemenangan kaum muslimin adalah masalah waktu. Tidak bisa diukur dengan satu generasi.

Shalahuddin AlAyuby butuh dapat membebaskan Palestina setelah 100 tahun dikuasi nashrani. Dalam kurun 100 tahun itu begitu banyak kaum muslimin yang berguguran menjadi kurban.

Saifuddin Alqutuz dapat mengembalikan negeri Syam kepangkuan Islam setelah dijajah dan diporak porandakan Bangsa Tatar, ratusan tahun kemudian?

Antara waktu itu tidak sedikit jatuh kurban. Tapi itulah sunatullah yang berlaku.

Muhammad Al fatih dapat merebut konstantinopel setelah berabad abad umat Islam berjuang dan berusaha menaklukkannya. Ratusan ribu nyama melayang gugur sebagai syuhada’ untuk misi tersebut.

Apakah pahlawan yang gugur tersebut sebelum Muhammad AlFatih kita katakan perbuatan mereka sia sia.?

Perlu diingat bahwa kemenangan yang dicapai adalah akumulasi perjuangan yang dilakukan sebelumnya.

**

Bersabarnya kita, bukan berarti diam dan tak bergerak. Nabi Allah Musa juga menyuruh untuk bersabar, tapi perlawanannya dengan Fir’aun tetap berlanjut.

Betul sibuk menuntut ilmu, mengadakan kajian, ceramah daurah dll itu perlu dan tidak boleh ditinggalkan.

Tapi kita juga harus memandang Islam secara syumul. Bahwa itu bagian dari Islam. Ada sisi lain dari Islam yang juga tidak boleh kita lupakan, diantaranya amar ma’ruf nahi mungkar dan “Qaul Haq inda sultan ja’ir”

Saya ingin mengatakan bahwa apa yang terjadi di negeri negeri Islam saat ini menyadarkan umat Islam yang selama ini jauh dari ajarannya bahwa kejayaan mereka ada pada berpegang Teguh pada ajaran Islam.

Natar, 26/1/2017

Mungkin Anda juga menyukai