Peran Orang Tua dalam Mengelola Dinamika Keluarga

Kisah Nabi Yusuf adalah kisah terindah dalam Al Qur’an. Dari kisah ini banyak sisi kehidupan yang diangkat untuk menjadi pelajaran berharga bagi ummat manusia dalam mengelola problematika, mulai dari level individu, keluarga, sampai level Negara. Semua disajikan dengan jelas dan indah, sehingga mampu menjadi pelita bagi siapa saja, terutama yang sedang berduka. Imam Atha’ berkata: “Tidak ada orang yang mendengar surah Yusuf ini dalam keadaan sedih, kecuali ia akan menjadi ceria olehnya.”

Pada fragmen kisah Nabi Yusuf dengan saudara-saudaranya terdapat pelajaran indah dalam mengelelola dinamika keluarga. Posisi dan kedekatan Nabi Yusuf dengan ayahnya dibandingkan dengan sebelas saudara lainnya menjadi titik awal timbulnya masalah disharmoni dalam keluarga. Posisi yang menimbulkan pikiran konspiratif pada diri saudara-saudara yang merasa lebih besar dan lebih layak untuk diperhatikan. Konspirasi untuk menghilangkan Nabi Yusuf dengan membuangnya ke sumur, lalu membuat laporan palsu kepada Nabi Ya’qub –alaihissalam- menjadi awal dari rangkaian musibah yang menimpa keluarga Nabi Ya’qub -alaihissalam.

Kegagalan dalam mengelola emosi, ketidak berdayaan manusia menghadapi gejolak jiwa, serta ego pribadi untuk menjadi pemenang dan meraih keuntungan besar bagi diri sendiri dapat membuat seseorang melakukan perbuatan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip akhlaq dan nilai-nilai universal yang lurus.

Konspirasi saudara-saudara Nabi Yusuf memberikan gambaran nyata tentang sifat dengki/iri, dan kesepakatan hina yang berujung pada rekayasa menghilangkan Nabi Yusuf dari anggota keluarga. Hubungan saudara yang seharusnya saling mencintai, menyayangi dan melindungi, berubah menjadi ancaman yang dapat menimbulkan bahya bagi sesama saudara. Mencampakkan Nabi Yusuf ke dalam sumur adalah perbuatan aneh yang sangat membahayakan.

Dari sinilah kisah Nabi Yusuf dengan saudara-saudaranya bertutur mengalir. Ada rekayasa jahat dari mereka yang terbakar dengki. Akan tetapi Allah –subhanahu wa ta’ala- memiliki cara lain dalam menyelamatkan dan memuliakan Nabi Yusuf, membawanya ke istana meskipun berstatus sebagai seorang budak. Romantika hidup berjalan menyusuri takdirnya, bahwa setelah kesulitan itu ada kemudahan. Bahwa setelah kehinaan itu ada kemuliaan.

Selanjutnya cerita hidup itu berjalan seperti malam dan siang, silih berganti, antara gelap dan terang, antara kesulitan dan kemudahan. Pesona dan ketampanan Nabi Yusuf menimbulkan fitnah yang mengantarkannya masuk ke penjara, meninggalkan istana yang sempat memanjakan hidupnya. Demikianlah cerita hidup itu berlangsung, dari ketinggian gunung menuju ke lembah.

Pandangan positif (ru’yah ijabiyah) yang melandasi hidup Nabi Yusuf, membuatnya mampu memanfaatkan keberadaannya di penjara sebagai kesempatan emas belajar banyak hal, termasuk belajar mengelola Negara yang diperolehnya. Sebuah tahapan proses pematangan pribadi agar kuat mengemban amanah dan mengendalikan diri, sehingga ketika berjumpa kembali dengan mereka yang pernah menzhalimi dan mencelakakannya tidak lagi tersisa dendam dan amarah, akan tetapi keindahan akhlaq sebagai negarawan yang memperlakukan saudaranya dengan baik, saling menghormati dan mencintai.

Peran Nabi Ya’qub sebagai ayah yang bijaksana, mengasuh duabelas anak dengan berbagai macam karakter yang berbeda, mengajarkan indahnya kesabaran yang tidak bertepi, tidak ada kemarahan, dan hukuman kepada anak-anak yang telah menghilangkan buah hatinya. Optimisme, bersemangat dan tidak kenal putus asa dalam berusaha menemukan kembali Nabi Yusuf terus dipompakan kepada mereka. Ia menjadi orang tua inspiratif yang memiliki banyak ide, orang tua yang senantiasa menebar harapan dengan landasan iman.

Cerita yang menyedihkan tentang hilangnya Yusuf dan laporan yang ganjil, bahwa Yusuf hilang dimakan srigala, dengan baju berlumur darah dibawa pulang, adalah keanehan yang menyisakan banyak pertanyaan. Mungkinkah srigala melepas dahulu baju Yusuf sebelum ia memakan habis jasadanya? Apakah tidak ada tulang Yusuf yang tersisa? Di manakah posisi terakhir jasad Yusuf ditemukan. Dan masih banyak lagi pertanyaan yang dapat diajukan atas laporan itu. Akan tetapi Nabi Ya’qub tidak melakukan investigasi lebih jauh, karena hanya akan melahirkan masalah baru yang tidak menyelesaikan masalah yang ada. Maka menyikapinya sebagai ujian dan bersabar dengan baik menjadi pilihan bijak orang tua menyikapi kelakuan yang tidak menyenangkan dari anak-anaknya. Sikap yang sama terulang kembali, memilih bersabar ketika menanggapi berita Bunyamin yang tertahan di Mesir karena tuduhan pencurian.

Inilah kekuatan yang melandasi, mengikat dan menjaga keluarga Nabi Ya’kub dari ancaman disintegrasi. Kekuatan iman, kekuatan cinta, optimis, kreatif dan inovatif menghadapi kesulitan telah menyelamatkan mereka dari ancaman kehnacuran.

Terik gurun dan kekeringan, kekurangan makan dan kelaparan, badai dan hujan adalah bagian dari romantika kehidupan. Ia hanyalah sebagian kecil ujian di daratan. Dan bahkan indahnya laut luas dan dalam itu jika ombaknya terus bergulung menghempas daratan.

Menantang dan melawan badai bukanlah cara yang bijak bagi orang beriman. Rasulullah bersabda:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ لَا تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَاسْأَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ ثُمَّ قَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَالَ اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ وَمُجْرِيَ السَّحَابِ وَهَازِمَ الْأَحْزَابِ اهْزِمْهُمْ وَانْصُرْنَا عَلَيْهِم

“Wahai manusia, Janganlah kalian berharap bertemu musuh, dan mintalah kepada Allah keselamatan. Namun jika kamu bertemu musuh maka bersabarlan. Dan ketauhilah bahwa surga itu berada di bawah kilatan pedang. Kemudian Nabi Muhammad berdiri dan berdoa: “Ya Allah Yang telah menurunkan Kitab suci, Yang Menggerakkan awan, Yang Mengalahkan golongan-golongan, kalahkan mereka dan tolonglah kami mengalahkannya.

Namun mendayagunakan tantangan untuk proses pematangan dan menyikapinya sebagai proses ujian adalah salah satu cara bijak menghadapi persoalan. Hasan Al Banna mengatakan:

ألجموا نزوات العواطف بنظرات العقول ، وأنيروا أشعة العقول بلهب العواطف ، وألزموا الخيال صدق الحقيقة والواقع ، واكتشفوا الحقائق في أضواء الخيال الزاهية البراقة . ولا تميلوا كل الميل فتذروها كالمعلقة ، ولا تصادموا نواميس الكون فأنها غلابة ، ولكن غالبوها واستخدموها وحولوا تيارها واستعينوا ببعضها علي بعض ، وترقبوا ساعة النصر وما هي منكم ببعيد

Kekanglah rasa ketergesaan kalian dengan pandangan dan pemikiran yang jernih, dan terangilah kecemerlangan akal pikiran dengan gelora perasaan yang mengharu-biru penuh semangat. Beranganlah dengan kejujuran hakekat dan kenyataan, dan singkaplah hakekat itu di dengan benderangnya angan yang rasional nan cemerlang, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung kepada yang kamu cintai, sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan janganlah kalian melawan fenomena alam, karena ia yang menang, akan tetapi taklukkan dan daya gunakan, alihkanlah gelombangnya, dan berdayakan sabagiannya untuk sebagian yang lain, dan nantikan saat kemenangan, dan itu tidaklah jauh darimu.

Mungkin Anda juga menyukai