Qiyam Ramadhan di Zaman Rasulullah SAW

Rasulullah SAW bersabda:

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ» (متفق عليه: البخاري [37، 2008]، ومسلم [759]).

Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: «Siapa yang melakukan qiyam (shalat malam) di bulan Ramadhan karena iman dan demi meraih pahala di sisi Allah SWT, maka dosa-dosanya yang telah lalu terampuni». Hadits Muttafaqun ‘alaih: Bukhari [37, 2008] dan Muslim [759].

Pertanyaannya, seperti apakah qiyam Ramadhan yang dipraktekkan oleh Rasulullah SAW?

Untuk mengetahui jawaban atas pertanyaan ini, mari kita simak hadits berikut:

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ؟ فَقَالَتْ: «مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا، فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا، فَلاَ تَسَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ، ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثًا» (متفق عليه: البخاري [1147، 2013، 3569]، ومسلم [738]).

Dari Abu Salamah bin Abdirrahman, bahwasanya dia bertanya kepada ‘Aisyah ra: Bagaimana shalat Rasulullah SAW di bulan Ramadhan? Maka ‘Aisyah menjawab: Rasulullah SAW tidak pernah melakukan shalat di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya melebihi sebelas (11) raka’at, beliau shalat empat raka’at, jangan kamu tanyakan bagusnya dan lamanya, kemudian beliau shalat empat raka’at, jangan kamu tanya bagusnya dan panjangnya, kemudian shalat tiga raka’at. Hadits muttafaqun ‘alaih: Bukhari [1147, 2013 dan 3569] dan Muslim [738].

Memang “hanya” sebelas raka’at, akan tetapi:

  • Sangat bagus: bagus bacaan dan berdirinya, bagus ruku’nya, bagus sujudnya, juga
  • Sangat panjang, panjang dan lama berdiri dan bacaannya, ruku’nya dan sujudnya.

Seperti apa sih gambaran tentang bagus dan panjangnya itu?

Untuk mengetahui jawaban atas pertanyaan ini, silahkan

عَنْ حُذَيْفَةَ، قَالَ: صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ، فَافْتَتَحَ الْبَقَرَةَ، فَقُلْتُ: يَرْكَعُ عِنْدَ الْمِائَةِ، ثُمَّ مَضَى، فَقُلْتُ: يُصَلِّي بِهَا فِي رَكْعَةٍ، فَمَضَى، فَقُلْتُ: يَرْكَعُ بِهَا، ثُمَّ افْتَتَحَ النِّسَاءَ، فَقَرَأَهَا، ثُمَّ افْتَتَحَ آلَ عِمْرَانَ، فَقَرَأَهَا، يَقْرَأُ مُتَرَسِّلًا، إِذَا مَرَّ بِآيَةٍ فِيهَا تَسْبِيحٌ سَبَّحَ، وَإِذَا مَرَّ بِسُؤَالٍ سَأَلَ، وَإِذَا مَرَّ بِتَعَوُّذٍ تَعَوَّذَ، ثُمَّ رَكَعَ، فَجَعَلَ يَقُولُ: «سُبْحَانَ رَبِّيَ الْعَظِيمِ»، فَكَانَ رُكُوعُهُ نَحْوًا مِنْ قِيَامِهِ، ثُمَّ قَالَ: «سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ»، ثُمَّ قَامَ طَوِيلًا قَرِيبًا مِمَّا رَكَعَ، ثُمَّ سَجَدَ، فَقَالَ: «سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى»، فَكَانَ سُجُودُهُ قَرِيبًا مِنْ قِيَامِهِ. (رواه مسلم [772]).

Dari Hudzaifah ra. ia berkata: Saya shalat bersama Rasulullah SAW pada suatu malam, maka beliau mengawali (setelah Al-Fatihah) dengan membaca surat Al-Baqarah, maka aku berkata (dalam hati): sepertinya akan ruku’ pada ayat ke-100, (ternyata) kemudian Rasulullah lanjut terus, maka aku berkata (dalam hati): sepertinya akan shalat dengan membaca seluruh Al-Baqarah dalam satu raka’at, lalu (ternyata) lanjut terus, kemudian memulai membaca surat An-Nisa’, maka beliau baca seluruhnya, kemudian memulai membaca Ali Imran, lalu membaca seluruhnya, beliau membaca surat-surat itu dengan pelan (tidak ngebut), jika bertemu ayat tasbih, beliau bertasbih, jika bertemu ayat permintaan, beliau meminta, dan jika bertemu ayat memohon perlindungan, beliau memohon perlindungan, kemudian beliau ruku’ seraya membaca: Subhana Rabbiyal ‘Azhim, lalu menjadikan ruku’nya sepanjang berdirinya, kemudian berdiri seraya membaca: Sami’aLlahu liman hamidahu, berdiri (I’tidal)-nya ini lamanya mendekati lamanya ruku’, kemudian beliau bersujud seraya membaca: Subhana Rabbiyal A’la, lalu menjadikan lama sujudnya mendekati lama I’tidal-nya.. (HR Muslim [772].

Memang tidak setiap malam seperti ini shalat beliau SAW, hanya saja, perlu diketahui, memang shalat malam beliau, baik di bulan Ramadhan maupun di bulan lainnya, merupakan shalat yang lama, panjang dan bagus.

Mungkin Anda juga menyukai