Pengertian Imanan Wahtisaban

Ada beberapa hadits Rasulullah SAW yang menyebut kalimat imanan wahtisaban (baca: Sebab-Sebab Maghfirah di Bulan Ramadhan).

Apa maksud kalimat imanan wahtisaban?

Kata: “imanan” lebih menekankan aspek al-ba’its, motif, atau pembangkit, atau pendorong, atau hal-hal yang membuat seseorang berbuat. Istilah lainnya adalah munthalaq atau titik tolak.

Maksudnya, imanan artinya adalah bahwa suatu perbuatan, misalnya: berpuasa, atau qiyamullail, atau lainnya, yang mendorong dan yang membangkitkannya adalah keimanan; keimanan kepada Allah SWT, keimanan kepada Rasulullah SAW, keimanan kepada Islam dan ajaran-ajarannya.

Sedangkan kata: “ihtisaban” lebih menekankan aspek tujuan, sasaran dan target  yang ingin diraih.

Maksudnya, ihtisaban artinya adalah bahwa suatu perbuatan, misalnya: berpuasa, atau qiyamullail, atau lainnya, yang menjadi target, tujuan dan sasaran yang ingin diraih dan didapatkan oleh seseorang dari perbuatan-perbuatannya ini adalah segala yang ada dan dijanjikan oleh Allah SWT, bukan apa yang dimiliki dan yang ada di sisi manusia.

Pembedaan ini terjadi jika kedua kosa kata ini (imanan dan ihtisaban) disebutkan dua-duanya sekaligus dalam satu rangkaian kalimat.

Namun, jika yang disebutkan hanya salah satu dari keduanya, maka, masing-masing kosa kata yang disebut mencakup makna yang tidak disebutkan.

Terkait hal ini, Ibnul Qayyim (691 – 751 H = 1292 – 1350 M) berkata:

وَإِذَا أُفْرِدَ كُلُّ وَاحِدٍ مِنَ الاِسْمَيْنِ، دَخَلَ فِيْ مُسَمَّى الْآخَرِ، إِمَّا تَضَمُّنًا وَإِمَّا لُزُوْمًا

Dan jika masing-masing dari dua suku kata itu disebutkan sendirian, maka maksud yang tidak disebutkan tercakup oleh yang disebutkan, baik karena faktor ketercakupan maupun karena faktor konsekwensi.

Beliau juga menjelaskan:

وَكَوْنُ أَحَدِهِمَا لَايَدْخُلُ فِي الْآخَرِ عِنْدَ الاِقْتِرَانِ لَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّهُ لَا يَدْخُلُ فِيْهِ عِنْدَ انْفِرَادِ الآخَرِ

Kenyataan bahwa salah satu dari dua kosa kata itu tidak masuk ke dalam pengertian kosa kata lainnya saat disebut bersama-sama dan beriringan, tidak berarti bahwa yang satu itu tidak masuk ke dalam pengertian lainnya saat disebut satu persatu secara sendiri-sendiri.

Lebih tegasnya lagi beliau berkata:

اَلْأَصْلُ الْأَوَّلُ وَهُوَ الْإِيْمَانُ الَّذِيْ هُوَ مَصْدَرُ الْعَمَلِ وَالسَّبَبُ الْبَاعِثُ عَلَيْهِ

Pokok pertama, yaitu iman. Hal ini merupakan sumber suatu amal dan sebab yang membangkitkannya.

اَلْأَصْلُ الثَّانِيْ وَهُوَ اَلاِحْتِسَابُ، وَهُوَ الْغَايَةُ الَّتِيْ لِأَجْلِهَا يُوْقِعُ الْعَمَلَ وَلَهَا يُقْصَدُ بِهِ

Pokok yang kedua, yaitu ihtisab, yaitu tujuan yang demi tujuan ini suatu amal dilakukan, dan untuk menggapai maksud inilah amal tertentu dilakukan.

Intinya, shiyam dan qiyam, dan juga amal-amal shalih lainnya, haruslah dilakukan secara ikhlas, baik dari sisi motif, maupun dari sisi tujuan.

وَهَذَا هُوَ الْإِيمَانُ وَالِاحْتِسَابُ الْمُشَارُ إِلَيْهِ فِي كَلَامِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ … وَالْإِيمَانُ: مُرَاقَبَةُ الْأَمْرِ وَإِخْلَاصُ الْبَاعِثِ، وَهُوَ أَنْ يَكُونَ الْإِيمَانُ الْآمِرَ لَا شَيْءَ سِوَاهُ. وَالِاحْتِسَابُ هُوَ: رَجَاءُ ثَوَابِ اللَّهِ.

Inilah dia iman dan ihtisab itu, dua kata yang disebut dalam hadits Rasulullah SAW ..

Iman adalah mengontor suatu urusan dan mengikhlaskan motif atau faktor yang mendorong dan membangkitkan, yaitu: hendaklah keimanan itulah yang menjadi faktor yang memerintahkan, bukan sesuatu selainnya.

Sedangkan ihtisab adalah mengharapkan pahala Allah SWT.

Ya Allah…

Berikanlah kepada kami keikhlasan, baik dalamm hal motif maupun tujuan, amin.

Mungkin Anda juga menyukai