Fiqh Ma’alat Aw Tawaqqu’

TUJUAN UMUM

Peserta memahami konsep fiqhut tawaqqu’ dan penerapannya dalam ijtihad untuk melahirkan fatwa, bayan dan qararat.

TUJUAN KHUSUS

  1. Peserta memahami pengertian fikih tawaqqu’
  2. Peserta memahami landasan fiqhut tawaqqu’
  3. Peserta memahami pendapat ulama tentang fiqhut tawaqqu’
  4. Peserta memahami contoh-contoh klasik dan kontemporer tentang fiqhut tawaqqu’
  5. Peserta bisa memperaktikan fiqhut tawaqqu’

URAIAN MATERI

Pengertian fiqhut tawaqqu’

Secarabahasadiambil dari kata آَلَ – يَؤُوْلُ – أَوْلًا – مَآَلًا yang memilikibeberapamakna ;

  1. Kembali, sebagaimana dalam hadits

من صام الدهر فلا صام ولا آل

  1. Kondisi yang akan terjadi pada seseorang
  2. Nasib atau akibat (ta’wil)
  3. Perbaikan dan politik (iyalahwalI’tiyal)

Secaraistilah, para ulama ahli Ushul belum menyebutkan istilah fiqhulma’alat. Bahkan imam as-Syatibi menjelaskan urgensi tanpa menyebutkan definisinya :

النظر في مآلات الأفعال معتبر مقصود شرعا، كانت الأفعال موافقة أو مخالفة. وذلك أن المجتهد لا يحكم على

فعل من الأفعال بالإقدام أو بالإحجام إلا بعد نظره إلى ما يؤول ذلك الفعل.

Menelaah akibat suatu perbuatan yang diakui oleh syara, baik perbuata tersebut sesuai syariah atau tidak. Karena seorang mujtahid tidak bisa menetapkan hukum boleh atau tidak boleh kecuali setelah memahami betul akibat jangka panjang dair perbuatan tersebut.

Menurut istilah, fiqhul ma’alat adalah menetapkan suatu hukum berdasarkan akibat yang akan terjadi pada peristiwa tersebut sesuai atau tidak sesuai dengan maqasid syariah.

Sedangkan Fiqhut tawaqqu’ adalah mendasarkan hukum pada akibat yang akan terjadi baik merubah hukum boleh menjadi tidak boleh ataupun sebaliknya.

Berdasarkan kedua definisi tersebut di atas, maka bisa disimpulkan bahwa secara substansial fiqhuttawaqqu sama dengan fiqhul ma’alat.

Ruang lingkup fikih tawaqqu’

Fiqhut tawaqqu’ dan ma’alat mencakup setiap masalah yang berhubungan dengan sebab akibat. Seperti:

Fiqhut tawaqqu’ dan ma’alat tersebut tidak termasuk misalnya 2 masalah berkaitan ; seseorang melakukan hal jahat untuk melakukan kebaikan. segala cara yang berhubungan dengan niat dan tujuan. Kondisi seperti ini bukan fikih tawaqqu’ tetapibukan menghalalkan (al-ghayah la tubarrir al-wasilah)

Urgensi fikih tawaqqu’

                Diantara hal yang menjelaskan urgensi fikih tawaqqu adalah sebagai berikut :

  1. Menetapkan hukum, sikap dan keputusan secara tepat
  2. Mengantisipasi munculnya bahaya dan dampak negatif akibat tidak memutuskan hukum dan sikap yang keliru terutama bagi pejabat publik dan para pengambil keputusan yang menjadi sasaran obyek.

Landasan fikih tawaqqu’

    Diantara landasan fikih tawaqqu’ adalah sebagai berikut :

  1. Al-Qur’an Surat Hudayat 113

ولا تركنوا إلى الذين ظلموا فتمسكم النار وما لكم من دون الله من أولياء ثم لا تنصرون

    2. Sunnah

عن النعمان بن بشير : مثل القائم في حدود الله والواقع فيها كمثل قوم استهموا على سفينة فصار بعضهم أعلى وبعضهم أسفلها إذا استقوا من الماء مروا على من فوقهم فقالوا : لو أنا خرقنا في نصيبنا خرقا ولم نؤذ من فوقنا فإن تركوهم وما أرادو هلكوا حميعا وإن أخذوا على أيديهم نجوا ونجوا معا

   3. Atsar sahabat :

Umar bin Khattab ra menetapkan talaktiga jatuh tiga karena adanya fenomena orang mudah mencerai isterinya

Pendapat ulama tentang fikih tawaqqu’

Semua ulama sepakat jika suatu aktifitas secara pasti (qath’i) atau pada umumnya (ghalabatudz dzann) melahirkan akibat yang tercela atau maksiat maka hal tersebut diharamkan.

Misalnya mengkonsumsi makanan yang mengandung kolestrol tinggi bagi yang memilki masalah kolestrol.

Misalnya Menikahi seorang perempuan dengan niat mencerainya.

Dan semua ulama sepakat jika suatu aktifitas secara pasti (qath’i) atau pada umumnya (ghalabatudz dzan) melahirkan akibat yang mashlahat, maka hal tersebut dibolehkan.

Misalnya aborsi terhadap janin yang belum berusia 4 bulan yang menurut dokter spesialis jika janin tersebut tidak digugurkan maka dipastikan ibunya meninggal. Maka aborsi yang awalnya tidak dibolehkan,karena pertimbangan yang akan datang, maka itu dibolehkan. Petimbangan dokter itu dikategorikan qhat’i atau ghalabatu dzan.

Begitu juga seorang muslimah yang diperkosa oleh orang kafir dan hamil maka dibolehkan melakukan aborsi sebelum janin berusia 4 bulan karena hal tersebut mengakibatkan tekanan psikologis yang berat dan dalam terhadap muslimah tersebut. Maka aborsi yang awalnya tidak dibolehkan,karena pertimbangan yang akan datang, maka itu dibolehkan. Petimbangan dokter itu dikategorikan qhat’i atau ghalabatu dzan.

Juga penghapusan basmalah dan kata Rasulullah SAW dalam perjanjian Hudaibiyah. Maka penghapusan basmalah yang awalnya tidak dibolehkan, karena pertimbangan yang akan datang, maka itu dibolehkan. Petimbangan Rasuluallah itu dikategorikan qhat’i.

Semua ulama sepakat jika suatu aktifitas melahirkan akibat yang tercela atau maksiat yang tidak pasti maka hal tersebut tidak berpengaruh pada hukum. Misalnya rekomendasi dokter untuk melakukan operasi caesar karena ingin mendapatkan uang dan tanpa didasari pertimbangan medis yang cukup. Rekomendasi dokter tersebut itu tidak pasti karena tidak berdasarkan data dan spesialisaisnya, tetapi karena uang (dibayar).

Kaedah-kaedah yang digunakan dalam fiqhuttawaqqu’

Kaidah 1 :

المصلحة العامة مقدمة على المصلحة الخاصة

Maslahat umum lebih didahulukan dari pada maslahat khusus

Kaidah 2 :

إذا تعارض مفسدتان روعي اعظمهما بارتكتب أخفهما

Jika ada dua mafsadah saling bertentangan, maka yangharus ditinggalkan adalah mafsadah yang memberikan akibat yang lebih madarat.

Kaidah 3 :

يختار أهون الشرين

Yang dipilih sebagai alternatif adalah keburukan yang paling ringan

Kaidah 4 :

لا ضرر ولا ضرار

Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain

Kaidah 5 :

الضرر لا يزال بمثله

Sesuatu yang membahayakan tidak bisa dihilangkan dengan hal yang sama

Kaidah 6 :

قاعدة المصالح

Kaidah mashlahat

Kaidah 7 :

قاعدة الاستحسان

Kaidah istihsan

Kaidah 8 :

قاعدة سد الذرائع

Kaidah dzariah (sesuai yang menyebabkan kepada keburukan)

Kaidah 9 :

قاعدة الحيل

Kaidah Hilah (rekayasa)

Contoh kasus fikih tawaqqu’

Larangan menikahi perempuan ahli kitab karena dampak negatif dalam kehidupan keluarga dan agamanya

اولئك يدعون إلى النار والله يدعو إلى الجنة والمغفرة بإذنه ( البقرة : 221)

 

TANYA JAWAB KASUS

Pertanyaan 1:

Larangan menikahi perempuan ahli kitab karena dampak negatif dalam kehidupan keluarga dan agamanya. Apakah termasuk bagian dari fikih tawaqqu’. Jelaskan?

Pertanyaan 2:

Dokter memberikan melarang pasien yang terbukti mengidap penyakit gula yang akut untuk mengkonsumsi gula. Jelaskan analisa fikih tawaqu

Mungkin Anda juga menyukai