Bagaimana Menyembuhkan Korban Guna-guna ?

Oleh : Ahmad Mudzoffar Jufri, MA

Assalamu’alaikum wr .wb.

Sudah 10 hari ini teman saya mengalami kegelisahan saat menjelang magrib dan fajar. Dia baru memutuskan pacarnya. Setelah kejadian itu, dia merasa gelisah saat menjelang magrib dan fajar. Sampai dia sakit kepala, sesak nafas, mengalami ketakutan tentang hal ghaib, insomnia, mimpi buruk.

Padahal dari pengakuannya sendiri sebenarnya dia ga terlalu mempermasalahkan masalahnya itu. Teman saya merasa kena guna-guna. Dia juga telah berobat ke Kyai dan telah diberikan amalan doa-doa. Dia juga sudah rutin melakukan Qiyamul Lail. Antara percaya dan tidak, saya mendengarkan penjelasan dari teman dekatnya tentang guna-guna ini. Apakah benar teman saya ini kena guna-guna? Kalau benar, bagaimana menyambuhkannya?Mohon bantuannya. Terima kasih.

Wassalaamulaikum wr. wb.

Jawab :

Alhamdulillah, wash-shalaatu was-salaamu ‘alaa Rasulillah, amma ba’du:

Istilah guna-guna yang digunakan masyarakat selama ini bisa berarti sihir secara umum, yang berarti sama dengan istilah santet, atau terkadang juga digunakan dengan makna salah satu jenis tertentu dari sihir, yakni jenis sihir yang bisa menanamkan rasa suka dan cinta pada seseorang yang juga disebut sihrul mahabbah (sihir pelet) atau sebaliknya untuk menanamkan kebencian dan permusuhan terhadap orang tertentu, yang disebut sihrut tafriq (sihir pemisahan dan pemutusan hubungan antar sesama). Dan sihir atau guna-guna atau pelet atau apapun nama dan istilahnya, dengan segala jenis dan macamnya, secara faktual ada dan banyak sekali sejak dulu sampai sekarang. Dan sihir disebutkan di dalam banyak ayat Al-Qur’an, misalnya dalam QS. Al-Baqarah [2]: 102, dalam ayat-ayat tentang kisah para penyihir Fir’aun dan lain-lain. Di dalam hadits juga banyak sekali. Sementara itu umumnya sihir terjadi melalui proses kerja sama dan kolaborasi tertentu antara manusia (penyihir) dan jin (sebagai pembantu dan pelaksana sihir), secara langsung atau tidak langsung. Dan di dalam hukum Islam, sihir dihukumi sebagai salah satu kejahatan dan dosa besar terbesar. Sehingga di dalam salah satu hadits yang menyebutkan tujuh bentuk kejahatan dan dosa besar terbesar yang paling membinasakan, kejahatan sihir ditempatkan pada urutan kedua setelah kejahatan syirik secara langsung (lihat HR. Muttafaq ‘alaih dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu).

Apa yang terjadi dan dialami oleh teman Anda memang kemungkinan besar termasuk indikasi adanya faktor guna-guna atau sihir. Namun tentu kami belum bisa memastikan hal itu. Biasanya masih perlu dilakukan proses diagnosa, deteksi, dan sekaligus terapi untuk akhirnya bisa benar-benar memastikan adanya faktor guna-guna atau sihir tersebut.

Adapun bagaimana cara menyembuhkan dan menerapinya, maka singkatnya ya melalui proses terapi ruqyah syar’iyah, baik yang dilakukan oleh yang bersangkutan sendiri secara langsung, dan ini yang lebih utama dan diutamakan, maupun melalui  bantuan ruqyah yang dilakukan oleh orang lain.

Sedangkan ruqyah (diartikan jampi-jampi atau suwuk) adalah sebuah terapi dengan cara pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an dan do’a-do’a perlindungan yang bersumber dari sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yang dilakukan seorang muslim, baik dengan tujuan untuk penjagaan dan perlindungan diri sendiri atau orang lain dari pengaruh buruk pandangan mata manusia dan jin (al-‘ain), kerasukan jin, pengaruh sihir, gangguan kejiwaan, berbagai penyakit fisik dan lain-lain; Maupun dengan tujuan untuk terapi pengobatan dan penyembuhan bagi orang yang telah terkena salah satu diantara jenis-jenis gangguan dan penyakit tersebut. Tapi saat ini terapi ruqyah lebih dikenal secara khusus untuk penyembuhan gangguan kerasukan jin, sihir, guna-guna dan semacamnya.

Istilah ruqyah perlu disertai kata syar’iyah, sehingga menjadi ruqyah syar’iyah dimaksudkan bahwa, terapi ini dalam pelaksanaannya harus benar-benar murni sesuai dengan batasan-batasan Syari’ah Islam yang berdasarkan Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dan hal itu baik dalam hal kemurnian aqidah & ibadah, niat dan tujuan, muatan dan isi, maupun tata cara pelaksanaan. Jadi harus benar-benar bersih dari unsur-unsur campuran yang tidak berdasar (bid’ah) dan yang melanggar hukum Syara’.

Sehingga perlu diingatkan bahwa, dalam mencari atau meminta terapi ruqyah, seseorang harus berhati-hati dan selektif, agar tidak salah dan menyimpang. Karena tidak semua yang memberikan layanan terapi ruqyah dengan bacaan Al-Qur’an atau dzikir itu mesti benar dan ditolerir. Bahkan tidak sedikit diantara mereka, yang justru telah menyimpang dan salah jalan. Jadi yang harus dicari adalah ruqyah syar’iyah tersebut, yakni yang benar-benar murni tanpa dicampuri dengan hal-hal yang mengandung unsur pelanggaran syar’i, seperti yang marak terjadi di masyarakat saat ini.

Dan jika ingin mengetahui lebih banyak dan luas tentang terapi ruqyah ini, maka silakan membaca buku-buku ruqyah syar’iyah yang sudah cukup banyak beredar selama ini. Atau silakan berkonsultasi ke klinik-klinik ruqyah syar’iyah atau ustadz-ustadz peruqyah syar’i yang ada.

Demikianlah jawaban yang bisa kami berikan, semoga dipahami dan bermanfaat.

Wallahu a’lam, wa Huwal Muwaffiq ilaa aqwamith-thariiq, wal Haadii ilaa sawaa-issabiil.

Mungkin Anda juga menyukai