Shalat Tarawih Pada Zaman Itu

Pada masa khilafah Umar bin al-Khaththab ra. untuk pertama kalinya qiyam Ramadhan di masjid Nabawi disatukan dibawah kepemimpinan satu orang imam, yaitu Ubay bin Ka’ab ra. untuk jama’ah kaum laki-laki, dan dibawah kepemimpinan imam Tamim ad-Dari untuk jama’ah kaum perempuan. (baca: Qiyam Ramadhan di Zaman Umar bin al-Khaththab, juga: 3 bid’ah Umar bin al-Khaththab ra.).

Ada berbagai riwayat terkait jumlah raka’at yang dilakukan pada saat qiyam Ramadhan disatukan pada waktu itu:

  1. Satu riwayat menjelaskan bahwa jumlah raka’at tetap sebelas, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.
  2. Riwayat lain menjelaskan bahwa jumlah raka’atnya 13 raka’at.
  3. Riwayat lain menjelaskan bahwa jumlah raka’atnya 21 raka’at.
  4. Riwayat yang lain lagi menjelaskan bahwa jumlah raka’atnya 39, atau 41 raka’at.

Terkait dengan perbedaan riwayat tentang jumlah raka’at qiyam Ramadhan ini, Ibnu Hajar al-‘Asqalani (773 – 852 H = 1372 – 1449 M); ulama’ yang mensyarah Shahih Bukhari, berkata:

وَالْجَمْعُ بَيْنَ هَذِهِ الرِّوَايَاتِ مُمْكِنٌ بِاخْتِلَافِ الْأَحْوَالِ.

وَيُحْتَمَلُ أَنَّ ذَلِكَ الِاخْتِلَافَ بِحَسَبِ تَطْوِيلِ الْقِرَاءَةِ وَتَخْفِيفِهَا فَحَيْثُ يُطِيلُ الْقِرَاءَةَ تَقِلُّ الرَّكَعَاتُ وَبِالْعَكْسِ

Singkronisasi terhadap berbagai riwayat yang sepintas lalu berbeda ini mungkin dilakukan dengan mengatakan bahwa hal itu bergantung kepada situasi dan kondisi.

Mungkin juga dapat dijelaskan bahwa adanya perbedaan jumlah raka’at itu disesuaikan dengan panjang dan pendeknya bacaan Al-Qur’an setelah Al-Fatihah, maka, jika imam membaca Al-Qur’an setelah Al-Fatihah panjang, maka jumlah raka’atnya sedikit (11) dan jika bacaan Al-Qur’an imam pendek, maka jumlah raka’atnya banyak. (Lihat Fathul Bari Syarah Shahih Bukhari juz 4, hal. 253).

Saat itu, pada setiap raka’atnya, imam membaca antara 50 sampai seratus ayat. Karenanya, setelah dua kali salam, mereka perlu beristirahat, maka, dari sinilah qiyam Ramadhan lalu dikenal dengan istilah Shalat Tarawih, atau shalat yang banyak istirahatnya. (baca: Shalat Tarawih).

Menariknya lagi, orang-orang yang melakukan Shalat Tarawih di Makkah, saat istirahat itu, mereka memanfaatkannya untuk berthawaf.

Lalu, penduduk Madinah merasa iri, dalam arti iri yang positif. Maka, thawafnya orang Makkah mereka kompensasi dengan empat raka’at shalat. Maka dari sinilah Shalat Tarawihnya penduduk Madinah bukan hanya 20 raka’at, akan tetapi 36 atau bahkan 40 raka’at.

Ibnu Abi Syaibah (159 – 235 H = 776 – 849 M) menuturkan:

حَدَّثَنَا ابْنُ مَهْدِيٍّ، عَنْ دَاوُدَ بْنِ قَيْسٍ، قَالَ: «أَدْرَكْتُ النَّاسَ بِالْمَدِينَةِ فِي زَمَنِ عُمَرَ بْنِ عَبْدِ الْعَزِيزِ، وَأَبَانَ بْنِ عُثْمَانَ يُصَلُّونَ سِتًّا وَثَلَاثِينَ رَكْعَةً وَيُوتِرُونَ بِثَلَاثٍ»

Telah menceritakan kepada kami Ibnu Mahdiy, dari Daud bin Qais, ia berkata: “Saya mendapati manusia di Madinah di zaman Umar bin Abdul Aziz dan Aban bin Utsman, mereka melakukan shalat [Tarawih] 36 raka’at dan witir 3 raka’at. (Lihat Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, riwayat no. 7689.

(Lihat pula: Mukhtashar Qiyamillail wa Qiyam Ramadhan wa Kitabil Witri karya Al-Marwazi [wafat 294 H] halaman 221).

Jadi, seperti itulah para salafus-salih dahulu melakukan qiyam Ramadhan dan Shalat Tarawih, Semoga Allah SWT merahmati mereka, amin.

Mungkin Anda juga menyukai