Rahmat Allah SWT

Pada pembahasan tentang makna dan pengertian “rahmat” telah dijelaskan bahwa pada asalnya (menurut kajian kebahasaan), “rahmat” adalah satu bentuk reaksi (infi’al) yang bersifat khusus karena adanya input, yang lalu direspon oleh nafs, dan atau qalb dan atau fikr saat sumber-sumber input ini “berbenturan” dengan pihak eksternal, lalu infi’al (reaksi) ini mendorong munculnya senyawa rasa, yang selanjutnya mewujud dan terefleksi dalam bentuk mendatangkan berbagai kebaikan (ihsan) kepada pihak yang dirahmati atau menolak, mengusir dan menjauhkan berbagai bentuk keburukan dari pihak yang dirahmati.

Namun, yang perlu diyakini, Allah SWT laisa mahallan lil hawaditsi (tidak berlaku pada-Nya segala hal-hal atau peristiwa-peristiwa) seperti riqqah dalam arti tipis rasa, mudah tersentuh dan sentimental, dan atau ‘athf (simpati-empati), dan atau ra’fah (melunak, melemah).

Karenanya, dalam hal ini, ada ungkapan:

خُذِ الْغَايَاتِ وَاتْرُكِ الْمَبَادِئِ

Ambil ujungnya dan tinggalkan asal-muasalnya.

Maksudnya: misalnya dalam konteks memahami pengertian tentang “rahmat Allah SWT”, ambil penjelasan tentang ujungnya (perwujudannya) dan jangan berkutat pada asal muasalnya.

Maksudnya, seperti telah dijelaskan di atas, pada akhirnya (ghayah), rahmat itu mewujud dalam dua bentuk, yaitu:

  1. Menghadirkan dan mendatangkan berbagai bentuk kebaikan (ihsan) kepada pihak yang dirahmati, dan
  2. Menolak, mengusir dan menjauhkan berbagai bentuk keburukan dari pihak yang dirahmati.

Jadi, dalam konteks “rahmat Allah SWT”, lihat, perhatikan, pahami dan Imani saja segala makna dan pengertian dari “rahmat” secara bahasa dengan tanpa menyamakannya dengan “rahmat” manusia dan makhluq lainnya, dan keyakinan kemahasempurnaan rahmat Allah SWT itu.

Juga lihat, perhatikan, pahami dan Imani segala bentuk perwujudan dari rahmat Allah SWT itu. Wallahu a’lam.

Menarik apa yang disampaikan oleh Ibnul Qayyim (691 – 751 H = 1292 – 1350 M):

فَالرَّحْمَةُ صِفَةٌ تَقْتَضِيْ إِيْصَالَ الْمَنَافِعِ وَالْمَصَالِحِ إِلَى الْعَبْدِ، وَإِنْ كَرِهَتْهَا نَفْسُهُ، وَشَقَّتْ عَلَيْهَا

Rahmat (Allah) adalah satu sifat yang berkonsekwensi kepada tersampaikannya berbagai manfaat dan kemaslahatan bagi seorang hamba, meskipun nafsu sang hamba itu tidak menyukainya dan merasa berat atasnya. Lihat: Ightsatul-Lahfan min Mashayidisy-Syaithan (2/174).

Maksudnya, terkadang (kalau tidak sering), rahmat Allah SWT disikapi oleh hamba-Nya dengan ketidak sukaan dan rasa berat, padahal ia adalah rahmat, yang sudah pasti membawa manfaat dan maslahat baginya, di dunia dan di akhirat.

Ada banyak dalil yang menunjukkan betapa sempurna dan luasnya rahmat Allah SWT. Diantaranya:

Firman Allah SWT:

… وَرَحْمَتِي وَسِعَتْ كُلَّ شَيْءٍ … [الأعراف: 156]

Dan rahmat-Ku mencakup segala sesuatu [Q.S. Al-A’raf: 156].

Dalam arti, tidak ada suatu makhluq pun kecuali tercakup dan mendapatkan rahmat Allah SWT.

Dan Allah SWT Maha Mengetahui, dan segala yang Allah SWT ketahui, tercakup dan sampai kepadanya rahmat Allah SWT.

Allah SWT berfirman menceritakan tentang pengakuan dan do’a para malaikat-Nya:

الَّذِينَ يَحْمِلُونَ الْعَرْشَ وَمَنْ حَوْلَهُ يُسَبِّحُونَ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ وَيُؤْمِنُونَ بِهِ وَيَسْتَغْفِرُونَ لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا وَسِعْتَ كُلَّ شَيْءٍ رَحْمَةً وَعِلْمًا فَاغْفِرْ لِلَّذِينَ تَابُوا وَاتَّبَعُوا سَبِيلَكَ وَقِهِمْ عَذَابَ الْجَحِيمِ [غافر: 7]

(Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekililingnya bertasbih memuji Rabbnya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Rabb kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang bernyala-nyala [Ghafir: 7].

Dan tersebut dalam hadits shahih bahwa rahmat Allah SWT mendahului kemurkaan-Nya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: «سَبَقَتْ رَحْمَتِي غَضَبِي» (متفق عليه: البخاري [7553]، ومسلم [2751]).

Dari Abu Hurairah ra. dari nabi Muhammad SAW, Allah SWT berfirman: «Rahmat-Ku mendahului kemurkaan-Ku». Hadits muttafaqun ‘alaih: Bukhari [7553] dan Muslim [2751].

Semoga kita semua senantiasa mendapatkan limpahan dan curahan rahmat Allah SWT, amin.

Mungkin Anda juga menyukai

1 Respon

  1. Rabu, 29 Jun 2016

    […] (Lebih lanjut silahkan baca penjelasan tentang Rahmat Allah SWT). […]