Mafhum Silaturahim

Setelah usai menjalankan menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadhan, ada kebiasaan yang dilakukan sebagian besar Ummat Islam yaitu Silaturrahim (menyambung Rahim/kerabat). Silaturarahim merupakan bentuk kegiatan sangat positif dan sangat bermanfaat yang dilakukan siapa saja, wabilkhusus Ummat Islam usai menjalankan Ibadah Shaum. Karena banyak kebaikan-kebaikan yang tercipta dalam kegiatan Silaturrahim. Diataranya ucapan salam, berjabat tangan, berpelukan yang mengisaratkan kasih sayang, saling mendoakan dan saling memberi nasehat.

Apa itu Silaturrahim?

Bisa kita artikan bahwa Silaturrahim adalah menyambung ikatan kekerabatan dengan cara menyampaikan segala bentuk kebaikan kepada keluarga dan orang lain. Bahkan ada pemahaman Silaturrahim yang lebih spesifik lagi adalah menyambung hubungan kekerabatan yang telah terputus.

Inilah makna atau pemahaman Silaturrahim yang telah dijelaskan Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍوعَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَيْسَ الْوَاصِلُ بِالْمُكَافِئِ وَلَكِنْ الْوَاصِلُ الَّذِي إِذَا قُطِعَتْ رَحِمُهُ وَصَلَهَا

(BUKHARI – 5532) : dari Abdullah bin ‘Amru dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: Orang yang menyambung silaturrahim bukanlah orang yang memenuhi (kebutuhan) akan tetapi orang yang menyambung silaturrahim adalah orang yang menyambungnya kembali ketika tali silaturrahim itu sempat terputus.

Silaturrahim yang bisa kita pahami dalam hadits di atas, bahwa tidak hanya kita lakukan terhadap saudara dan keluarga kita saja. Akan tetapi ruang lingkupnya sangatlah luas. Bias dengan saudara dekat kita seperti saudara kandung, ahli waris, keluarga besar bahkan bisa dengan orang-orang yang pernah terjalin hubungan baik denga orang tua kita. Miskipun mereka adalah saudara jauh kita dan tidak ada hubungan keluarga.

Coba kita perhatikan hadits berikut ini:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ أَنَّهُ كَانَ إِذَا خَرَجَ إِلَى مَكَّةَ كَانَ لَهُ حِمَارٌ يَتَرَوَّحُ عَلَيْهِ إِذَا مَلَّ رُكُوبَ الرَّاحِلَةِ وَعِمَامَةٌ يَشُدُّ بِهَا رَأْسَهُ فَبَيْنَا هُوَ يَوْمًا عَلَى ذَلِكَ الْحِمَارِ إِذْ مَرَّ بِهِ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ أَلَسْتَ ابْنَ فُلَانِ بْنِ فُلَانٍ قَالَ بَلَى فَأَعْطَاهُ الْحِمَارَ وَقَالَ ارْكَبْ هَذَا وَالْعِمَامَةَ قَالَ اشْدُدْ بِهَا رَأْسَكَ فَقَالَ لَهُ بَعْضُ أَصْحَابِهِ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ أَعْطَيْتَ هَذَا الْأَعْرَابِيَّ حِمَارًا كُنْتَ تَرَوَّحُ عَلَيْهِ وَعِمَامَةً كُنْتَ تَشُدُّ بِهَا رَأْسَكَ فَقَالَ إِنِّي سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ مِنْ أَبَرِّ الْبِرِّ صِلَةَ الرَّجُلِ أَهْلَ وُدِّ أَبِيهِ بَعْدَ أَنْ يُوَلِّيَ وَإِنَّ أَبَاهُ كَانَ صَدِيقًا لِعُمَرَ

(MUSLIM – 4631) : dari Ibnu Umar bahwasanya apabila ia hendak ke Makkah, maka biasanya ia membawa keledainya untuk dikendarainya jika -ia sudah bosan untuk mengendarai unta, – sambil mengikatkan sorban pada kepalanya. Pada suatu hari, ketika ia sedang mengendarai keledainya, tiba-tiba ada seorang laki-laki Arab badui yang lewat, maka dia berkata: Bukankah kamu ini adalah fulan bin fulan? Orang tersebut menjawab; Ya, benar. Lalu Ibnu Umar memberikan keledainya kepada orang itu sambil berkata; Ambillah keledai ini untuk kendaraanmu! Selain itu, ia juga memberikan sorbannya dengan mengatakan; lkatkanlah surban ini di kepalamu! Salah seorang sahabat berkata kepada Abdullah bin Umar: Semoga Allah mengampunimu hai lbnu Umar, karena kamu telah memberikan keledai yang biasa kamu jadikan kendaraanmu dan sorban yang biasa kamu ikatkan di kepalamu kepada orang Arab badui itu. Abdullah bin Umar menjawab: Wahai sahabat ketahuilah bahwasanya saya pernah mendengar Rasulullah bersabda: Di antara bakti seseorang yang paling baik kepada orang tuanya adalah menyambung tali keluarga karib orang tuanya setelah orang tuanya meninggal dunia. Sesungguhnya bapak orang Arab badui itu dahulu adalah teman Umar bin Khaththab.

Luar biasanya persaudaran dalam Islam. Sungai kecintaan dan kasih sayang yang terjalin karena iktan aqidah diantara Ummat ini tidak akan putus begitu saja, tapi air sungai kecintaan itu terus mengalir sampai jauh. Karena kecintaan dan kasih sayang ini akan tetap terjaga dengan adanya silaturrahim.

Terus Bersilaturahimlah Meskipun Bertepuk Sebelah Tangan?

Banyak ayat Al-Quran dan hadits Rasul yang memerintahkan kita untuk melakukan kebaikan-kebaikan dalam kehiudpan kita yang fana ini. Salah satunya adalah kegaiatan Silaturrahim. Meskipun terkadang kita menemukan kendala atau hambatan dalam menjalin kekeluargaan dan persaudaraan diantara kita.

Bisa jadi saudara kita atau orang yang telah putus hubungan persaudaaran, menolak silaturrahim dan kebaikan kita terhadap mereka. Itulah arti betepuk sebelah tangan dalam persaudaraan dan silaturrahim yang kita lakukan. Kita imgin menyambung kembali persaudaraan tapi mereka memutuskan, kita berbuat baik kepada mereka , akan tetapi sebaliknya mereka balas dengan keburukan dan kita berlaku lemah lembut kepada mereka akan tetapi sering membalas dengan sifat kasar.

Coba perhatikan hadits dibawah ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلًا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ لِي قَرَابَةً أَصِلُهُمْ وَيَقْطَعُونِي وَأُحْسِنُ إِلَيْهِمْ وَيُسِيئُونَ إِلَيَّ وَأَحْلُمُ عَنْهُمْ وَيَجْهَلُونَ عَلَيَّ فَقَالَ لَئِنْ كُنْتَ كَمَا قُلْتَ فَكَأَنَّمَا تُسِفُّهُمْ الْمَلَّ وَلَا يَزَالُ مَعَكَ مِنْ اللَّهِ ظَهِيرٌ عَلَيْهِمْ مَا دُمْتَ عَلَى ذَلِكَ

(MUSLIM – 4640) : dari Abu Hurairah bahwasanya seorang laki-laki pernah berkata; "Ya Rasulullah, saya mempunyai kerabat. Saya selalu berupaya untuk menyambung silaturahim kepada mereka, tetapi mereka memutuskannya. Saya selalu berupaya untuk berbuat baik kepada mereka, tetapi mereka menyakiti saya. Saya selalu berupaya untuk lemah lembut terhadap mereka, tetapi mereka tak acuh kepada saya. Lalu Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Jika benar seperti apa yang kamu katakan, maka kamu seperti memberi makan mereka debu yang panas, dan selama kamu berbuat demikian maka pertolongan Allah akan selalu bersamamu.

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. Selasa, 12 Jul 2016

    […] bersilaturrahim kepada kerabat, sanak saudara dan khususnya kepada kedua orang […]