Ancaman Disintegrasi Keluarga

Di antara doa Nabi Ibrahim-alaihissalam- kekek dari Nabi Ya’qub-alaihissalam- adalah doa ketahanan keluarga sampai ke anak cucunya. Permohonan agar senantiasa tunduk berserah diri kepada Allah, rajin menjalankan shalat, saling mencintai sesama, dan bersyukur kepada Allah subhanahu wa taala. Di antara doa itu adalah:

Ya Tuhan Kami, Jadikanlah Kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu Kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada Kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji Kami, dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Ya Tuhan Kami, Sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, Maka Jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, Mudah-mudahan mereka bersyukur.

Ya Tuhanku, Jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku.

Keluarga Nabi Ibrahim-alaihissalam- dan keturunannya adalah symbol keluarga sakinah sepanjang masa. Maka gejolak yang terjadi di rumah Nabi Ya’qub -alaihissalam- dapat menjadi pelajaran berharga bagi semua ummat manusia dalam mengelola dinamika keluarga.

Anak-anak bagi keluarga bisa menjadi pelita hati yang menyejukkan pandangan. Seperti permohonan hamba-hamba Allah yang shalih:

Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan Kami, anugrahkanlah kepada Kami isteri-isteri Kami dan keturunan Kami sebagai penyenang hati (Kami), dan Jadikanlah Kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.

Anak-anak juga bisa menjadi fitnah/ujian bagi keluarga, yang memerlukan perhatian dan pembinaan yang baik agar dapat memperoleh pahala besar dari ujian ini. firman Allah:

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan Sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah-lah pahala yang besar.

Anak-anak juga menjadi musuh dalam keluarga. Firman Allah:

Hai orang-orang mukmin, Sesungguhnya di antara isteri-isterimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu Maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Maka memperlakukan anak dengan bijak dan adil menjadi kewajiban setiap orang tua, agar anak-anak dapat tumbuh dengan baik. Rasulullah –shallallahu alaihi wasallama- pernah mengingatkan sahabat Al Basyir ayah An Nu’man ibn Al Basyir, yang datang membawa anaknya menghadap Rasulullah-shallallahu alaihi wasallama, lalu berkata:

“Sesungguhnya saya ingin memberikan kepada anak saya ini seorang budak pria yang saya miliki”. Lalu Rasulullah-shallallahu alaihi wasallama- bertanya: “Apakah seluruh anakmu kamu berikan seperti itu? Ia menjawab: “Tidak”. Lalu Rasulullah-shallallahu alaihi wasallama- bersabda: “ Kalauu begitu, jangan engkau suruh saya menyaksikannya. Karena sesungguhnya saya tidak akan menyaksikan kezhaliman”. Dalam riwayat lain: “Mintalah saksi selain saya. Lalu Rasulullah bertanya: “Apakah engkau senang, jika mereka nanti sama-sama berbakti kepadamu? Ia menjawab: “Ya”. Sabda Rasulullah: “Kalau begitu jangan kau lakukan”

Keluarga Nabi Ya’qub mengalami ujian goncangan keharmonisan keluarga yang tergambar dalam bentuk kecemburuan anak-anaknya terhadap posisi Nabi Yusuf, yang mereka pandang lebih dicintai ayahnya daripada yang lainnya. firman Allah:

(yaitu) ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri, Padahal kita (ini) adalah satu golongan (yang kuat). Sesungguhnya ayah kita adalah dalam kekeliruan yang nyata. bunuhlah Yusuf atau buanglah Dia kesuatu daerah (yang tak dikenal) supaya perhatian ayahmu tertumpah kepadamu saja, dan sesudah itu hendaklah kamu menjadi orang-orang yang baik”.

Dalam Surah Yusuf ini diungkapkan beberapa penyakit yang terjadi pada anak-anak Nabi Ya’qub –alaihisssalam- yang dapat mengancam ketahanan dan keutuhan keluarga yang secara tarbaawi dapat dikelompokkan dalam tiga ranah, yaitu:

Ranah afektif (athifiyyah/hati) meliputi hasad/iri, khiyanat/tidak bisa dipercaya, ghaflah/lalai, kadzib/berdusta, iftira/membuat cerita palsu, mudah menuduh orang lain bersalah, menganggap ringan perbuatan dosa, mudah panik, dan berputus asa.

Ranah kognitif (aqliyyah/fikriyyah) berupa : merasa benar dan menuduh ayahnya salah, jahil/bodoh, bersepakat dalam kebatilan, merasa mengetahui cara bertaubat, nisyan/lupa, khatha’/salah.

Ranah psikomotorik (hissiyah/amaliyyah) berupa, permusyawaratan bathil/sesat, usaha penghilangan/mencampakkan Nabi Yusuf ke dalam sumur, pulang di waktu isya’/awal malam, tangisan sandiwara, melumuri baju dengan darah untuk meyakinkan ayahnya.

Mungkin Anda juga menyukai