Makna ‘Ied Menurut Bahasa dan Do’a-Do’a Tahniahnya

عيد سعيد

Secara bahasa, kata ‘ied (عِيد) berasal dari عَادَ – يَعُوْدُ

Hanya saja, para ahli bahasa berbeda pendapat tentang akar kata (مَصْدَر) darinya.

Pertama:

Satu pendapat mengatakan bahwa ia berasal dari kata: عَادَ – يَعُوْدُ إِلَيْهِ – عَوْدًا yang berarti kembali kepada sesuatu.

Menurut pendapat ini, kosa kata ‘ied (عِيد) pada asalnya, berhuruf tengah wawu, lalu, huruf wawu ini berubah menjadi ya’ karena menyesuaikan dengan harakat huruf ‘ain (huruf sebelumnya).

Kenapa dinamakan ‘ied yang berasal dari kata ‘aud yang makna asalnya adalah kembali?

Hal ini pun ada beberapa pendapat, diantaranya:

  1. Karena, ‘ied itu menggambarkan tentang kembalinya seseorang kepada kesenangan dan kegembiraan, atau kembalinya seseorang kepada duka dan kesedihan. Dan segala sesuatu yang terulang dan kembali lagi, secara bahasa disebut ‘ied, karena ia balik lagi dan balik lagi.
  2. Karena ia akan selalu kembali dari tahun ke tahun, atau dari waktu ke waktu. Pendapat ini, menurut Ibnu Faris (329 – 395 H = 941 – 1004 M) dalam Mu’jam Maqayisil-Lughah lebih shahih.
  3. Bagi kaum muslimin, dinamakan ‘ied karena mereka kembali makan minum dan juga kembali kepada hukum awal diperbolehkannya suami melakukan hubungan dengan istrinya seperti sedia kala setelah sebelumnya “dilarang” karena berpuasa (untuk kasus ‘iedul fithri) atau setelah sebelumnya “dilarang” karena sedang menunaikan ibadah haji, untuk kasus ‘iedul adh-ha dengan syarat dan ketentuan tertentu.
  4. Dinamakan ‘ied dalam arti kembali sebagai bentuk isyarat bahwa manusia baru saja kembali kepada “kesuciannya” setelah terhapusnya dosa-dosanya yang telah berlalu dikarenakan melakukan shiyam, qiyam dan ibadah-ibadah lainnya. (semoga). Dari sinilah muncul istilah: kembali kepada fithrah, kembali kepada kesucian.
  5. Dinamakan ‘ied dalam arti kembali, dengan harapan agar seluruh kaum muslimin tetap dan selalu kembali kepada Allah SWT, bertaqarrub kepada-Nya, meskipun ibadah puasa dan hajinya telah selesai.

Kedua:

Pendapat lain mengatakan bahwa kosa kata ‘ied memang berasal dari عَادَ – يَعُوْدُ akan tetapi bukan عَادَ – يَعُوْدُ – عَوْدًا namun, berasa dari عَادَ – يَعُوْدُ – عَادَةً yang berarti adat atau kebiasaan. Dinamakan demikian, karena masyarakat telah terbiasa, dan hal itu telah menjadi adat atau kebiasaan mereka.

Pendapat ini sebenarnya juga ada titik temu dengan عَادَ – يَعُوْدُ – عَوْدًا yang dalam arti kembali, sebab, sebuah adat atau kebiasaan tidak akan menjadi adat atau kebiasaan kecuali karena terulang dan terulang, kembali dan kembali.

Dari sinilah lalu muncul do’a-do’a sebagai berikut:

  1. ‘Iedun Sa’idun (عِيْدٌ سَعِيْدٌ) semoga hari ‘ied kamu menjadi hari ‘ied yang berbahagia. Kalimat do’a ini diucapkan karena memang, secara bahasa, kata ‘ied diantaranya berkait dengan kembali kepada suasana senang, riang, gembira dan bahagia.
  2. Kullu ‘amin wa antum bikhairin (كُلُّ عَامٍ وَأَنْتُمْ بِخَيْرٍ) semoga, setiap tahun, kalian selalu dalam keadaan baik. Kalimat do’a ini diucapkan karena salah satu makna dari kata ‘ied adalah terulang dan kembalinya ia pada setiap tahunnya, lalu ditambahkan dengan do’a: semoga selalu dalam keadaan baik, atau bahkan lebih baik, amin.
  3. TaqabbalaLlahu minna waminkum (تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ) semoga Allah SWT berkenan menerima amal baik kita (kami dan kamu). Do’a ini dipanjatkan terkait dengan selesainya kaum muslimin menunaikan ibadah-ibadah di bulan Ramadhan, dengan shiyam (puasa) nya, qiyam (shalat malam) nya, tilawah Al-Qur’annya dana mal-amal shalih lainnya. Lalu, dipanjatkanlah do’a, semoga semua amal shalih Ramadhan diterima oleh Allah SWT, yang berlanjut kepada terampuninya berbagai dosa kita yang telah berlalu.
  4. Minal ‘Aidin al-Faizin (مِنَ الْعَائِدِيْنَ الْفَائِزِيْنَ) semoga kita semua termasuk orang-orang yang ber-‘ied yang mendapatkan keberuntungan dan kesusksesan. Dan tentunya, tidak ada keberuntungan dan kesuksesan yang lebih besar dan lebih baik yang melebihi keberuntungan dan kesuksesan bertemu dengan bulan Ramadhan dan mengisinya dengan berbagai amal shalih, lalu seluruh amal shalih kita itu diterima oleh Allah SWT.

Seringkali, do’a terakhir ini terucapkan demikian: minal ‘aidin wal faizin (مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ) dalam arti, semoga kita semua termasuk orang-orang yang ber-‘ied dan orang-orang yang mendapatkan keberuntungan dan kesuksesan. Amin ya Rabbal ‘Alamin.

Mungkin Anda juga menyukai

3 Respon

  1. Selasa, 12 Jul 2016

    […] beberapa tradisi di nusantara yang dikaitkan dengan ‘iedul Fithri, […]