Hadist ke -7

Dari Tamim Ad-Dari Radhiyallahu Anhu bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallambersabda,

 ألدين النصيحة – ثلاثا -. قلنا : لمن يا رسول الله؟ قال : لله ولكتابه ولرسوله ولأئمة المسلمين وعامّتهم.

“Agama adalah nasihat-beliau bersabda seperti itu hingga tiga kali -. “Kamiberkata, “Untuksiapa, wahaiRasulullah?”Nabi Shallallahu Alaihi waSallambersabda, “UntukAllah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum Muslimin, dan seluruh kaum Muslimin”. (Diriwayatkan Muslim).[1]

Hadits di atas diriwayatkan Muslim dari riwayat Suhail bin Abu Shalih dari Atha’ bin Yazid Al-Laitsi dari Tamim Ad-Dari. Hadits tersebut juga diriwayatkan dari Suhail dan lain-lain dari Abu Shalih dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. At-Tirmidzi meriwayatkan hadits tersebut dari jalur seperti itu. Ada ulama yang menshahihkan hadits tersebut dari kedua jalur di atas. Ada ulama yang berkata, “Hadits yang shahih ialah hadits riwayat Tamim, sedang sanad hadits lainnya tidak benar”.

Hadits tersebut juga diriwayatkan dari hadits Ibnu Umar, Tsauban, Ibnu Abbas, dan lain-lain dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.[2])

Di awal buku ini, telah saya katakan bahwa hadits di atas adalah salah satu hadits yang menjadi poros pembahasan fiqh.

Al-Hafidz Abu Nu’aim berkata, “Hadits di atas mempunyai urgensi tinggi. Muhammad bin Aslam Ath-Thusi berkata bahwa hadits tersebut salah satu dari seperempat agama”.

Ath-Thabrani meriwayatkan hadits dari Hudzaifah bin Al-Yaman Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallamyang bersabda,

 من لم يهتم بأمر المسلمين فليس منهم ومن لم يُمس ويُصبح ناصحا لله ولرسوله ولكتابه ولإمامه ولعامَّة المسلمين فليس منهم.

“Barangsiapa tidak peduli dengan urusan kaum Muslimin, ia tidak termasuk bagian dari mereka. Barangsiapa pada sore dan pagi hari tidak memberi nasihat untuk Allah, Rasul-Nya, Kitab-Nya, imam-Nya, dan seluruh kaum Muslimin, ia tidak termasuk bagian dari mereka”.[3])

Imam Ahmad meriwayatkan hadits dari Abu Umamah Radhiyallahu Anhudari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallamyang bersabda,

قال الله عز وجل : أحبُّ ما تعَبَّدَنى به عبدى النُّصْحُ لى.

“Allah Azza wa jalla berfirman, Sesuatu yang digunakan hamba-Ku untuk beribadah kepada-Ku yang paling Aku cintai ialah nasihat untuk-Ku”.[4])

Banyak sekali hadits tentang nasihat untuk kaum Muslimin secara umum.Di sebagian hadits disebutkan, “Nasihat untukpara pemimpin mereka”. Di sebagianhadits disebutkan, “Nasihatpara pemimpin kepada rakyatmereka”.

Tentang hadits nasihat untuk kaum Muslimin secara umum, di Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan hadits dari Jarir bin Abdullah yang berkata, “Aku berbai’atkepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk mendirikan shalat, membayarzakat, dan menasihati setiap orangMuslim”.[5])

Di Shahih Muslim disebutkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhudari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallamyang bersabda,

“Hak orangMukmin atas orangMukmin lainnya ada enam”. Beliau menyebutkansalahsatunya, ‘jikaiamemintanasihatkepadamu,nasihatilah dia”.[6])

Hadits tersebut juga diriwayatkan dari berbagai jalur dari NabiShallallahu Alaihi wa Sallam.

Di Al-Musnad disebutkan hadits dari Hakim bin Abu Yazid dari ayahnyadari NabiShallallahu Alaihi wa Sallamyangbersabda,

‘Jikasalahseorangdarikalianmemintanasihatkepadasaudaranya,hendaklah saudaranya menasihatinya’.[7])

Tentang hadits kedua yaitu nasihat untuk para pemimpin dan nasihat mereka kepadarakyat, di Shahih Muslim disebutkan hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu Anhu dari NabiShallallahu Alaihi wa Sallamyangbersabda,

إن الله يرضى لكم ثلاثا : يرضى لكم أن تعبدوه ولا تشركوا به شيئا, وأن تعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرَّقوا, وأن تُناصِحوا من ولاه الله أمركم.

‘Sesungguhnya Allah meridhai tiga hal pada kalian; Dia ridha kalian menyembah-Nya dan tidakmenyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, kalian semua berpegang teguhkepada taliAllah dan tidakbercerai-berai, dan kalian menasihati orang yang diangkatAllah untuk mengurusi urusan kalian’.[8])

Di Al-Musnad dan lain-laindisebutkan hadits dari Jubair bin Muth’imRadhiyallahuAnhubahwa NabiShallallahu Alaihi waSallambersabdadi khutbahbeliau di Al-Khaifdi Mina,

“Ada tiga hal di mana hati orangMuslim tidak berkhianat dengannya; mengikhlaskan amal perbuatan karena Allah, menasihati para pemimpin, dan berada di jama’ah kaum Muslimin”.[9])

Khutbah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallamdi atas juga diriwayatkan sejumlah sahabat, di antaranya Abu Sa’id Al-Khudri.

Hadits Abu Sa’id Al-Khudri diriwayatkan dengan redaksi lain oleh Ad-Daruquthni di Al-Afrad dengan sanad yangbaik. Redaksinya ialah bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallambersabda,

‘Ada tigahal dimanahati orangMuslim tidakberkhianatdengannva; nasihatuntuk Allah, Rasul-Nya, Kitab-Nya, dan seluruh kaum Muslimin”.[10])

Di Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim disebutkan hadits dari Ma’qil bin Yasar Radhiyallahu Anhu dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersabda,

 ما من عبد يَستَرعيه الله رعْية ثم لم يُحِطْها بنصيحة إلا لم يدخل الجنة.

“Tidaklah seoranghamba yang dipilih Allah untukmemimpin rakyatkemudian ia tidak meliputi mereka dengan nasihat, melainkan iatidak masuk surga”.

Di Al-Qur’an, Allah Ta’alamenyebutkan tentang para nabi Alaihimus-salam, bahwa mereka menasihati umatnya masing-masing, seperti yang dijelaskan Allah Ta’ala tentang Nabi Nuh dan Nabi Shalih. Allah Ta’ala berfirman,

“Tidak ada dosa (lantaran tidak pergi berjihad) atas orang-orang yang lemah,atas orang-orang yang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperolehapa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepadaAllah dan Rasul-Nya”. (At-Taubah: 91).

Maksudnya, barangsiapa tidak bisa berangkat jihad karena udzur, ia tidak dosa karenanya dengan syarat ia memberi nasihat untuk Allah dan Rasul-Nya tentang ketidak-mampuannya untuk berangkat jihad, karena orang-orang munafik memperlihatkan udzur dengan bohong dan tidak berangkat jihad bukan memberi nasihat untuk Allah dan Rasul-Nya.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallammenjelaskan bahwa agama adalah nasihat. Ini menunjukkan bahwa nasihat itu mencakup seluruh bagian-bagian Islam, iman, dan ihsan yangdisebutkan di hadits Jibril dan beliau menamakan itu semua sebagai agama, karena nasihat untuk Allah menghendaki seseorang mengerjakan seluruh kewajiban sesempurna mungkin. Itulah derajat ihsan. Nasihat untuk Allah tidak sempurna tanpa hal tersebut dan tanpa kesempurnaan cinta yang wajib dan sunnah. Nasihat untuk Allah juga menghendaki orang mendekat kepada Allah dengan ibadah-ibadah sunnah sesempurna mungkin, meninggalkan hal-hal haram dan makruh juga sesempurna mungkin.

Di hadits-hadits mursal Al-Hasan disebutkan dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallamyang bersabda,

“Bagaimana pendapatkalian jika salah seorang dari kalian mempunyai duabudak. Salah seorang dari budak tersebut taat kepadanya jika ia memerintahkan sesuatu, menunaikan amanah kepadanya jika ia memberikan amanah kepadanya, dan menasihatinya jika ia pergi darinya. Sedang budak satunya membangkang kepadanya jika ia memerintahkan sesuatu kepadanya, berkhianatkepadanya jika ia memberikan amanah kepadanya, dan menipunya jika ia pergi darinya. Apakah kedua budak tersebut sama?” Para sahabat menjawab, “Tidak”. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Begitu juga kalian di sisi Allah Azza wa Jalla”. (Diriwayatkan Ibnu Abu Ad-Dunya).

Imam Ahmad juga meriwayatkan hadits semakna dari Abu Al-Ahwash dari ayahnya dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.[11])

Al-Fudhail bin Iyadh berkata, “Cinta lebih baik daripada takut. Bagaimanapendapatmu jika engkau mempunyai dua budak; salah satu dari keduanya mencintaimu sedang budak satunya takut kepadamu? Budak yang cinta kepadamuakan menasihatimu; baik engkau ada atau tidak ada karena cintanya kepadamu. Sedang budak yang takut kepadamu bisa jadi menasihatimu jika engkau bersamanya karena ia takut kepadamu dan bisa jadi menipumu jika engkau tidak bersama dengannya dan tidak menasihatimu”.

Abdul Aziz bin Rafi’ berkata bahwa Hawariyun berkata kepada Isa Alaihis-Salam, “Bagaimanakah amal perbuatan yang ikhlas?” Isa Alaihis-Salam menjawab, “Yaitu amal perbuatan yang engkau tidak ingin dipuji manusia dengannya”. Hawariyun berkata, “Apa nasihat untuk Allah?” Isa Alaihis-Salam menjawab, “Yaitu hendaknya engkau memulai hak Allah Ta’ala sebelum hak manusia. Jika dua hal dihadapkan kepadamu; salah satu dari keduanya karena Allah dan satunya karena dunia, engkau harus memulai hak Allah Ta’ala”.

Al-Khathabi berkata, “Nasihat ialah kata yang menjelaskan sejumlah hal, yaitu menginginkan kebaikan pada orang yang diberi nasihat”.Ia juga berkata, “Asal kata nasihat menurut bahasa ialah murni. Nashahtu Al-Asala, maksudnya engkau memurnikan madu tersebut dari lilin”.

Jadi, makna nasihat untuk Allah Subhanahu wa Ta’ala ialah meyakini keesaan-Nya dengan benar dan mengikhlaskan niat ketika beribadah kepada-Nya.

Makna nasihat untuk Kitab Allah ialah beriman kepadanya dan mengamalkan isinya.

Makna nasihat untuk Rasul Allah ialah membenarkan kenabian beliau, taat terhadap apa yang beliau perintahkan dan larang.

Makna nasihat untuk seluruh kaum Muslimin ialah membimbing mereka kepada kemaslahatan mereka.

Imam Abu Abdullah Muhammad bin Nashr Al-Marwazi di bukunya, Ta’dzimu Qadrish Shalat[12]) meriwayatkan dari salah seorang ulama yang menafsirkan hadits di atas dengan penafsiran yang keindahannya tidak ada tandingannya. Di sini, saya menukilnya lengkap dengan redaksinya. Muhammad bin Nashr berkata, salah seorang ulama berkata, “Kesimpulan penafsiran tentang nasihat ialah kepedulian hati kepada orang yang diberi nasihat siapa pun orangnya. Nasihat ada dua; wajib dan sunnah. Nasihat wajib ialah untuk Allah yaitu adanya kepedulian yang tinggi pemberi nasihat untuk mengikuti cinta Allah dengan menunaikan apasaja yang Dia perintahkan dan menjauhi apa saja yang Dia larang.

Sedang nasihat sunnah ialah lebih mencintai Allah daripada diri sendiri. Jika dua hal dihadapkan kepada seseorang; salah satunya untuk diri sendiri dan satunya untuk Tuhannya, ia mendahulukan apa yang menjadi milik Tuhannya dan menunda apa yang menjadi milik diri sendiri”.

Itulah kesimpulan penafsiran tentang nasihat untuk Allah; baik nasihat wajib atau sunnah untuk-Nya. Ada penafsiran lain tentang nasihat untuk Allah dan sebagian penafsiran tersebut akan saya sebutkan agar orang yang tidak memahami kesimpulan penafsiran tersebut menjadi paham.

Nasihat untuk Allah yang wajib ialah menjauhi larangan-Nya dan mengerjakan kewajiban-Nya dengan seluruh organ tubuh selagi mampu melakukannya. Jika seseorang tidak mampu mengerjakan kewajiban-Nya karena salah satu kendala yang terjadi padanya, misalnya sakit, tertahan, dan lain sebagainya, ia bertekad mengerjakan apa yang diwajibkan kepadanya jika kendala yang merintanginya telah hilang darinya. Allah Ta’ala berfirman,

“Tidakada dosa (lantaran tidakpergi berjihad)atas orang-orangyanglemah, atas orang-orangyang sakit dan atas orang-orang yang tidak memperoleh apa yang akan mereka nafkahkan, apabila mereka berlaku ikhlas kepada Allah dan Rasul-Nya; tidak ada jalan sedikitpun untukmenyalahkan orang-orangyangberbuatbaik dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (At-Taubah: 91).

Allah Ta’ala menamakan orang-orang seperti ayat di atas sebagai orang-orang yang berbuat baik (Muhsinin) karena nasihat mereka kepada Allah dengan hati mereka ketika mereka tidak dapat berangkat jihad dengan jiwa mereka.

Terkadang seluruh amal perbuatan dihilangkan dari seorang hamba di salah satu kondisi, namun nasihat untuk Allah tetap tidak dihilangkan darinya. Jika pada jenis sakit terdapat satu kondisi yangmembuat penderitanya tidak dapat mengerjakan sesuatu apa pun dengan organ tubuhnya bahkan dengan lidahnya dan lain-lain, namun akalnya tetap ada, maka nasihat untuk Allah tidak gugur darinya yaitu di hati dalam bentuk menyesali dosa-dosanya dan berniat -jika ia sehat – kembalimengerjakan apa saja yang diwajibkan Allah kepadanya dan menjauhi apa saja yang Dia larang kepadanya. Jika tidak begitu, ia tidak termasuk pemberi nasihat kepada Allah dengan hatinya.

Begitu juga nasihat untuk Allah dan Rasul-Nya dalam apa saja yang beliau wajibkan kepada manusia dari perintah Tuhannya. Di antara bentuk nasihat wajib untuk Allah ialah seseorang tidak ridha dengan kemaksiatan pelaku maksiat dan mencintai ketaatan orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya.

Sedang nasihat sunnah untuk Allah ialah mencurahkan kemampuan dengan cara mengutamakan Allah atas semua yang dicintai hati dan dengan seluruh organ tubuh hingga tidak tersisa pada diri pemberi nasihat penghormatan kepada selain Allah. Karena jika pemberi nasihat bersungguh-sungguh, ia tidak akan mengutamakan dirinya atas Allah dan mengerjakan apa saja yang mendatangkan kebahagiaan dan kecintaan-Nya. Begitu juga pemberi nasihat untuk Allah. Barangsiapa mengerjakan amal-amal sunnah untuk Allah dengan tidak bersungguh-sungguh, iapemberi nasihat sesuai dengan kadar amalnya dan tidak layak terhadap kesempurnaan nasihat.

Sedang nasihat untuk Kitabullah ialah amat mencintainya, mengagungkan isinya karena Kitabullah adalah firman Allah, berkeinginan kuat memahaminya, sangat peduli untuk merenungkannya, dan berhenti untuk memikirkannya ketika membacanya untuk mencari makna-makna yang dicintai Allah untuk ia pahami dan mengerjakannya setelah memahaminya. Demikian pula termasuk orang yang menasehati dari kalangan hamba, ia memahami wasiat orang yang menasihatinya. Jika ia mendapatkan surat darinya, ia berusaha keras memahaminya agar ia bisa mengerjakan apa yang ia tulis di suratnya. Begitu juga pemberi nasihat untuk Kitabullah, ia berusaha keras memahaminya agar ia bisa mengerjakan apa saja yang diperintahkan Allah sesuai dengan yang Dia cintai dan ridhai, kemudian menyebarkan apa yang ia pahami kepada manusia, dan tidak henti-hentinya mengkajinya dengan cara mencintainya, berakhlak dengan akhlaknya, dan beretika dengan etikanya.

Adapun nasihat untuk Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallampada masa hidup beliau maka dalam bentuk mencurahkan segenap tenaga untuk taat kepada beliau, menolong dan membantu beliau, memberikan harta jika beliau menginginkannya, dan bersegera mencintai beliau. Adapun nasihat untuk Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallamsepeninggal beliau maka dalam bentuk serius mencari Sunnah beliau, mengikuti akhlak dan etika beliau, mengagungkan beliau, beramal sesuai dengan beliau, sangat marah dan berpaling dari siapa saja yang beragama dengan menyalahi Sunnah beliau, marah kepada siapa saja yang menyia-nyiakan Sunnah karena lebih mementingkan dunia kendati ia beragama dengannya, mencintai siapa saja yang mempunyai hubungan dengan beliau; baik karena kekerabatan, atau pernikahan, atau hijrah, atau pertolongan, atau persahabatan di atas Islam kendati sesaat di malam atau siang hari, meniru beliau dalam penampilan dan pakaian beliau.

Adapun nasihat untuk para pemimpin kaum Muslimin maka dalam bentuk cinta kebaikan, petunjuk, dan keadilan mereka, cinta persatuan umat kepada mereka, benci perpecahan umat kepada mereka, mentaati mereka dalam taat kepada Allah Azza wa Jalla, marah kepada orang yang membelot dari mereka, dan cinta keperkasaan mereka dalam taat kepada Allah Azza wa jalla.

Adapun nasihat untuk seluruh kaum Muslimin maka dalam bentuk mencintai untuk mereka apa yang dicintai untuk dirinya sendiri, membenci untuk mereka apa yang ia benci untuk diri sendiri, berbelas kasih terhadap mereka, menyayangi anak-anak kecil dari mereka, hormat pada orang-orang tua dari mereka, sedih karena kesedihan mereka, bahagia karena kebahagiaan mereka kendati hal tersebut merugikan dunianya seperti misalnya memurahkan harga untuk mereka dan kendati membuatnya tidak mendapatkan keuntungan dari hasil penjualannya -sikap yang sama juga terhadap apa saja yang merugikan mereka-, mencintai kebaikan dan persatuan mereka, cinta kelanggengan nikmat pada mereka, menolong mereka dalam menghadapi musuh mereka, dan menolak semua bahaya dari mereka.

Abu Amr bin Ash-Shalah[13])berkata, “Nasihat ialah kata universal yang mencakup pengerjaan oleh pemberi nasihat terhadap sejumlah kebaikan; dalam bentuk keinginan dan amal perbuatan, untuk pihak penerima nasihat.

Nasihat untuk Allah Ta’ala ialah mentauhidkan Allah, menyifati-Nya dengan sifat-sifat kesempurnaan dan keagungan, membersihkan-Nya dari apa saja yang berlawanan dan menvalahi sifat-sifat-Nya, menjauhi semua maksiat, mentaati dan cinta kepada-Nya dengan ikhlas, mencintai dan membenci karena-Nya, memerangi siapa saja yang kafir kepada-Nya dan apa saja yang serupa dengan hal tersebut, mengajak kepada-Nya, dan mendorong manusia untuk berjihad di jalan-Nya.

Nasihat untuk Kitabullah ialah beriman kepadanya, mengagungkan dan membersihkannya, membacanya dengan bacaan yang sebenar-benarnya, memikirkan perintah-perintah dan larangan-larangannya, memahami ilmu-ilmu dan perumpamaan-perumpamaannya, mengkaji ayat-ayatnya, mengajak manusia kepadanya, mempertahankan dari perubahan yang dilakukan oleh orang-orang yang melewati batas, dan pelecehan oleh orang-orang yang kafir.

Nasihat untuk Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mirip dengan point sebelumnya yaitu beriman kepada beliau dan apa saja yang beliau bawa dari Allah, mengagungkan beliau, menghormati beliau, taat kepada beliau, menghidupkan Sunnah beliau, mengutamakan ilmu-ilmu Sunnah beliau, menyebarkannya, memusuhi siapa saja yang memusuhi beliau dan Sunnah beliau, bersahabat dengan siapa saja yang loyal dengan beliau dan Sunnah beliau, berakhlak dengan akhlak beliau, beretika dengan etika beliau, mencintai keluarga beliau dan para sahabat, serta hal-hal lainnya.

Nasihat untuk para pemimpin kaum Muslimin ialah membantu mereka dalam kebenaran, taat kepada mereka dalam hal tersebut mengingatkan mereka kepada hal tersebut, menasihati mereka dengan santun, tidak menyerang mereka, mendoakan kebaikan untuk mereka, dan lain-lain.

Nasihat untuk seluruh kaum Muslimin ialah membimbing mereka kepada kemaslahatan-kemaslahatan, mengajari mereka dalam urusan agama dan dunia mereka, menutup aurat mereka, menutup celah mereka, menolong mereka dalam menghadapi musuh mereka, membela mereka, tidak menipu dan dengki kepada mereka, mencintai untuk mereka apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri, benci untuk mereka apa yang ia benci untuk dirinya sendiri, dan lain-lain”.

Di antara bentuk lain nasihat untuk seluruh kaum Muslimin ialah membuang gangguan dan bahaya dari mereka, mengutamakan orang-orang fakir mereka, mengajari orang bodoh mereka, mengembalikan kepada kebenaran dengan santun siapa saja yang berpaling dari kebenaran dalam perkataan dan perbuatan, dan lemah-lembut kepada mereka dalam melakukan amar ma’ruf dan nahi munkar karena ingin menghilangkan kerusakan mereka kendati hal tersebut merugikan dunianya seperti dikatakan salah seorang dari generasi salaf, “Aku ingin manusia taat kepada Allah kendati dagingku dipotong dengan gunting”. Umar bin Abdul Aziz berkata, “Duhai seandainya aku mengamalkan Kitabullah di tengah-tengah kalian dan kalian juga mengamalkannya. Setiap kali aku mengamalkan sunnah di tengah-tengah kalian, hilanglah salah satu organ tubuh dariku hingga yang terakhir hilang dariku ialah nyawaku”.

Di antara bentuk nasihat untuk Allah Ta’ala, Kitab-Nya, dan Rasul-Nya -ini termasuk salah satu masalah yang diperhatikan khusus oleh para ulama- ialah menolak seluruh hawa nafsu yang sesat dengan Al-Qur’an dan Sunnah, menjelaskan petunjuk keduanya kepada apa saja yang ditentang seluruh hawa nafsu, meng-counter seluruh perkataan lemah; ketergelinciran para ulama, menerangkan petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah pada saat mengcounter, menjelaskan hadits shahih dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallamdan hadits yang tidak shahih dari beliau dengan menerangkan kondisi para perawinya, siapa saja yang riwayatnya bisa diterima dan tidak bisa diterima dari mereka, dan menjelaskan siapa saja perawi tepercaya yang riwayatnya boleh diterima.

Di antara bentuk nasihat teragung ialah memberi nasihat kepada orang yang meminta pertimbangan dalam urusannya, seperti disabdakan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,

‘Jika salah seorang dari kalian meminta nasihatkepada saudaranya, hendaklahsaudaranya menasihatinya”‘.[14])

Disebutkan di salah satu hadits,

“Di antara hak orangMuslim atas orangMuslim lainnya ialah menasihatinyajika ia tidak berada di tempat”.

Maksudnya, jika seorang Muslim yang tidak ada di tempat disebutkan dengantidak baik, maka saudaranya menolongnya dan menolak hal tersebut. Jika orang Muslim melihat orang ingin menyakiti saudaranya yang tidak berada di tempat, iamenahannya dari keinginannya tersebut, karena nasihat tanpa diketahui penerima nasihat itu menunjukkan kebenaran nasihat. Bisa jadi, seseorang memperlihatkan nasihat kepada orang lain di depannya karena ingin mencari muka kemudian iamengkhianatinya jika ia tidak berada di tempat.

Al-Hasan berkata, “Engkau tidak sampai pada nasihat kepada saudaramu dengan nasihat yang sebenarnya hingga engkau menyuruhnya dengan sesuatu yang tidak bisa engkau lakukan”.

Al-Hasan berkata, salah seorang sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallamberkata, “Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, jika kalian mau, aku pasti bersumpah dengan nama Allah untuk kalian sesungguhnya hamba-hamba Allah yang paling dicintai-Nya ialah hamba-hamba yang membuat manusia cinta Allah, membuat Allah cinta kepada mereka, dan menyebarkan nasihat di muka bumi”.

Farqad As-Sabakhi[15])berkata, “Aku baca salah satu kitab dan di dalamnya tertulis, ‘Orang yang cinta Allah Azza wa Jalla ialah gubernur yang diperintah membawahi para gubernur, kelompoknya adalah kelompok pertama kali pada hari Kiamat, dan tempat duduknya ialah tempat duduk yang paling dekat dengan apa saja yang ada di sana. Cinta ialah puncak taqarrub dan kesungguhan. Para pecinta Allah tidak bosan dengan kesungguhan mereka yang lama untuk Allah Azza wajalla, mereka mencintai Allah, senang dzikir kepada-Nya, membuat-Nya mencintai makhluk-Nya, berjalan di depan hamba-hamba-Nya dengan membawa nasihat, dan menakutkan amal perbuatan mereka pada hari semua keburukan terlihat dengan jelas. Itulah wali-wali Allah, orang-orang kecintaan-Nya, orang-orang pilihan-Nya, dan orang-orang yang tidak mempunyai kesenangan kecuali setelah bertemu dengan-Nya”.

Tentang ucapan Abu Bakar Al-Muzani, “Abu Bakar Ash-Shiddiq Radhiyallahu Anhu tidak mengungguli sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallamdengan puasa dan shalat, namun dengan sesuatu yang ada di hatinya”,Ibnu Ulaiyyah berkata, “Yang ada di hati Abu Bakar Ash-Shiddiq ialah cinta karena Allah Azza wa Jalla dan nasihat untuk makhluk-Nya”.

Al-Fudhail bin Iyadh berkata, “Orang yang berjumpa kami tidak melihat kami banyak shalat dan puasa, namun ia melihat kami banyak pemurah, lapang dada, dan memberi nasihat kepada umat”.

Ibnu Al-Mubarak pernah ditanya, “Amal perbuatan apakah yang paling baik?” Ibnu Al-Mubarak menjawab, “Nasihat untuk Allah”.

Ma’mar berkata, “Ada yang mengatakan bahwa manusia yang paling bagus nasihatnya kepadamu ialah orang yang takut kepada Allah berkenaan dengan dirimu”.

Generasi salaf jika ingin menasihati seseorang, mereka menasihatinya secara rahasia, hingga salah seorang dari mereka berkata, “Barangsiapa menasihati saudaranya secara empat mata, itulah nasihat. Barangsiapa menasihatinya di depan manusia, sungguh ia sedang menjelek-jelekkannya”.

Al-Fudhail bin Iyadh berkata, “Orang Mukmin menutup aib dan menasihati, sedang orang jahat membuka aib dan menjelek-jelekkan”.

Abdul Aziz bin Abu Rawwad berkata, “Jika salah seorang dari orang-orang sebelum kalian melihat keburukan pada saudaranya, ia menyuruhnya dengan lemah-lembut, kemudian ia diberi pahala karena perintahnya kepada kebaikan dan larangannya dari kemungkaran. Juga ada salah seorang dari mereka membuat kegaduhan tentang saudaranya yang membuat ia marah kepadanya dan membuka aib dirinya”.

Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhuma pernah ditanya tentang menyuruh penguasa kepada kebaikan dan melarangnya dari kemungkaran kemudian IbnuAbbas menjawab, “Jika engkau harus melakukannya maka, lakukanlah secara empatmata”.

Imam Ahmad berkata, “Orang Muslim tidak wajib menasihati orang dzimmi namun ia wajib menasihati orang Muslim”.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallambersabda,

“Nasihat itu milik setiap Muslim. Ia harus menasihati jama’ah kaumMuslimin dan mereka secara keseluruhan”.

 

[1]Diriwayatkan Muslim hadits nomer 55. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibhan hadits nomer 4575. Takhrijnya secara lengkap, silahkan baca buku tersebut.

[2]Hadits Ibnu Umar diriwayatkan Al-Bazzar hadits nomer 62. Al-Haitsami berkata di Majmauz Zawaid 1/87, “Para perawi hadits tersebut adalah para perawi Bukhari”.

Hadits Tsauban diriwayatkan Ath-Thabrani di Al-Ausath dan di sanadnva terdapat perawi Ayyub bin Suwaid. Al-Haitsami berkata, “Di sanadnya terdapat perawi Ayyub bin Suwaid yang merupakan perawi dhaif dantidak bisa dijadikan sebagai hujjah”.Hadits Ibnu Abbas diriwayatkan Imam Ahmad 1/351, Al-Bazzar hadits nomer 61. danAth-Thabrani hadits nomer 11198.

[3]Diriwayatkan Ath-Thabrani di Ash-Shaghir hadits nomer 907 dan Al-Ausath seperti terlihat di Majmauz Zawaid 1/87. Di sanadnya terdapat perawi Abdullah bin Abu Ja’far Ar-Razi yang merupakan perawi dhaif. Begitu juga ayahnya”.

[4]Diriwayatkan Imam Ahmad 5/254. Di sanadnya terdapat perawi Ali bin Yazid Al-Alhani yang merupakan perawi dhaif.

[5]Diriwayatkan Al-Bukhari hadits nomer 57, 524, 1401, 2157, 2715 dan Muslim hadits nomer 56. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 4545.

[6]Diriwayatkan Muslim hadits nomer 2162. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 242.

[7]Hadits tersebut shahih li gharihi diriwayatkan Imam Ahmad 3/418 dan 4/259. Redaksinya ialah, “Biarkan manusia dan hendaklah sebagian dari mereka mendapatkan musibah dari sebagian yang lain. Jika seseorang meminta nasihat kepada saudaranya, hendaklah saudaranya menasihatinya”.

Di hadits tersebut terdapat perawi Atha’ As-Saib yang ikhtalath (telah tercampur) danHakim bin Abu Yazid yang tidak dianggap sebagai perawi tepercaya oleh selain Ibnu Hibban dan hanya Atha’ yang meriwayatkan darinya.

Saya katakan, sanad riwayat kedua ialah dari Hakim bin Abu Yazid dari ayahnya dari orang yang mendengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Hadits tersebut diperkuat hadits Abu Hurairah sebelumnya dan hadits Jabir yang diriwayatkan Muslim hadits nomer 1522 dan Al-Baihaqi 5/347.

[8]Diriwayatkan Muslim hadits nomer 1715. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 3379.

[9]‘Diriwayatkan Imam Ahmad 4/80, 82 dan Ad-Darimi 1/74. Sanadnya kuat dan mempunyai hadits penguat dari Zaid bin Tsabit. Hadits tersebut dishahihkan Ibnu Hibban hadits nomer 67. Takhrijnya secara lengkap, silahkan baca buku tersebut.

[10]Diriwayatkan Al-Bazzar hadits nomer 141 dari Abu Sa’id Al-Khudri dengan redaksi, “Tiga hal di mana hati orang Muslim tidak berkhianat dengannya: mengikhlaskan amal karena Allah, menasihati para pemimpin kaum Muslimin, dan berada pada jama’ah mereka, karena doamereka meliputi orang yang di belakang mereka”.

[11]Hadits tersebut shahih. Hadits tersebut ada di Al-Musnad 4/137.Hadits tersebut juga diriwayatkan Ath-Thabrani di Al-Kabir 19/622dari jalur Ahmad dan Al-Humaidi hadits nomer 883dari Sufyan bin Uyainah yang berkata, Abu Az-Za’ra’ Amr bin Amr berkata kepadaku dan pamannya dari jalur ayah, Abu Al-Ahwash Auf bin Malik Al-Jusyami, dari ayahnya yang berkata, aku berkata kepada Nabi Shallallalni Alaihi wa Sallam, “Apa yang engkau seru?” Nabi Shallallahai Alaihi wa Sallam bersabda, “Kepada Allah dan sanak kerabat”. Aku berkata, “Salah seorang dari Bani pamanku dari jalur ayah datang kepadaku kemudian aku bersumpah untuk tidak memberinya lalu aku tidak memberinya”. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Tebuslah sumpahmu dan kerjakan sesuatu yang lebih baik. Bagaimana pendapatmu jika engkau mempunyai dua budak; salah satu dari keduanya taat kepadamu, tidak berkhianat kepadamu, dan tidak mendustakanmu. Sedang budak satunya berkhianat kepadamu dan mendustakanmu. Apakah keduanya sama? Budak yang taat kepadamu dan tidak mendustakanmu lebih engkau cintai daripada budak yang mengkhianatimu dan mendustakanmu”. Aku berkata, “Kedua budak tersebut tidak sama, justru budak yang tidak berkhianat kepadaku, tidak mendustakanku, dan berkata benar kepadaku itu lebih aku cintai”. Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Kalian juga seperti itu di sisi Allah Azza wa Jalla”.

[12]2/291-294.

[13]Di buku Shiyanatu Shahih Muslim minal Ikhlal wal Ghalath wa Himayatuhu minal Isqath was Saqthi hal. 223-224.

[14]Hadits shahih telah ditakhrij sebelumnya.

[15]Ia Farqad bin Ya’qub As-Sabakhi Abu Ya’qub Al-Bashri dari Sabkhah di Basrah. Ada yang mengatakan, dari Sabkhah Kufah. Sabkhah ialah tanah yang di dalamnya terdapat garam di mana tanaman tidak tumbuh di dalamnya. Ibnu Sa’ad berkata, “Farqad meninggal dunia karena penyakit thaun pada tahun 131 H. Ia dhaif dan haditsnya munkar”.

Mungkin Anda juga menyukai