Hijrah Maknawiyah

Oleh : Tolhah Nokin, Lc
Dengan datangnya tahun Baru Hujriah 1438, kita diingatkan lagi tentang peristiwa Hijrah yang dilakukan sebagian Sahabat di awal dakwah Islam.
Hijrah bukan sekedar perjalanan biasa. Bukan seperti sebagian orang yang melakukan rihlah atau tamasya yang penuh dengan kesenangan. Bukan juga seperti traveling yang penuh dengan kenyamanan dan keindahan. Akan tetapi Hijrah ini adalah perjalann yang penuh dengan rintangan dan tantangan. Karena musuh Islam dari kalangan orang Quraisy tidak membiarkan sebagian Sahabat ini menikmati kebebasan dalam melaksanankan Agamanya di tempat yang baru.
Arti Hijrah
Secara etimologi bahwa Hijrah berarti perpindahan dari suatu tempat ke tempat yang lain. Pengrtian seperti ini bisa bermakna transmigrasi, urbanisasi dan imigrasi.
Dan secara terminologi dakwah adalah pindahnya sebagian Sahabat atau seluruhnya dari Makkah menuju wilayah yang baru (Etiopia dan atau Madinah) seizing Allah SWT atau Rasulullah SAW dengan tujuan menjaga Aqidah mereka dari serangan Kuffar Quraisy untuk maslahat Dakwah ke depan.
3 kali Hijrah
Hijrah yang pernah dilakukan sebagaian Sahabat dan seluruhnya bersama Rasulullah SAW sebanyak tiga kali.
Pertama; dilakukan oleh 12 sahabat dan 4 sahabiah yang dipimpin langsung sahabat Utsaman bin Affan bersama Istrinya Ruqayyah binti Muhammad Rasulullah SAW pada bulan Rajab tahun 5 kenabian.
Kedua; setelah ada berita yang sampai kepada mereka yang Hijrah bahwasanya Kuffar Quraisy memeluk Islam setelah mendengar ayat-ayat Al-Quran yang dibacakan kepada mereka. Saat mereka melihat yang sebenarnya tentang Kuffar Quraiys di Makkah pada bulan Syawal, ternyata berita yang sampai mereka ketika masih di Etiopia tidak benar. Maka penyiksaan dan pemganiaan semakin meningkat di Makkah.
Dan dalam kondisi penganiaan dan penyeksaan yang semakin meningkat dan lebih brutal, Rarasulullah mengizinkan gelombang kedua dari Sahabatnya untuk berHijrah kembali. Maka pada saat itu ada 83 sahabat dan 18 atau 19 sahabiah yang melakukan Hijrah kembali ke Etiopia yang kedua kalinya.
Dalam Hijrah yang ke dua ini, Kuffar Quraisy tidak tinggal diam membiarkan para Sahabat Hijrah dengan rasa aman dan nyaman. Makan dikirimlah 2 pemuda Quraiys yang sangat cerdas ke Etiopia dengan targert mengembalikan para sahabat ke Makkah lagi. Mereka berdua adalah: Amr bin Al-Ash dan Abdullah bin Abu Rabiah ( yang akhirnya keduanya masuk Islam ). Namun usaha mereka gagal saat melobi Raja Najasy yang adil agar diizinkan membawa pulang para sahabat kembali ke mekkah.
Ketiga; Hijrah semua sahabat dan Rasulullah SAW ke kota Madinah setelah diawali dengan adanya 2 kali peristiwa Baiah dari sebagian penduduk Madinah dari kaum Aus dan Khozraj.
Tidak ada Hijrah Lagi
Hijrah tidah dianjurkan laki dalam Islam setelah peristiwa Fathu Makkah. Coba kita perhatikan Sabda Nabi Muhammad SAW berikut ini:
ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فَانْفِرُوا
(BUKHARI – 2575) : dari Ibnu ‘Abbas radliallahu ‘anhuma berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak ada lagi hijrah setelah kemenangan (Makkah) akan tetapi yang tetap ada adalah jihad dan niat. Maka jika kalian diperintahkan berangkat berjihad, berangkatlah”.
Setelah adanya kemenangan dalam Fathu Makkah, maka tidak perlu lagi bagi ummat Islam melakukan Hijrah. Akan tetapi yang harus dilakukan adalah perjuangan (jihad) dan niat itu sendiri. Saatnya bagi ummat untuk melakukan ekspansi.
Hijrah Maknawiah
Hijrah secara fisik saat ini tidak diperlukan lagi. Apalagi kita yang ada di Indonesia, tidak perlu melakukan perpindahan dari suatu tempat ke tempat lain, kecuali ada maslahat yang lebih besar lagi.
Hijrah saat ini yang paling tepat adalah hijrah maknawi. Hal ini seperti yang disabdakan Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
(BUKHARI – 9) : dari Abdullah bin ‘Amru dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bersabda: “Seorang muslim adalah orang yang Kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya, dan seorang Muhajir adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah ”
Hijrah maknawiah adalah dijrah dengan meninggalkan semua yang dilaran oleh Allah SWT. Setiap muslim yang telah meninggalkan hal-hal yang diharamkan Islam, maka ia termasuk orang yang telah melakukan Hijrah secara maknawiah. Seperti melakukan Hijrah dari kesyirikan menuju ketauhidan, dari kemungkaran menuju ketaatan, dari kemunafikan menuju keikhlasan, dari Jahiliah menuju Keislaman.

Semoga kita termasuk hamba-hamba Allah yang selalu melakukan Hijrah Maknawiah dalam kehidupan kita.

Mungkin Anda juga menyukai