Hikmah-Hikmah Maulid Nabi Muhammad SAW

Oleh : Musyaffa Ahmad Rahim, MA

Jika ada yang bertanya: “Apa hikmah kenapa kelahiran nabi Muhammad SAW di bulan Rabi’ul Awwal dan di hari Senin (berdasar pendapat yang shahih dan masyhur), kenapa misalnya bukan di bulan:

  1. Ramadhan? Padahal, bukankah bulan Ramadhan itu bulan yang mempunyai banyak keunggulan, diantaranya:
    • Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadhan.
    • Dan Lailatul Qadar pun adanya juga di bulan Ramadhan,
  2. Salah satu dari bulan-bulan yang haram (Rajab, Dzul Qa’dah, Dzul Hijjah dan Muharram), sebab bukankah bulan-bulan ini memiliki kehormatan tertentu di sisi Allah SWT dan juga di sisi manusia?
  3. Sya’ban, tepatnya, pada malam Nishfu Sya’ban?

Atau kenapa Rasulullah SAW tidak dilahirkan di hari atau malam Jum’at, hari dan malam mulia yang dikenal sebagai sayyidul ayyam?

Ibnul Hajj (wafat 737 H = 1336 M) menjelaskan jawaban atas pertanyaan di atas sebagai berikut (dengan melakukan editan sebagian bahasanya):

Pertanyaan di atas dapat dijawab dari empat sisi:

Pertama: diriwayatkan dalam sebuah hadits bahwa Allah SWT menciptakan pohon dan tanaman pada hari Senin.

Hal ini mengingatkan dan menyadarkan bahwa:

  • Penciptaan makanan pokok, rizki, buah-buahan dan segala yang menjadi nutrisi manusia, pada awalnya terjadi pada hari Senin.
  • Dengan penciptaan pohon, tanaman dan sumber nutrisi manusia ini, manusia menjadi hidup.
  • Dari tanaman-tanaman ini pula manusia mengobati penyakit yang dideritanya.
  • Terhadap tanaman dan pepohonan ini pula, mata manusia menjadi segar, gembira, tenang dan tenteram saat memandangnya.

Begitu pula kiranya dengan kelahiran nabi Muhammad SAW pada hari Senin pada bulan Rabi’ul Awwal, dikarenakan melimpahnya berbagai kebaikan dan keberkahan untuk ummatnya, sebagaimana perasaan manusia saat melihat, mendapati dan menemukan berbagai tanaman dan berbagai pepohonan.

Kedua: Kelahiran nabi Muhammad SAW pada bulan Rabi’ul Awwal memberikan isyarat yang jelas kepada istilah Rabi’ yang berarti musim semi (spring).

  • Antara bulan Rabi’ul Awwal dan musim Rabi’ (semi / spring) terdapat al-fa’lu al-hasan (pengharapan yang baik) yang sekaligus menjadi berita gembira bagi umat nabi Muhammad SAW. Bukankah nama itu mengandung do’a, karenanya, jika ada seseorang bernama baik, orang cenderung mempunyai pengharapan baik kepadanya. Begitu juga dengan kelahiran nabi Muhammad SAW di bulan Rabi’ul Awwal, maka masyarakat pun mempunyai pengharapan yang baik sebagaimana harapan baik mereka terhadap musim Rabi’ (semi / spring).
  • Bukankah pada musim Rabi’ (semi / spring) bumi seakan memunculkan berbagai kenikmatan dan rizki dari Allah SWT? Biji-bijian menjadi tumbuh, berbagai tanaman menghijau kembali, pepohonan pun mengeluarkan buahnya? Semua ini membuat jiwa manusia dan makhluq lainnya menjadi riang gembira, mata senang melihatnya, dan bahkan dunia seakan berkata: “selamat datang Rabi’ (semi / spring)!!!” Tidakkah engkau saksikan bahwa ladang-ladang, kebun-kebun dan taman-taman seakan tersenyum merekah? Bunga-bunga pun seakan berbicara kepada anda tentang berbagai kebaikan yang tersimpan di sebalik dirinya? Bahkan bumi pun seakan bercerita: sekarang saatnya untuk riang dan gembira? Begitu pula halnya dengan kelahiran nabi Muhammad SAW di bulan Rabi’ul Awwal ini, bulan Rabi’, bulan yang mengisyaratkan suasana semi, suasana riang, dan suasana gembira terhadap lahirnya berbagai kenikmatan dari Allah SWT, suasana kelahiran seorang nabi yang agung, nabi pembawa rahmat bagi seluruh alam, nabi pemberi berita gembira bagi orang-orang beriman, nabi pelindung mereka dari keninasaan dan rasa takut, bahkan pelindung juga bagi orang-orang kafir??!! Sebab, bukankah kedatangan nabi Muhammad SAW merupakan pertanda diakhirkannya adzab Allah SWT terhadap mereka?! (Q.S. Al-Anfal: 33)

Ketiga:

  • Musim Rabi’ (semi / spring) adalah musim yang paling enak, paling nyaman dan paling pas, ia tidak terlalu dingin yang menyakitkan, dan tidak pula terlalu panas yang menyiksa. Lama panjang siang dan malam pun berimbang; tidak terlalu lama siang seperti pada musim panas, dan tidak terlalu lama malam seperti pada musim dingin.
  • Musim Rabi’ (semi / spring) juga musim di mana udara begitu segar, yang membuat segar suasana lahhir dan batin, sehingga para makhluq hidup cenderung sehat pada musim ini, tidak seperti pada Musim Gugur. Karenanya, pada Musim Rabi’ (semi / spring) ini, enak dilakukan qiyam pada malam harinya dan shiyam di siang harinya.
  • Hal ini memiliki kemiripan dengan syari’at Islam yang dibawa oleh nabi Muhammad SAW, sebab syari’at beliau adalah syari’at yang adil, syari’at yang membebaskan manusia dari berbagai jenis kesulitan dan kerumitan (Q. S. Al-A’raf: 157), syari’at yang meringankan umat manusia untuk mempraktekkan dan mengamalkannya.

Keempat:

  • Allah SWT yang Maha Bijaksana telah membuat ketetapan, ada tempat-tempat tertentu yang mempunyai kemuliaan khusus. Ada juga waktu-waktu tertentu yang mempunyai keistimewaan khusus yang tidak dimiliki oleh tempat dan waktu lainnya.
  • Bulan Ramadhan misalnya, adalah bulan yang memiliki banyak keistimewaan yang tidak terdapat pada bulan-bulan lainnya.
  • Seandainya, sekali lagi seandainya nabi Muhammad SAW dilahirkan pada bulan Ramadhan, umpamanya, maka orang bisa memahami (salah paham) bahwa kemuliaan, keistimewaan dan keagungan beliau dikarenakan karena faktor bulan Ramadhan, bukan karena faktor kemuliaan, keistimewaan dan keagungan beliau SAW itu sendiri.
  • Begitu juga seandainya, sekali lagi seandainya, beliau SAW dilahirkan pada hari Jum’at. Orang bisa memahami (salah faham) bahwa kemuliaan beliau SAW dikarenakan faktor kelahirannya pada hari Jum’at yang merupakan sayyidul ayyam.
  • Allah SWT pilihkan hari kelahiran beliau SAW pada hari Senin, dan pada bulan Rabi’ul Awwal, untuk menandakan bahwa kemuliaan beliau SAW bukan karena faktor hari dan bulan kelahirannya, sebab bulan Rabi’ul Awwal tidak lah merupakan bulan yang istimewa pada asalnya. Dia menjadi istimewa, karena pada bulan ini Rasulullah SAW dilahirkan. Begitu juga dengan hari Senin, dia menjadi hari istimewa yang disunatkan padanya untuk melakukan puasa sunat, karena pada hari Senin, beliau SAW dilahirkan.

Dan begitulah, hari Senin menjadi istimewa, dan bulan Rabi’ul Awwal juga menjadi istimewa, dikarenakan keistimewaan Rasulullah SAW.

Jadi, hari dan bulan itu mendapatkan keistimewaan dari keistimewaan Rasulullah SAW.

Wallahu A’lam.

(disadur dari kitab: Al-Madkhal, karya Ibnul Haj, jilid 2 mulai halaman 25 sampai halaman 29).

Mungkin Anda juga menyukai