Tafsir Surah An-Naas

TUJUAN UMUM

1.Memperkuat tali ikatan dengan Kitabullah

2.Dasar pemahaman yang benar

3.Penanaman cinta

4.Penguasaan untuk mengajarinya,

5.Merasa terikat dengan taujihnya,

6.Mengamalkan kandungannya,

7.Memurnikan sasaran-sasaran dengan menyesuaikan ruang dan waktu,

8.Kembali kepada Al-Qur’an ketika berselisih.

TUJUAN KHUSUS

1.Menjelaskan kosa kata dan dilalahnya.

2.Menjelaskan surat yang setara dengan sepertiga surat dengan menerangkan dalil-dalilnya dari sunah.

3.Mengenali surat-surat pengusir syetan, pembatal sihir, dan penjaga manusia dari godaan syetan.

SASARAN  AFEKTIF

1.Baik bacaannya, hafalan dan pemahaman kandungan surat.

2.Meluruskan pemahaman yang salah yang ada di Masyarakat.

3.Tetap bertawakal kepada Allah dan bergantung kepadaNya

4.Senantiasa mempersiapakan diri untuk bertemu Allah dengan bekal ketakwaan

5.Mencari petunjuk dari ayat-ayat Allah swt dalam pembahasan ilmiah.

6.Menjauhi para penjajah nafsu orang munafik dan berlindung kepada Allah dari mereka.

SASARAN PSIKOMOTORIK

1.Memperindah bacaan surah Annas

2.selalu mewiridkan surat Annas diwaktu pagi dan petan

3.membacanya pada waktu-waktu tertentu

KEGIATAN PEMBELAJARAN

Pilihan kegiatan yang bisa diselenggarakan dalam halaqah adalah:

  1. Kegiatan Pembuka
  • —Mengkomunikasikan tentang urgensi mengkaji Tafsir surat An-Nas
  1. Kegiatan Inti:
  • Kajian tentang Tafsir surat An-Nas
  • Berdikusi dan tanya jawab seputar pokok bahasan   ( lihat tujuan Kognitif, afektif dan psikomotor
  • Penekanan dari murobbi tentang nilai dan hikmah yang terkandung dalam materi tersebut
  1. Kegiatan Penutup:
  • –Tugas mandiri (lihat kegiatan pendukung)
  • –Evaluasi (dibuat soal sesuai tujuan khusus, afektif, dan psikomotor)

PILIHAN KEGIATAN PENDUKUNG

1.Belajar membaca surat Al-Qur’an dan menghapalnya

2.Mendokumentasikan film yang berbicara tentang kehebatan Al-Qur’an.

3.Merangkum inti-inti surat dan menulisnya pada kertas di dinding agar mudah dihafal .

4.Menulis cerita yang berkenaan dengan kemulian orang yang bertaqwa dan kehinaan orang yang durhaka

5.Mengadakan Rihlah individu untuk merenungi ayat-ayat Allah.

6.Mengadakan halaqah tahsin Al-Qur’an beserta tafsir untuk remaja dan pemuda.

7.Membahas rahasia-rahasia dan mukjizat yang ada dalam Al-Qur’an

8.Melengkapi buku-buku kaset video dan kaset tafsir yang sederhana

9.Melengkapi kaset-kaset muratal di perpustakaan masjid seperti murattal Syaikh Mahmud Al-Hushori.

SARANA EVALUASI DAN MUTABA’AH

1.Menguji peserta sekitar hukum-hukum tajwid baik teori maupun praktek

2.Menguji hafalan surat setiap peserta secara lafazh dan maknanya

3.Mengevaluasi perilaku peserta dan komitmennya terhadap adab-adab Al-Quran

4.Membuat format untuk mengevaluasi keikutsertaan dalam kegiatan-kegiatan di atas

SASARAN PEMBELAJARAN

1.Paruh kedua dari Juz Amma (Al-‘ala s/d An-nas)

2.Menjelaskan makna dari kosakata dan dilalah yang ada

3.Menerangkan kesesuian risalah Islam dengan ciptaan Allah.

4.Menyebutkan tugas-tugas Rasul dari kesimpulan surat tersebut .

5.Menjelaskan kehancuran orang-orang zhalim dan dampaknya dalam kemenangan dakwah para da’i, dan meluasnya dakwah islamiyyah.

6.Menerangkan rahasia dibalik ujian Allah, dan pengaruh ujian tersebut terhadap manusia, dan bagaimana sikap seorang mukmin menghadapinya.

7.Menjelaskan fadilah menyegerakan berbuat kebajikan.

8.Memaparkan peranan dai dalam menyebarluaskan akhlak islami.

Muwashafat yang ingin dicapai

SALIMUL AQIDAH

1.Tidak berhubungan dengan jin

2.Tidak meminta tolong kepada orang yang berlindung kepada jin

3.Tidak menghadiri majlis dukun dan peramal

4.Mengimani rukun iman

5.Menjadikan syetan sebagai musuh

6.Tidak mengikuti langkah-langkah syetan.

—SHAHIHUL IBADAH

1.Hafal surat Adh-dhuha sampai An-Naas

2.Komitmen dengan wirid tilawah harian

3.Berdoa pada waktu-waktu utama

4.Menjauhi dosa besar

5.Merutinkan dzikir pagi hari

6.Merutinkan dzikir sore hari

7.Dzikir kepada Allah swt dalam setiap keadaan

8.Menutup hari-harinya dengan bertaubat dan beristighfar.

—MATINUL KHULUQ

1.Tidak Takabbur

2.Tidak mencaci maki

3.Tidak mengadu domba

4.Tidak ghibah

5.Tidak menjadikan orang buruk sebagai teman / sahabat.

—MUTSAQAFUL FIKRI

1.Baik dalam membaca dan menulis

2.Memperhatikan hukum-hukum tilawah

3.Mengkaji marhalah Makkiyah dan menguasai karakteristinya

4.Tidak menerima suara-suara miring tentang kita

5.Membaca satu juz tafsir Alquran (juz 30).

—MUJAHIDUN LINAFSIHI

1.Menjauhi segala yang haram

2.Menjauhi tempat-tempat maksiat

3.Menjauhi tempat-tempat bermain yang haram

—MUNAZHAM FI SYU’UNIHI

◦Tidak menjalin hubungan dengan lembaga-lembaga yang menentang Islam

—NAFI’UN LIGHAIRIHI

◦Memberi petunjuk orang tersesat

 

Al-Muhtawa

ُُُقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلَهِ النَّاسِ (3) مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ (4) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (6

Katakanlah, “Aku berlidung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. 2. Raja manusia. 3. Sembahan manusia. 4. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, 5. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia. 6. Dari (golongan) jin dan manusia.”

Kedudukan dan keuatamaan surat An-Naas

  • Surat An-Naas terdiri dari 6 ayat
  • Surat ini terdapat pada urutan terakhir dalam susunan Al-Qur’an
  • Menurut pendapat para ulama di bidang tafsir bahwa surat An-Naas termasuk golongan surat Makkiyah (turun sebelum hijrah).

Surat An Naas merupakan salah satu Al Mu’awwidzataini. Yaitu dua surat yang mengandung permohonan perlindungan, yang satunya adalah surat Al Falaq.

Kedua surat ini memiliki kedudukan yang tinggi diantara surat-surat yang lainnya. Rasulullah SAW bersabda:

أُنْزِلَ أَوْ أُنْزِلَتْ عَلَيَّ آيَاتٌ لَمْ يُرَ مِثْلُهُنَّ قَطُّ الْمُعَوِّذَتَيْنِ

Telah diturunkan kepadaku ayat-ayat yang tidak semisal dengannya yaitu Al Mu’awwidataini (surat An Naas dan surat Al Falaq).” (Muslim no. 814, Tirmidzi no. 2827, Nasa’i no. 944)

Setelah turunnya dua surat ini, Rasulullah SAW mencukupkan keduanya sebagai bacaan (wirid) untuk membentengi diri dari pandangan jelek jin maupun manusia. (Tirmidzi no. 1984, dari shahabat Abu Sa’id ra)

Namun bila disebut Al Mu’awwidzat, maka yang dimaksud adalah dua surat ini dan surat Al Ikhlash. Al Mu’awwidzat, salah satu bacaan wirid/dzikir yang disunnahkan untuk dibaca sehabis shalat. Shahabat ‘Uqbah bin ‘Amir membawakan hadits dari Rasulullah SAW, bahwa beliau SAW bersabda:

اقْرَأُوا الْمُعَوِّذَاتِ فِيْ دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ
Bacalah Al Mu’awwidzat pada setiap sehabis shalat.” (Abu Dawud no. 1523, dishahihkan oleh Asy Syaikh Al Albani dalam Ash Shahihah no. 1514)

Al Mu’awwidzat juga dijadikan wirid/dzikir di waktu pagi dan sore. Nabi saw bersabda: Barangsiapa yang membacanya sebanyak tiga kali diwaktu pagi dan sore, niscaya Allah subhanahu wataala akan mencukupinya dari segala sesuatu”. (Abu Daud no. 4419, Naasaa’i no. 5333, dan Tirmidzi no. 3399)

Demikian pula disunnahkan membaca Al Mu’awwidztat sebelum tidur. Caranya, membaca ketiga surat ini lalu meniupkan pada kedua telapak tangannya, kemudian diusapkan ke kepala, wajah dan seterusnya ke seluruh anggota badan, sebanyak tiga kali. (Bukhari 4630

Al Muawwidzat juga bisa dijadikan bacaan ‘ruqyah’ (pengobatan ala islami dengan membaca ayat-ayat Al Qur’an). Dipenghujung kehidupan Rasulullah saw, beliau dalam keadaan sakit. Beliau meruqyah dirinya dengan membaca Al Muawwidzat, ketika sakitnya semakin parah, maka Aisyah yang membacakan ruqyah dengan Al Muawwidzat tersebut. (Al Bukhari no. 4085 dan Muslim no. 2195)

HUBUNGAN SURAT

—Hubungan surat An-Naas dengan surat sebelumnya

◦Kedua-duanya sama-sama mengajarkan kepada manusia, hanya kepada Allah-lah menyerahkan diri dari segala kejahatan

◦Surat Al-Falaq memerintahkan untuk memohon perlindungan dari segala bentuk kejahatan, sedang surat An-Naas memerintahkan untuk memohon perlindungan dari jin dan manusia.

TAFSIR AYAT 1-3

Memohon perlindungan kepada Allah

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ

Katakanlah (Wahai Muhammad): “Aku berlindung kepada Rabb manusia.”

مَلِكِ النَّاسِ

“Raja manusia.”

إِلَهِ النَّاسِ

Sembahan manusia.”

Tiga ayat diatas merupakan sebuah tarbiyah ilahiyah, Allah memerintahkan kepada Nabi-Nya untuk memohon perlindungan hanya kepada-Nya. Karena Dia adalah:
* Rabb (yaitu sebagai pencipta, pengatur, dan pemberi rizki),
* Al Malik (pemilik dari segala sesuatu yang ada di alam ini),
* Al Ilah (satu-satunya Dzat yang berhak diibadahi).
Dengan ketiga sifat Allah SWT ini, Nabi Muhammad diperintah untuk memohon perlindungan hanya kepada-Nya, dari kejelekan was-was yang dihembuskan syaithan dan dari kejahatan karena kedengkian jin dan manuisa.
Sebuah pendidikan Rabbani, bahwa semua yang makhluk Allah SWT adalah hamba yang lemah, butuh akan pertolongan-Nya SWT. Termasuk Nabi Muhammad SAW beliau adalah manusia biasa yang butuh akan pertolongan-Nya. Sehingga beliau adalah hamba yang tidak boleh disembah, bukan tempat untuk meminta pertolongan dan perlindungan, dan bukan tempat bergantung.

الإِسْتِعَاذَةُ فِي هَذِهِ السُوْرَةِ بِرَبِّ النَّاسِ ، مَلِكِ النَّاسِ ، إِلَهِ النَّاسِ . وَالْمُسْتَعَاذُ مِنْهُ هُوَ : شَرُّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ ، الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُوْرِ النَّاسِ ، مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ .

Memohon perlindungan yang disebutkan pada surat ini adalah kepada Tuhan manusia, raja manusia dan sembahan manuisa.

Yang dimintakan perlindungan darinya adalah

Jahatnya bisikan yang bersumber dalam dada manusia; baik dari jin atau manuisa.

وَالاِسْتِعَاذَةُ بِالرَّبِّ ، الْمَلِكِ ، الإِلَهُ ، تَسْتَحْضِرُ مِنْ صِفَاتِ اللهِ سُبْحَانَهُ مَا بِهِ يَدْفَعُ الشَّرَّ عَامَةً ، وَشَرَّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ خَاصَةً.

Memohon perlindungan kepada Tuhan, Raja dan Ilah akan menghadirkan sifat-sifat Allah yang dapat menolak segala kejahatan secara umum dan kejahatan bisikan secara khusus.

فَالرَّبُّ هُوَ الْمُرَبِّي وَالْمُوَجِّهُ وَالرَّاعِي وَالْحَامِي . وَالْمَلِكُ هُوَ الْمَالِكُ الْحَاكِمُ الْمُتَصَرِّفُ . وَالإِلَهُ هُوَ الْمُسْتَعْلِي الْمُسْتَوْلِي الْمُتَسَلِّطُ . . وَهَذِهِ الصِّفَاتُ فِيْهَا حِمَايَةٌ مِنَ الشَّرِّ الَّذِي يَتَدَسَّسُ إِلَى الصُّدُوْرِ . . وَهِيَ لاَ تَعْرِفُ كَيْفَ تَدْفَعُهُ لأَنَّهُ مَسْتُوْرٌ .

Ar-Rabb adalah murabbi (yang membimbing, mengarahkan, memelihara dan melindungi.

Al-Malik adalah yang memiliki, yang menentukan dan mengatur.

Al-Ilah adalah yang Maha tinggi, berkuasa dan menekan.

Sifat-sifat ini dapat memberikan perlindungan dari segala kejahatan yang berasal dari dada (hati), yang kebanyakan manusia tidak mampu melakukannya karena tersembunyi.

وَاللهُ رَبُّ كُلِّ شَيْءٍ ، وَمَلِكُ كُلِّ شَيْءٍ ، وَإِلَهُ كُلِّ شَيْءٍ . وَلَكِنْ تَخْصِيْصُ ذِكْرِ النَّاسِ هُنَا يَجْعَلُهُمْ يَحُسُّوْنَ بِالْقُرْبَى فِي مَوْقِفِ الْعِيَاذِ وَالاِحْتِمَاءِ .

Allah adalah Pengatur dan penata dari segala sesuatu, pemilik dari segala sesuatu dan Ilah (Tuhan) yang berhak disembah dari segala sesuatu. Namun dikhususkan penyebutan beriring dengan sebutan manusia membuat mereka merasakan kedekatan terutama pada saat memohon perlindungan dan penjagaan.

وَاللهُ بِرَحْمَةٍ مِنْهُ يُوَجِّهُ رَسُوْلَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأُمَّتَهُ إِلَى الْعِيَاذِ بِهِ وَالاِلْتِجَاءِ إِلَيْهِ ، مَعَ اسْتِحْضَارِ مَعَانِي صِفَاتِهِ هَذِهِ ، مِنْ شَرٍّ خَفِيِّ الدَّبِيْبِ ، لاَ قِبَلَ لَهُمْ بِدَفْعِهِ إِلاَّ بِعَوْنٍ مِنَ الرَّبِّ الْمَلِكِ الإِلَهِ . فَهُوَ يَأْخُذُهُمْ مِنْ حَيْثُ لاَ يَشْعُرُوْنَ ، وَيَأْتِيْهِمْ مِنْ حَيْثُ لاَ يَحْتَسِبُوْنَ ..

Allah dengan rahmat-Nya memberikan pengarahan kepada Rasulullah saw dan umat untuk senantiasa berlindung dan bersimpuh kepada-Nya, diiringi dengan menghadirkan makna dari sifat-sifat-Nya dari berbagai bisikan yang tersembunyi yang tidak memiliki kekuatan untuk menghadapinya kecuali dengan pertolongan Allah; Rabb, al-Malik dan al-Ilah. Karena bisikan tersebut hadir dari arah yang tidak dapat mereka rasakan, datang dari arah yang tidak mereka duga.

TAFSIR AYAT 4

Jenis permohonan perlindungan

مِن شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ

“Dari kejahatan (bisikan) syaithan yang biasa bersembunyi.”

Makna Al was-was adalah bisikan yang betul-betul tersembunyi dan samar, à Sementara makna al khannas adalah mundur.
Bagaimana maksud dari ayat ini?
à Maksudnya, bahwasanya syaithan selalu menghembuskan bisikan-bisikan yang menyesatkan manusia disaat manusia lalai dari berdzikir kepada Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya (artinya):
Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Rabb yang Maha Pemurah (Al Qur’an), Kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan). Maka syaitan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (Az Zukhruf: 36)
Adapun ketika seorang hamba berdzikir kepada Allah subhanahu wata’ala, maka syaithan bersifat khannas yaitu ‘mundur’ dari perbuatan menyesatkan manusia. Sebagaimana dalam firman-Nya (artinya):
Sesungguhnya syaitan itu tidak mempunyai kekuasaan atas orang-orang yang beriman dan bertawakkal kepada Rabb-nya.” (An Nahl: 99)

Al Imam Ibnu Katsir di dalam kitab tafsirnya ketika membawakan penafsiran dari Sa’id bin Jubair dan Ibnu ‘Abbas, yaitu: Syaithan bercokol di dalam hati manusia, apabila dia lalai atau lupa maka syaithan menghembuskan was-was padanya, dan ketika dia mengingat Allah subhanahu wata’ala maka syaithan lari darinya.

والإنسان عاجز عن دفع الوسوسة الخفية . ومن ثم يدله الله على عدته وجنته وسلاحه في المعركة الرهيبة!

وهناك لفتة ذات مغزى في وصف الوسواس بأنه { الخناس } . . فهذه الصفة تدل من جهة على تخفيه واختبائه حتى يجد الفرصة سانحة فيدب ويوسوس . ولكنها من جهة أخرى توحي بضعفه أمام من يستيقظ لمكره ، ويحمي مداخل صدره . فهو سواء كان من الجنة أم كان من الناس إذا ووجْه خنس ، وعاد من حيث أتى ، وقبع واختفى . أو كما قال الرسول الكريم في تمثيله المصور الدقيق : « فإذا ذكر الله تعالى خنس ، وإذا غفل وسوس » .

وهذه اللفتة تقوي القلب على مواجهة الوسواس . فهو خناس . ضعيف أمام عدة المؤمن في المعركة .

Bahwa manusia memang lemah dari menolak bisikan yang tersembunyi. Karena itulah Allah memberikan petunjuk dengan perangkat, benteng dan senjata dalam perang yang sangat mengerikan!

Ada pelajaran yang sangat penting dalam mensifati kata-kata “Al-waswas” yaitu dengan Al-Khannas… bahwa sifat ini –dari satu sisi- menunjukkan tersembunyi dan samar sehingga mendapatkan kesempatan yang baik untuk membisikkan dan merayu. Namun –dari sisi lain- mengisyaratkan kelemahannya dihadapan orang-orang yang sadar akan tipu daya dan selalu melindungi pintu-pintu masuk yang ada di dadanya. Baik yang berasal dari jin atau dari manusia, jika mampu dihadapai akan lambat dan kembali lagi sebagaimana semula, lalu menutup dan bersembenyi. Atau seperti yang disabdakan oleh nabi saw: “jika ia berdzikir kepada Allah maka ia akan menjauh namun jika lengah maka ia akan membisiki”

Dari pelajaran ini akan memperkuat hati dalam menghadapi berbagai bisikan, karena ia adalah lambat, lemah dihadapan orang yang beriman dan sadar terhadap perang ini.

TAFSIR AYAT 5

Jenis dan Cara kejahatan

الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ

“Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.”

Inilah misi syaithan yang selalu berupaya menghembuskan was-was kepada manusia;
* Menghiasi kebatilan sedemikian indah dan menarik.
* Mengemas kebenaran dengan kemasan yang buruk.
Sehingga seakan-akan yang batil itu tampak benar dan yang benar itu tampak batil.
Cobalah perhatikan, bagaimana rayuan manis syaithan yang dihembuskan kepada Nabi Adam dan istrinya. Allah SWT kisahkan dalam firman-Nya :
Maka syaitan membisikkan pikiran jahat kepada keduanya untuk menampakkan kepada keduanya apa yang tertutup dari mereka yaitu auratnya, dan syaitan berkata: “Rabb-mu tidak melarangmu untuk mendekati pohon ini, melainkan supaya kamu berdua tidak menjadi malaikat atau tidak menjadi orang-orang yang kekal (dalam al jannah/surga)”. (Al A’raf: 20)

Demikian pula, kisah ketika Rasulullah saw sedang beri’tikaf. Shafiyyah bintu Huyay (salah seorang istri beliau saw) mengunjunginya di malam hari. Setelah berbincang beberapa saat, maka Rasulullah saw mengantarkannya pulang ke kediamannya. Namun perjalanan keduanya dilihat oleh dua orang Al Anshar. Kemudian syaithan menghembuskan ke dalam hati keduanya perasaan was-was (curiga). Rasulullah saw melihat gelagat yang kurang baik dari keduanya. Oleh karena itu Rasulullah saw segera mengejarnya, seraya bersabda:

عَلَى رِسْلِكُمَا, إِنَّهَا صَفِيَّةُ بِنْتُ حُيَيّ فَقَالاَ: سُبْحَانَ الله يَارَسُولَ الله. فَقَالَ: إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّم, وَإِنِّي خَشِيْتُ أَنْ يُقْذَفَ فِي قُلُوبِكُمَاشَيْئاً, أَوْشَرًّا.

Tenanglah kalian berdua, dia adalah Shafiyyah bintu Huyay. Mereka berdua berkata: “Maha Suci Allah wahai Rasulullah. Maka Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya syaithan mengalir di tubuh bani Adam sesuai dengan aliran darah, dan aku khawatir dihembuskan kepada kalian sesuatu atau keburukan.” (H.R Muslim no. 2175)

Demikianlah watak syaithan selalu menghembuskan bisikan-bisikan jahat ke dalam hati manusia. Apalagi Allah subhanahu wata’ala dengan segala hikmah-Nya telah menciptakan ‘pendamping’ (dari kalangan jin) bagi setiap manusia, bahkan Rasulullah saw juga ada pendampingnya. Sebagimana sabdanya shalallahu ‘alaihi wasallam:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلاّ َقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِيْنُهُ مِنَ الجِنِّ، قَالُوا: وَإِيَّاكَ يَارَسُولَ الله ؟ قَالَ: وَإِيَّايَ، إِلاَّ أَنَّ الله أَعَانَنِي عَلَيْهِ فَأَسْلَمَ، فَلاَ يَأْمُرُنِي إِلاَّبِخَيْرٍ.

Tidaklah salah seorang dari kalian kecuali diberikan seorang pendamping dari kalangan jin, maka para shahabat berkata: Apakah termasuk engkau wahai Rasulullah? Rasulullah shalallahualaihi wasallam menjawab: Ya, hanya saja Allah telah menolongku darinya, karena ia telah masuk Islam, maka dia tidaklah memerintahkan kepadaku kecuali kebaikan”. (Muslim no. 2814)

TAFSIR AYAT 6

Sumber kejahatan

مِنَ الْجِنَّةِ وَ النَّاسِ

“Dari (golongan) jin dan manusia.”

Dari ayat ini tampak jelas bahwa yang melakukan bisikan ke dalam dada manusia tidak hanya dari golongan jin, bahkan manusia pun bisa berperan sebagai syaithan. Hal ini juga dipertegas dalam ayat lain:

“Dan Demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia)” (Al An’am: 112)

Maka salah satu jalan keluar dari bisikan dan godaan syaithan baik dari kalangan jin dan manusia adalah sebagaimana firman Allah SWT: “Dan jika syaithan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah.” (Fushshilat: 36)

PENUTUP

Melalui surat ini jelas bagi kita bahwa memohon pertolongan dan perlindungan hanya kepada Allah subhanahu wata’ala semata.

  1. Mengakui bahwa sesungguhnya seluruh makhluk berada di bawah pengaturan dan kekuasaan-Nya subhanahu wata’ala.

2. Bahwa semua kejadian ini terjadi atas kehendak-Nya SWT.

3. Dan tiada yang bisa memberikan pertolongan dan menolak

mudharat kecuali atas kehendak-Nya subhanahu wata’ala pula.

Semoga Allah SWT menjadikan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang senantiasa meminta pertolongan, perlindungan dan mengikhlaskan seluruh peribadahan hanya kepada-Nya.

وَقَدْ أَطْلَقَ النَّصُّ الصِّفَةَ أَوَّلاً : { الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ } . . وَحَدَّدَ عَمَلَهُ : { الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِي صُدُوْرِ النَّاسِ } . ثُمَّ حَدَّدَ مَاهِيَتُهُ : { مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ } . . وَهَذَا التَّرْتِيْبُ يُثِيْرُ فِي الْحِسِّ الْيَقِظَةُ وَالتَّلَفُّتُ وَالاِنْتِبَاهُ لِتُبَيِّنَ حَقِيْقَةَ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ ، بَعْدَ إِطْلاَقِ صِفَتِهِ فِي أَوَّلِ الْكَلاَمِ؛ وَلإِدْرَاكِ طَرِيْقَةَ فِعْلِهِ الَّتِي يَتَحَقَّقُ بِهَا شَرَّهُ ، تَأَهُّبًا لِدَفْعِهِ أَوْ مُرَاقَبَتِهِ!

Dalam nash disebutkan sifat pertama: “Al-Was was al-khannas” (bisikan orang yang kembali), dan menetapkan pekerjaannya “yang membisikkan di dada manusia” kemudian ditetapkan pula substansinya “dari jin dan manusia”.

Urutan ini membangkitkan perasaan sadar, hati-hati dan perhatian untuk menjelaskan bisikan al-khannas, setelah menyebutkan secara global karakternya pada awal pembicaraan; ini untuk memberikan pemahaman akan pebuatan yang mengarah pada kejahatan dan memberikan arahan untuk menolak atau memantaunya!

وَالنَّفْسُ حِيْنَ تَعْرِفُ بَعْدَ هَذَا التَّشْوِيْقِ وَالإِيْقَاظِ أَنَّ الْوَسْوَاسَ الْخَنَّاسَ يُوَسْوِسُ فِي صُدُوْرِ النَّاسِ خُفْيَةً وَسِراً ، وَأَنَّهُ هُوَ الْجِنَّةُ الْخَافِيَةُ ، وَهُوَ كَذَلِكَ النَّاسُ الَّذِيْنَ يَتَدَسَّسُوْنَ إِلَى الصُّدُوْرِ تَدَسُّسَ الْجِنَّةِ ، وَيُوَسْوِسُوْنَ وَسْوَسَةَ الشَّيِاطِيْنِ . . النَّفْسُ حِيْنَ تَعْرِفُ هَذَا تَتَأَهَّبُ لِلدِّفَاعِ ، وَقَدْ عَرَفَتْ الْمَكْمَنَ وَالْمَدْخَلَ وَالطَّرِيْقَ!

Dan kata “jiwa” ketika dipahami setelah adalah kesadaran dan kehati-hatian bahwa bisikan al-khannas senantiasa membisikkan di dalam dada manusia secara sembunyi-sembunyi dan rahasia, adalah Jin yang tidak tampak, dan manusia yang selalu membisikkannya ke dada manusia seperti yang dilakukan oleh jin.. Dan mereka membisikkan itu seperti halnya bisikan syaitan.. Dan karena itu, jika jiwa telah memahami ini maka akan tergerak untuk mempertahankkannya, karena dirinya telah mengetahui celahnya, tempat masuknya dan jalannya!.

وَوَسْوَسَةُ الْجِنَّةُ نَحْنُ لاَ نَدْرِي كَيْفَ تَتِمُّ ، وَلَكِنَّا نَجِدُ آثَارَهَا فِي وَاقِعِ النُّفُوْسِ وَوَاقِعُ الْحَيَاةِ . وَنَعْرِفُ أَنَّ الْمَعْرَكَةَ بَيْنَ آدَمَ وَإِبْلِيْسُ قَدِيْمَةٌ قَدِيْمَةٌ؛ وَأَنَّ الشَّيْطَانَ قَدْ أَعْلَنَهَا حَرْباً تَنْبَثِقُ مِنْ خَلِيْقَةِ الشَّرِّ فِيْهِ ، وَمِنْ كِبْرِيَائِهِ وَحَسَدِهِ وَحَقْدِهِ عَلَى الإِنْسَانِ! وَأَنَّهُ قَدْ اسْتَصْدَرَ بِهَا مِنَ اللهِ إِذْناً ، فَأَذَنَ فِيْهَا سُبْحَانَهُ لِحِكْمَةٍ يَرَاهَا! وَلَمْ يَتْرُكِ الإِنْسَانَ فِيْهَا مُجَرَّداً مِنَ الْعُدَّةِ . فَقَدْ جَعَلَ لَهُ مِنَ الإِيْمَانِ جُنَّةً ، وَجَعَلَ لَهُ مِنَ الذِّكْرِ عُدَّةً ، وَجَعَلَ لَهُ مِنَ الاِسْتِعَاذَةِ سِلاَحاً . . فَإِذَا أَغْفَلَ الإِنْسَانُ جُنَّتَهُ وَعُدَّتَهُ وَسِلاَحَهُ فَهُوَ إِذَنْ وَحْدَهُ الْمَلُوْمُ!

Adapun bisikan jin kita tidak mengetahui bagaimana caranya, namun kita mendapatkannya melalui dampak yang terjadi di dalam tubuh setiap jiwa dan realita kehidupan. Sebagaimana kita fahami bahwa perang antara Adam dan Iblis adalah laten; dan syetan telah mengumandangkan perang yang bersumber dari akhlak yang jahat di dalamnya, oleh karena kesombongannya, kedengkitannya, kebenciannya terhadap manusia! Dan syaitan telah meminta izin kepada Allah dan Allah mengizinkan untuk melihat adanya hikmah dibalik semua itu! Sementara manusia tidak dibiarkan begitu saja, namun diberikan kepadanya benteng dan menjadikan zikir sebagai tameng dan menjadikan istiadzah sebagai senjata… karena itu jika manusia lalu; bentengnya, perangkatnya dan senjatanya maka pada hakikatnya dia sendiri yang tercela!

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : قال رسولُ الله صلى الله عليه وسلم : «الشَّيطانُ جَاثِمٌ على قَلْبِ ابنِ آدَمَ ، فإذا ذكرَ اللّه خَنَسَ وإذا غَفَلَ وَسْوَسَ

Dari ibnu Abbas RA berkata: Nabi saw bersabda: “Syaitan selalu berada di hati anak cucu Adam, jika ia berdzikir kepada Allah maka ia akan menjauh namun jika lengah maka ia akan membisiki” (Jami’ Al-Ushul)

وأما الناس فنحن نعرف عن وسوستهم الشيء الكثير . ونعرف منها ما هو أشد من وسوسة الشياطين!

رفيق السوء الذي يتدسس بالشر إلى قلب رفيقه وعقله من حيث لا يحتسب ومن حيث لا يحترس ، لأنه الرفيق المأمون!

وحاشية الشر التي توسوس لكل ذي سلطان حتى تتركه طاغية جباراً مفسداً في الأرض ، مهلكاً للحرث والنسل!

والنمام الواشي الذي يزين الكلام ويزحلقه ، حتى يبدو كأنه الحق الصراح الذي لا مرية فيه .

وبائع الشهوات الذي يتدسس من منافذ الغريزة في إغراء لا تدفعه إلا يقظة القلب وعون الله .

وعشرات من الموسوسين الخناسين الذين ينصبون الأحابيل ويخفونها ، ويدخلون بها من منافذ القلوب الخفية التي يعرفونها أو يتحسسونها . . وهم شر من الجنة وأخفى منهم دبيباً!

Adapun manusia kita banyak tahu akan bisikan mereka. Dan kita tahu bahwa ia lebih berbahaya dari bisikan syaitan!

-Teman yang jahat yang selalu membisikkan kejahatan ke dalam hati dan akal teman lainnya dari arah yang tidak disangka dan tidak dijaga, karena ia mengira adalah sahabat karibnya!

-Bawahan –pejabat- yang jahat selalu membisikkan kepada pemimpinnya sehingga ia akan melakukan segala kejahatan dan kediktatoran serta kerusakan di muka bumi, menghancurkan dan membinasakan tanaman dan keturunan

-Para pengadu domba (pengumpat) yang senantiasa menghiasi dan membuat elok ucapannya, sehingga tampak seakan sebagai kebenaran yang tidak ada keraguan di dalamnya.

-Para penjual syahwat yang selalu membisikkan melalui pintu-pintu syahwat, mempedaya yang tidak mampu ditolak kecuali bagi siapa yang memiliki hati dan jiwa yang waspada dan pertolongan Allah.

Dan para pembisik lainnya yang senantiasa bergentayangan dan menyembunyikannya, masuk dari berbagai pintu hati yang tersebut yang tidak disadari dan dirasa,.. Mereka adalah lebih jahat dari jin dan lebih tersembunyi dari derap semut hitam!

Mungkin Anda juga menyukai