Rahmat

Secara bahasa, kata rahmat (رَحْمَة) adalah bentuk mashdar (sumber, atau akar kata) dari rahimahu – yarhamuhu – rahmatan – wa marhamatan (رَحِمَهُ – يَرْحَمُهُ – رَحْمَةً – وَمَرْحَمَةً).

Menurut Ibnu Faris (329 – 395 H = 941 – 1004 M) dalam Mu’jam Maqayisul-lughah (2/498):

الرَّاءُ وَالْحَاءُ وَالْمِيمُ أَصْلٌ وَاحِدٌ يَدُلُّ عَلَى الرِّقَّةِ وَالْعَطْفِ وَالرَّأْفَةِ

Semua kosa kata yang huruf dasarnya adalah ro’, ha’ dan mim, menunjuk kepada satu makna asal (pokok) yang merupakan senyawa (gabungan yang telah menyatu) dari tiga perasaan sekaligus, yaitu:

  1. Ar-Riqqah (tipis rasa, mudah tersentuh, sentimental),
  2. Al-‘Athfu (simpati-empati), dan
  3. Ar-Ra’fah (sikap melunak, sikap melemah).

Tiga perasaan ini seakan telah terblending sedemikian rupa, lalu tercampur aduk menjadi satu dan membentuk sebuah senyawa perasaan.

Orang jawa biasa menerjemahkannya dengan istilah: welas asih. Dan dalam bahasa Indonesia disepadankan dengan istilah: belas kasihan.

Dari kosa rahmat inilah diantaranya muncul istilah Rahim, yaitu Rahim perempuan tempat tumbuh dan berkembangnya janin.

Tempat tumbuh dan berkembangnya janin disebut rahim, sebab dari sanalah tiga rasa yang telah bersenyawa tadi tumbuh dan berkembang. Lalu darinya muncul istilah shilatur-rahim yang secara harfiah bermakna: tersambung atau terjalinnya rahim, maksudnya, antara satu orang dengan orang lainnya ada ketersambungan dan keterjalinan rahim seorang perempuan, baik secara langsung (saudara kandung, atau seibu), ataupun tidak langsung, yaitu jika rahim yang menyambungkannya melewati satu tahap atau lebih. Sehingga, seluruh umat manusia ini pada hakekatnya mempunyai hubungan ketersambungan atau keterjalinan satu rahim, yaitu rahim ummina Hawa: istri nabi Adam as.

Seringkali juga kosa kata rahmat saat diucapkan, yang dimaksud dari kosa kata ini adalah sesuatu yang menjadi wujud dari senyawa tiga perasaan di atas.

Misalnya: ciuman atau pelukan seorang ibu kepada anaknya, itu disebut rahmat, karena ia merupakan wujud dan ekspresi dari senyawa tiga perasaan di atas.

Misalnya lagi adalah sedekah seseorang kepada pengemis atau orang miskin, sedekah itu disebut rahmat, karena ia merupakan wujud dan ekspresi dari senyawa tiga perasaan tersebut di atas kepada pengemis dan orang miskin itu.

Menurut Istilah

Sedangkan yang dimaksud dengan rahmat menurut istilah adalah sebagai berikut:

الرَّحْمَةُ: رِقَّةٌ تَقْتَضِي الْإِحْسَانَ إِلَى الْمَرْحُوْمِ،

وَقَدْ تُسْتَعْمَلُ تَارَةً فِي الرِّقَّةِ الْمُجَرَّدَةِ،

وَتَارَةً فِي الْإِحْسَانِ الْمُجَرَّدِ عَنِ الرِّقَّة

Rahmat adalah rasa melunak yang berkonsekwensi kepada munculnya perbuatan baik kepada pihak yang dirahmati.

Terkadang, kosa kata “rahmat” dipergunakan untuk mengungkapkan rasa melunak itu sendiri, meskipun tidak berlanjut kepada adanya perbuatan baik kepada yang dirahmati.

Terkadang juga, kosa kata “rahmat” dipergunakan untuk menunjuk “perbuatan baik” itu sendiri, meskipun tanpa disertai adanya rasa melunak. (Lihat: Mufradatul Qur’an karya Ar-Raghib al-Ashfahani [1/347]).

Pendapat lain mengatakan:

اَلرَّحْمَةُ هِيَ رِقَّةٌ فِي النَّفْسِ، تَبْعَثُ عَلَى سَوْقِ الْخَيْرِ لِمَنْ تَتَعَدَّى إِلَيْهِ

Rahmat adalah rasa melunak yang ada di dalam jiwa, yang membangkitkan adanya perbuatan menghadirkan kebaikan kepada pihak yang terjangkau olehnya. (Lihat: At-Tahrir wat-Tanwir karya Ibnu ‘Asyur [26/24]).

اَلرَّحْمَةُ: رِقَّةٌ فِي الْقَلْبِ، يُلَامِسُهَا الْأَلَمُ حِيْنَمَا تُدْرِكُ الْحَوَاسُّ أَوْ تُدْرَكُ بِالْحَوَاسِّ، أَوْ يَتَصَوَّرُ الْفِكْرُ وُجُوْدَ الْأَلَمِ عِنْدَ شَخْصٍ آخَرَ، أَوْ يُلَامِسُهَا السُّرُوْرُ حِيْنَمَا تُدْرِكُ الْحَوَاسُّ أَوْ تُدْرَكُ بِالْحَوَاسِّ أَوْ يَتَصَوَّرُ الْفِكْرُ وُجُوْدَ الْمَسَرَّةِ عِنْدَ شَخْصٍ آخَرَ

Rahmat adalah rasa melunak di dalam hati karena tergosok oleh rasa sakit saat panca indera dapat menangkap rasa itu, atau rasa sakit yang tertangkap oleh panca indera

Atau terpersepsikannya pemikiran oleh adanya rasa sakit yang terjadi pada orang lain.

Atau karena tergosok oleh hal yang menyenangkan saat panca indera itu menangkapnya, atau tertangkap oleh panca indera,

Atau terpersepsikannya pemikiran oleh adanya hal yang menyenangkan yang terjadi pada orang lain. (Lihat: Al-Akhlaq al-Islamiyyah wa Ususuha, karya Abdurrahman al-Maidani [2/3])

Agar menjadi lebih jelas, dapat diterangkan sebagai berikut:

  • Kita asumsikan ada seseorang bernama Fulan, dan ada satu orang lainnya namanya Alan.
  • Pada suatu hari, si Fulan mengalami suatu peristiwa atau kejadian yang menyakitkannya, atau yang menyenangkannya.
  • Saat peristiwa yang menyakitkan atau menyenangkan pada diri si Fulan itu terjadi, peristiwa itu disaksikan atau diketahui oleh di Alan.
  • Input “kesaksian” atau “pengetahuan” di Alan, bisa saja melalui panca indera, baik salah satu dari panca indera itu atau lebih dari satu indera yang dimilikinya.
  • Namun, input itu juga bisa terjadi melalui informasi atau sumber pihak ketiga.
  • Input yang masuk kepada Alan, baik melalui inderanya sendiri maupun melalui pihak ketiga itu, selanjutnya diolah oleh si Alan.
  • Bisa jadi diolah oleh “nafs” (jiwa) si Alan, mungkin juga diolah oleh “qalb” di Alan, mungkin juga dioleh oleh “fikr” si Alan, dan bisa jadi juga ketiga-tiganya (nafs, qalb dan fikr) secara bersama-sama mengolahnya.
  • Tentunya, sebagian atau seluruh input tersebut mengaduk-aduk rasa sedemikian rupa, baik dalam nafs, qalb maupun fikr, dan terjadilah semacam peristiwa blending di sana, yang lalu memuncukan suatu hasil olahan perasaan yang disebut “riqqah” (rasa melunak).
  • Rasa inilah yang disebut “rahmat” yang dalam bahasa Jawa disebut: welas asih dan dalam bahasa Indonesia disebut: belas kasihan.
  • Dan jika dikembalikan kepada penjelasan kebahasaan di atas, bisa dikatakan bahwa blending tersebut lalu menghasilkan suatu senyawa perasaan gabungan dari: riqqah, ‘athf dan ra’fah.
  • Senyawa perasaan inilah yang disebut “rahmat”.

Dengan demikian, dalam konteks manusia, bisa dikatakan bahwa “rahmat” adalah satu bentuk reaksi (infi’al) yang bersifat khusus karena adanya input, yang lalu direspon oleh nafs, dan atau qalb dan atau fikr saat sumber-sumber input ini “berbenturan” dengan pihak eksternal, lalu infi’al (reaksi) ini mendorong munculnya senyawa rasa, yang selanjutnya mewujud dan terefleksi dalam bentuk mendatangkan berbagai kebaikan (ihsan) kepada pihak yang dirahmati atau menolak, mengusir dan menjauhkan berbagai bentuk keburukan dari pihak yang dirahmati.

(Lebih lanjut silahkan baca penjelasan tentang Rahmat Allah SWT).

Wallahu A’lam.

Mungkin Anda juga menyukai