Surah Al Ashr

TUJUAN UMUM

1.Memperkuat tali ikatan dengan Kitabullah

2.Dasar pemahaman yang benar

3.Penanaman cinta

4.Penguasaan untuk mengajarinya,

5.Merasa terikat dengan taujihnya,

6.Mengamalkan kandungannya,

7.Memurnikan sasaran-sasaran dengan menyesuaikan ruang dan waktu,

8.Kembali kepada Al-Qur’an ketika berselisih.

TUJUAN KHUSUS

1.Menjelaskan kosa kata dan dilalah-nya

2.menjelaskan tentang sikap Hakikat waktu

3.Menjelaskan sikap orang beriman dalam menyikapi kehidupan di dunia

4.Menjelaskan sikap mukmin terhadap waktu

5.Hakikat orang-orang yang beruntung.

SASARAN APLIKATIF DAN PSIKOMOTORIK

1.Baik bacaannya, hapalan dan pemahaman kandungan surat.

2.memperindah bacaan Al-Qur’an

3.Mengokohkan dirinya dengan pelajaran-pelajaran dibalik surat Al-Qur’an

4.Senantiasa ikhlas dalam setiap pekerjaan.

5.Tetap bertawakal kepada Allah dan bergantung kepada-Nya

6.Merenungkan ciptaan Allah di dalam jiwa dan cakrawala.

7.Saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran

8.Sadar bahwa dirinya berkewajiban memberi peringatan karena Allah swt.

9.Merasakan karunia Allah dengan diutusnya seorang Rasul mulia saw.

10.Mencari petunjuk dari ayat-ayat Allah swt. dalam pembahasan ilmiah.

11.Merefleksikan nikmat Allah dengan penuh ketaatan dan jihad dalam jalan-Nya

12.Memperindah bacaan surat Al-‘Ashr.

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pilihan kegiatan yang bisa diselenggarakan dalam halaqah adalah:

  1. Kegiatan Pembuka

Mengkomunikasikan tentang urgensi mengkaji Tafsir surat Al-Asr

  1. Kegiatan Inti
  • Kajian tentang Tafsir surat Al-Asr
  • Berdikusi dan tanya jawab seputar pokok bahasan   ( lihat tujuan Kognitif, afektif dan psikomotor
  • Penekanan dari murobbi tentang nilai dan hikmah yang terkandung dalam materi tersebut
  1. Kegiatan Penutup
  • Tugas mandiri (lihat kegiatan pendukung)
  • Evaluasi (dibuat soal sesuai tujuan khusus, afektif, dan psikomotor)

PILIHAN KEGIATAN PENDUKUNG

1.Belajar membaca surat Al-Qur’an dan menghapalnya

2.Mendokumentasikan film yang berbicara tentang kehebatan Al-Qur’an.

3.Merangkum inti-inti surat dan menulisnya pada kertas di dinding agar mudah dihafal .

4.Menulis cerita yang berkenaan dengan kemulian orang yang bertaqwa dan kehinaan orang yang durhaka

5.Mengadakan Rihlah individu untuk merenungi ayat-ayat Allah.

6.Mengadakan halaqah tahsin Al-Qur’an beserta tafsir untuk remaja dan pemuda.

7.Membahas rahasia-rahasia dan mukjizat yang ada dalam Al-Qur’an

8.Melengkapi buku-buku kaset video dan kaset tafsir yang sederhana

9.Melengkapi kaset-kaset muratal di perpustakaan masjid seperti murattal Syaikh Mahmud Al-Hushori.

SARANA EVALUASI DAN MUTABA’AH

1.Menguji peserta sekitar hukum-hukum tajwid baik teori maupun praktek

2.Menguji hafalan surat setiap peserta secara lafazh dan maknanya

3.Mengevaluasi perilaku peserta dan komitmennya terhadap adab-adab Al-Quran

4.Membuat format untuk mengevaluasi keikutsertaan dalam kegiatan-kegiatan di atas.

SASARAN PEMBELAJARAN

1.Paruh kedua dari Juz Amma (Al-‘ala s/d An-nas)

2.Menjelaskan makna dari kosakata dan dilalah yang ada

3.Menerangkan kesesuian risalah Islam dengan ciptaan Allah.

4.Menyebutkan tugas-tugas Rasul dari kesimpulan surat tersebut .

5.Menjelaskan kehancuran orang-orang zhalim dan dampaknya dalam kemenangan dakwah para da’i, dan meluasnya dakwah islamiyyah.

6.Menerangkan rahasia dibalik ujian Allah, dan pengaruh ujian tersebut terhadap manusia, dan bagaimana sikap seorang mukmin menghadapinya.

7.Menjelaskan fadilah menyegerakan berbuat kebajikan.

8.Memaparkan peranan dai dalam menyebarluaskan akhlak islami.

Muwashafat yang ingin dicapai

SALIMUL AQIDAH

1.Mengimani rukun iman

2.Tidak bersumpah dengan selain Allah swt

3.Tidak tasya’um (merasa sial karena melihat atau mendengar sesuatu)

4.Mengikhlaskan amal untuk Allah swt

5.Mensyukuri nikmat Allah swt saat mendapatkan nikmat

6.Menjadikan syetan sebagai musuh

7.Tidak mengikuti langkah-langkah syetan.

  • SHAHIHUL IBADAH

1.Ihsan dalam shalat

2.Bersemangat untuk shalat berjamaah

3.Bersemangat untuk berjamaah di masjid

4.Menjauhi dosa besar

5.Hafal surat Adh-dhuha sampai An-Naas

6.Qiyamul-Lail minimal sekali sepekan

7.Berpuasa sunnat minimal sehari dalam sebulan

8.Komitmen dengan wirid tilawah harian

9.Berdoa pada waktu-waktu utama

10.Menutup hari-harinya dengan bertaubat dan beristighfar.

  • MATINUL KHULUQ

1.Tidak menjadikan orang buruk sebagai teman / sahabat

2.Tidak memotong pembicaraan orang lain

3.Tidak mencibir dengan isyarat apapun

4.Menyayangi yang kecil

5.Menghormati yang besar

6.Menyimpan rahasia

  • QADIRUN ALAL KASBI

1.Tidak menunda dalam melaksanakan hak orang lain

2.Menjaga fasilitas umum

3.Menjaga fasilitas khusus

  • MUTSAQAFUL FIKRI

1.Baik dalam membaca dan menulis

2.Memperhatikan hukum-hukum tilawah

3.Mengkaji marhalah Makkiyah dan menguasai karakteristinya

4.Tidak menerima suara-suara miring tentang kita

5.Membaca satu juz tafsir Alquran (juz 30)

  • HARITSUN ‘ALA WAQTIHI

1.Bangun pagi

2.Menghabiskan waktu untuk belajar

  • MUJAHIDUN LINAFSIHI

1.Menjauhi segala yang haram

2.Menjauhi tempat-tempat maksiat

3.Menjauhi tempat-tempat bermain yang haram

  • MUNAZHAM FI SYU’UNIHI

–Memperbaiki penampilannya

  • NAFI’UN LIGHAIRIHI

–Membantu yang membutuhkan

–Ikut berpartisipasi dalam kegembiraan

–Memberi petunjuk orang tersesat

Muhtawa

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (3)

  1. Demi masa. 2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, 3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Pendahuluan

  • Surat Al-Ashr adalah Makkiyah yaitu turun sebelum hijrah nabi saw ke madinah
  • Surat ini terdiri dari 3 ayat.

HUBUNGAN SURAT

  • Hubungan surat Al-Ashr dengan surat sebelumnya:

1.Pada surat At Takaatsur Allah menerangkan keadaan orang yang bermegah-megahan dan disibukkan oleh harta benda sehingga lupa dari mengingat Allah, sedang surat Al ’Ashr menerangkan bahwa manusia akan merugi, kecuali kalau mereka beriman, beramal salih dan nasehat menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

2.Pada surat At Takaatsur Allah menerangkan sifat orang yang mengikuti hawa nafsunya, sedang pada surat Al ’Ashr menerangkan sifat orang-orang yang tidak merugi dengan tidak mengikuti hawa nafsu.

  • Hubungan surat Al-Ashr dengan surat sesudahnya:

  Pada surat Al-Ashr Allah menerangkan sifat-sifat orang yang tidak merugi, sedang dalam surat Al-Humazah Allah menerangkan beberapa sifat orang yang selalu merugi.

Kedudukan Surat Al-Ashr

Al Imam Muhammad bin Idris Asy Syafi’i menegaskan tentang kedudukan surat Al ‘Ashr, beliau berkata:

لَوْ تَدَبَّرَ النَّاسُ هَذِهِ السُّوْرَةَ لَوَسِعَتْهُمْ

Sekiranya manusia mau memperhatikan (kandungan) surat ini, niscaya surat ini akan mencukupkan baginya. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir pada Surat Al Ashr)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah mengatakan bahwa perkataan Al Imam Asy Syafi’i itu adalah tepat karena Allah telah mengkhabarkan bahwa seluruh manusia dalam keadaan merugi (celaka) kecuali barang siapa yang mu’min (beriman) lagi shalih (beramal shalih) dan ketika bersama dengan yang lainnya saling berwasiat kepada jalan yang haq dan saling berwasiat di atas kesabaran. (Lihat Majmu’ Fatawa, 28/152).

Keutamaan Surat Al-Ashr

Al Imam Ath Thabrani menyebutkan dari Ubaidillah bin Hafsh, ia berkata: Jika dua shahabat Rasulullah SAW bertemu maka keduanya tidak akan berpisah kecuali setelah salah satu darinya membacakan kepada yang lainnya surat Al Ashr hingga selesai, kemudian memberikan salam. (Al Mujamu Al Ausath no: 5097, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani di dalam Ash Shahihah no. 2648).

Sayyid Qutb berkata:

فِي هَذِهِ السُّوْرَةِ الصَّغِيْرَةِ ذَاتُ الآيَاتِ الثَّلاَثِ يَتَمَثَّلُ مَنْهَجٌ كَامِلٌ لِلْحَيَاةِ الْبَشَرِيَّةِ كَمَا يُرِيْدُهَا الإِسْلاَمُ . وَتَبْرُزُ مَعَالِمَ التَّصَوُّرِ الإِيْمَانِي بِحَقِيْقَتِهِ الْكَبِيْرَةِ الشَّامِلَةِ فِي أَوْضَحِ وَأَدَقِّ صُوْرَةٍ .

إِنَّهَا تَضَعُ الدُّسْتُوْرَ الإِسْلاَمِيَّ كُلَّهُ فِي كَلِمَاتِ قِصَارٍ . وَتَصِفُ الأُمَّةَ الْمُسْلِمَةَ : حَقِيْقَتُهَا وَوَظِيْفَتُهَا . فِي آيَةٍ وَاحِدَةٍ هِي الآيَةُ الثَّالِثَةُ مِنَ السُّوْرَةِ . . وَهَذَا هُوَ الإِعْجَازُ الَّذِي لاَ يَقْدِرُ عَلَيْهِ إِلاَّ اللهُ . .

Dalam surat pendek berjumlah tiga ayat ini merupakan representasi sempurna akan kehidupan insan sebagaimana yang diinginkan oleh Islam.. Menampakkan karakteristik tashawwur (sudut pandang) keimanan dengan hakikatnya yang besar dan komprehenship secara gamblang dan detail sekali.

Ini merupakan dasar-dasar Islam yang terdapat dalam kata-kata singkat, menunjukkan karakter seorang muslim: hakikat dan tugasnya, yang terdapat dalam satu ayat yaitu ayat ketiga dari surat ini, dan ini merupakan kemukjizatan Al-Qur’an yang tidak ada seorangpun mampu membuatnya kecuali Allah SWT.

Pentingnya Waktu dalam Kehidupan

وَالْعَصْرِ

Demi masa.

Allah bersumpah dengan al ‘ashr yang bermakna waktu, zaman atau masa. Pada zaman/masa itulah terjadinya amal perbuatan manusia yang baik atau pun yang buruk. Jika waktu atau zaman itu digunakan untuk amal kebajikan maka itulah jalan terbaik yang akan menghasilkan kebaikan pula. Sebaliknya jika digunakan untuk kejelekan maka tidak ada yang dihasilkan kecuali kerugian dan kecelakaan. Itulah kehidupan manusia.

Rasulullah saw bersabda:

نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌمِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Dua kenikmatan yang kebanyakan orang lalai di dalamnya; kesehatan, dan waktu senggang” (At Tirmidzi no. 2304, dari sahabat Abdullah bin Abbas).

Pentingnya hidup yang memancar melalui waktu

Di hari kiamat kelak Allah akan menanyakan tentang umur seseorang, untuk apa dia pergunakan. Sebagaimana hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Mas’ud, beliau bersabda:

لاَ تَزُولُ قَدَمُ ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَ أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيمَ أَبْلاَهُ وَمَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيمَا عَلِمَ

Tidaklah bergeser telapak kaki bani Adam pada hari kiamat dari sisi Rabb-nya hingga ditanya tentang lima perkara;

1.Umurnya untuk apa ia gunakan,

2.Masa mudanya untuk apa ia habiskan,

3.Hartanya dari mana ia dapatkan

4.Hartanya untuk apa ia belanjakan,

5.Ilmunya apakah diamalkan”. (At Tirmidzi no. 2416 dan dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani di dalam Ash Shahihah no. 947).

Nabi saw bersabda:

عَلَى الْعَاقِلِ مَا لَمْ يَكُنْ مَغْلُوْبًا عَلَى عَقْلِهِ أَنْ يَكُوْنَ لَهُ سَاعَاتٌ سَاعَةٌ يُنَاجِى فِيْهَا رَبَّهُ وَسَاعَةٌ يُحَاسِبُ فِيْهَا نَفْسَهُ وَسَاعَةٌ يَتَفَكَّرُ فِيْهَا فِى صَنْعِ اللهِ وَسَاعَةٌ يَخْلُوْ فِيْهَا لِحَاجَتِهِ مِنَ الْمَطْعَمِ وَالْمَشْرَبِ وَعَلَى الْعَاقِلِ أَنْ لاَ يَكُوْنَ ظَاعِنًا إِلاَّ لِثَلاَثٍ تَزَوَّدُ لِمَعَادٍ أَوْ مَرْمَةً لِمَعَاشٍ أَوْ لَذَّةً فِى غَيْرِ مُحَرَّمٍ وَعَلَى الْعَاقِلِ أَنْ يَكُوْنَ بَصِيْرًا بِزَمَانِهِ مُقْبِلاً عَلَى شَأْنِهِ حَافِظًا لِلِسَانِهِ وَمِنْ حَسَبِ كَلاَمِهِ مِنْ عَمَلِهِ قَلَّ كَلاَمُهُ إِلاَّ فِيْمَا يَعْنِيْهِ

  • Orang yang berakal selama belum hilang akalnya membagi hidupnya pada 4 waktu:

1.Waktu untuk bermunajat (ibadah) kepada Allah

2.Waktu untuk muhasabah diri

3.Waktu untuk tafakkur terhadap ciptaan Allah

4.Waktu untuk memenuhi kebutuhannya dari makan dan minum

  • Orang yang berakal tidaklah akan bekerja dengan sungguh-sungguh kecuali untuk tiga perkara:

1.Memperbanyak untuk hari akhir

2.Meningkatkan kemampuan untuk kehidupan

3.Meraih kenikmatan selama bukan yang haram

  • Orang yang berakal harus senantiasa sadar dalam menjaga waktu, perhatian dengan kondisinya dan menjaga lisannya. Dan cukuplah baginya ucapan daripada perbuatan dengan sedikit berbicara kecuali yang bermanfaat (Ibnu Hibban)

Nabi saw bersabda:

مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ

Diantara Ihsannya Islam seseorang adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat (Muwattha Imam Malik).

Mayoritas manusia merugi

إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ

Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian

Manusia dalam kerugian dan kesesatan, kekufuran dan kebinasaan, karena ia terjerumus ke dalam kemaksiatan dan kekufuran serta dosa-dosa yang dipilihnya sendiri. Manusia bagai tenggelam dalam kerugian yang mengelilinginya dari berbagai penjuru. Sebab itu telah melakukan dosa terhadap hak-hak Allah yang memelihara dan memberinya berbagai nikmat dan kebaikan.

Mayoritas manusia merugi

  • Lafazh al insan pada ayat di atas secara kaidah tata bahasa Arab mencakup keumuman manusia tanpa terkecuali. Allah tidak memandang agama, jenis kelamin, status, martabat, dan jabatan, melainkan Allah mengkhabarkan bahwa semua manusia itu dalam keadaan celaka kecuali yang memilki empat sifat yang terdapat pada kelanjutan ayat tersebut.
  • Kerugian yang dimaksud dalam ayat ini ada dua macam:
  • Kerugian yang bersifat mutlak, seperti keadaan orang yang merugi di dunia dan di akhirat, yang dia kehilangan kenikmatan dan diancam dengan balasan di dalam neraka jahim.
  • Kerugian tidak mutlak yang menimpa seseorang akan namun hanya sebagian saja. (Taisir Karimirrahman, karya Asy Syaikh Abdurrahman As Sa’di).

Solusi Agar selamat dari Kerugian

إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Manusia, semuanya merugi karena dosa yang membinasakan kecuali yang dipelihara Allah dan ditunjukkan kepada kebaikan, seperti:

1.Orang-orang yang beriman kepada Allah, malaikat-Nya, dan rasul-rasul-Nya dengan keimanan yang tulus.

2.Orang-orang yang mengerjakan amal shalih yang berguna dan diridhai Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang beriman.

3.Orang-orang yang senantiasa menasihati yang lain tentang kebenaran dan keteguhan yang didukung oleh dalil yang kuat dan syairah yang tepat.

4.Orang-orang yang senantiasa menasihati yang lain untuk bersabar menghadapi hal-hal yang tidak disukai dan berbagai kesulitan.

Solusi Agar selamat dari Kerugian

Pertama: Keimanan
à Sifat yang pertama adalah beriman, diambil dari penggalan ayat:

إِلاَّ الَّذيْنَ ءَامَنُوْا

Kecuali orang-orang yang beriman

à Iman adalah keimanan terhadap seluruh apa yang Allah perintahkan untuk mengimaninya, dari beriman kepada Allah, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, malaikat-malaikat-Nya, hari akhir, dan beriman kepada takdir, serta segala sesuatu yang dapat mendekatkan kepada Allah dari keyakinan-keyakinan yang benar dan ilmu yang bermanfaat.
à Penggalan ayat di atas memiliki kandungan makna yang amat berharga yaitu tentang kewajiban menuntut ilmu agama yang telah diwariskan oleh Nabi.
à Mengapa demikian? Tentu, karena tidaklah mungkin seseorang mencapai keimanan yang benar dan sempurna tanpa adanya ilmu pengetahuan terlebih dahulu dari apa yang ia imani dari Al Qur’an dan As Sunnah.

Solusi Agar selamat dari Kerugian

  • Kedua: Beramal shalih
    Sifat yang kedua adalah beramal shalih, diambil dari penggalan ayat (artinya):

وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ

Dan beramal shalih.

  • Amalan shalih itu mencakup amalan zhahir yang dikerjakan oleh anggota badan maupun amalan batin, baik amalan tersebut bersifat fardhu (wajib) atau pun bersifat mustahab (anjuran).
  • Keterkaitan antara iman dan amal shalih itu sangatlah erat dan tidak bisa dipisahkan. Karena amal shalih itu merupakan buah dan konsekuensi dari kebenaran iman seseorang. Atas dasar ini para ulama’ menyebutkan salah satu prinsip dasar dari Ahlus Sunnah wal jama’ah bahwa amal shalih itu bagian dari iman. Iman itu bisa bertambah dengan amalan shalih dan akan berkurang dengan amalan yang jelek (kemaksiatan).

Solusi Agar selamat dari Kerugian

  • Oleh karena itu, dalam Al Qur’an Allah banyak menggabungkan antara iman dan amal shalih dalam satu konteks, seperti dalam ayat ini atau ayat-ayat yang lainnya. Diantaranya firman Allah (artinya): “Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami berikan balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An Nahl: 97)
    Berkata Asy Syaikh Abdurrahman As Sa’di: “Jika dua sifat (iman dan amal shalih) di atas terkumpul pada diri seseorang maka dia telah menyempurnakan dirinya sendiri.” (Taisir Karimirrahman).

Solusi Agar selamat dari Kerugian

Ketiga: Saling menasehati dalam kebenaran

  • Merupakan salah satu dari sifat-sifat yang menghindarkan seseorang dari kerugian adalah saling menasehati diantara mereka dalam kebenaran, dan di dalam menjalankan ketaatan kepada Allah serta meninggalkan perkara-perkara yang diharamkan-Nya.
  • Nasehat merupakan perkara yang agung, dan merupakan jalan rasul di dalam memperingatkan umatnya, sebagaimana Nabi Nuh ketika memperingatkan kaumnya dari kesesatan: “Dan aku memberi nasehat kepada kalian.” (Al A’raaf: 62).
    Kemudian Nabi Hud yang berkata kepada kaumnya: “Aku hanyalah pemberi nasehat yang terpercaya bagimu.” (Al A’raaf: 68).

Solusi Agar selamat dari Kerugian

  • Dengan nasehat itu maka akan tegak agama ini, sebagaimana sabda Rasulullah di dalam haditsnya:

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ

Agama ini adalah nasehat” (Muslim no. 90 dari shahabat Tamim Ad Daari)

  • Bila nasehat itu mulai kendor dan runtuh maka akan runtuhlah agama ini, karena kemungkaran akan semakin menyebar dan meluas. Sehingga Allah melaknat kaum kafir dari kalangan Bani Israil dikarenakan tidak adanya sifat ini sebagaimana firman-Nya (artinya): “Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan mungkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka perbuat.” (Al Maidah: 79).

Solusi Agar selamat dari Kerugian

Keempat: Saling menasehati dalam kesabaran

àSaling menasehati dalam berbagai macam kesabaran, sabar di atas ketaatan terhadap Allah ? dan menjalankan segala perintah-Nya serta menjauhi larangan-Nya, sabar terhadap musibah yang menimpa serta sabar terhadap takdir dan ketetapan-Nya.
Orang-orang yang bersabar di atas kebenaran dan saling menasehati satu dengan yang lainnya, maka sesungguhnya Allah telah menjanjikan bagi mereka pahala yang tidak terhitung, Allah berfirman (artinya):

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Az Zumar:10)

Solusi Agar selamat dari Kerugian

Jika telah terkumpul pada diri seseorang keempat sifat ini, maka dia telah mencapai puncak kesempurnaan. Karena dengan dua sifat pertama (iman dan amal shalih) ia telah menyempurnakan dirinya sendiri, dan dengan dua sifat terakhir (saling menasehati dalam kebenaran dan dalam kesabaran) ia telah menyempurnakan orang lain. Oleh karena itu, selamatlah ia dari kerugian, bahkan ia telah beruntung dengan keberuntungan yang agung.

Penutup

Surat Al ‘Ashr semoga dapat memberikan bimbingan kepada kita semua di dalam menempuh agama yang telah diridhai oleh Allah ini. Dan tentunya kita berharap agar dapat memiliki 4 sifat yang akan menyelamatkan kita dari kerugian baik di dunia maupun di akhirat.

Amin, Ya Rabbalalamin.

Mungkin Anda juga menyukai