‘Iedul Fithri dan Saling Memaaafkan

Bersalaman

Ada beberapa tradisi di nusantara yang dikaitkan dengan ‘iedul Fithri, diantaranya:

  1. Tradisi bersilaturrahim kepada kerabat, sanak saudara dan khususnya kepada kedua orang tua.
  2. Mudik atau kembali ke udik, atau pulang kampung, dalam rangka melakukan silaturrahim tadi. Bahkan, tradisi mudik untuk bersilaturrahim ini terkadang harus dilakukan dengan high cost, baik dari sisi waktu, tenaga, biaya dan cost-cost (baca diantaranya berita tentang mudik-2016 M).
  3. Tradisi halal bi halal.
  4. Tradisi sungkeman, bersalam-salaman, saling meminta maaf dan saling memaafkan.

Kenapa pada momentum ‘Iedul Fithri ada tradisi bersalam-salaman, saling meminta maaf dan saling memaafkan yang terkadang pelaksanaannya disatukan dengan acara halal bi halal?

Kalau ditelusuri, hal ini mempunyai latar belakang filosofi keagamaan yang sangat mendalam, yang penjelasannya adalah sebagai berikut:

Pertama: Bulan Ramadhan adalah Syahrul Maghfirah

Pada bulan Ramadhan, terdapat banyak sekali peluang bagi terhapusnya dosa. Diantaranya melalui shiyam, qiyam Ramadhan, qiyam Lailatul Qadar dan ibadah-ibadah lainnya. (baca: Sebab terampuninya dosa di bulan Ramadhan).

Asumsi dan harapannya, dengan berakhirnya Ramadhan, seseorang telah mendapatkan predikat “terampuni” (baca: Ramadhan Syahrul Maghfirah). Sehingga, asumsi dan harapannya, dosa-dosa antara manusia dengan Allah SWT telah terampuni.

Kedua: Perlu Saling Meminta Maaf dan Saling Memaafkan

Namun, ada satu dosa dan kesalahan yang untuk menghapusnya, perlu dilakukan upaya saling meminta maaf dan saling memaafkan. (baca: Makna Halal bi Halal)

Harapannya, setelah dosa-dosa antara manusia dan Allah SWT terampuni, maka, agar lengkap dan sempurna, maka perlu ada upaya, proses dan mekanisme agar dosa-dosa yang terjadi diantara sesama manusia juga dapat dihapus dan terampuni.

Upaya, proses dan mekanisme inilah yang oleh para da’i terdahulu di negeri ini dimunculkan dan dikelola dalam bentuk saling bersalaman, saling meminta maaf dan saling memaafkan.

Dan oleh para da’i di nusantara terdahulu, momentumnya ditempatkan di bulan Syawal, mulai tanggal 1 Syawal yang bertepatan dengan momentum ‘Iedul Fithri dan dapat memanjang sampai sepanjang bulan Syawal.

Alasannya, ya itu tadi, karena pada bulan Ramadhan, telah terjadi penghapusan dosa antara manusia dengan Allah SWT, maka sangat tepat kalau pasca Ramadhan persis, dilakukan upaya, proses dan mekanisme penghapusan dosa yang terjadi diantara sesama manusia.

Ketiga: Zakat Fithrah

Apalagi jika kedua hal di atas dikaitkan dengan adanya syari’at pembayaran Zakat Fithrah, yang nama dan istilahnya saja sudah mengingatkan kaum muslimin kepada kesucian, yang merupakan salah satu makna zakat, dan kembali kepada keadaan semula saat manusia dilahirkan (fithrah), di mana manusia dilahirkan dalam keadaan suci tidak membawa dan tidak memiliki dosa sama sekali.

Dari ketiga filosofi inilah barangkali, wallahu a’lam, ‘Iedul Fithri dikaitkan dengan upaya, proses dan mekanisme pensucian dari segala bentuk dosa, termasuk dosa yang terjadi diantara sesama manusia.

Mohon maaf lahir dan batin atas segala khilaf dan salah.

Mungkin Anda juga menyukai