Keutamaan Nisfu Sya’ban

Oleh: Tholhah Nuhin

Banyak masyarakat yang menunggu datangnya bulan Sya’ban. Bulan diantara salah satu bulan Muharram yaitu Rajab dan bulan Ramadhan. Bulan yang banyak dilupakan manusia. Tapi di Bulan ini   Rasulullah SAW banyak melakukan shaum dibandingkan pada bulan yang lain. Tentunya selain bulan Ramadhan.

Tidak hanya mereka memakmurkan awal bulan Sya’ban saja, akan tapi tidak jarang sebagian mereka menunggu datangnya Malam Nisfu Sya’ban (pertengahan Sya’ban).

Keutamaan Malamnya

Apakah Pertengahan bulan Sya’ban ini ada keutamaan sendiri dibandingkan dengan hari-hari Sya’ban lainnya? Mari kita simak pendapat para Ulama dalam hal ini.

Imam Ibnu Rajab Al-Hanbaly menjelaskan tentang hal ini dalam kitabnya ; Lathaaif Al-Ma’aarif sebagai berikut:<

وفي فضل ليلة نصف شعبان أحاديث أخر متعددة وقد اختلف فيها فضعفها الأكثرون وصحح ابن حبان بعضها وخرجه في صحيحه ومن أمثلها حديث عائشة

“dan dalam keutamaan malam Nisfu Sya’ban ada banyak hadits yang lain. Dan sungguh hadits-hadits itu telah diperdebatkan. Banyak yang mendoifkan (melemahkan) dan Ibnu Hiban telah menshohihkan sebagiannya. Beliau mengeluarkannya dalam kitab “Shohihnya” seperti hadits Ummil mukminin ‘Aisyah ra yang telah diriwayatkan Imam Ibnu Majah:

Turunnya Allah SWT ke Langit Dunia pada Malam Nisfu Sya’ban:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ فَقدْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَخَرَجْتُ أَطْلُبُهُ فَإِذَا هُوَ بِالْبَقِيعِ رَافِعٌ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ يَا عَائِشَةُ أَكُنْتِ تَخَافِينَ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْكِ وَرَسُولُهُ قَالَتْ قَدْ قُلْتُ وَمَا بِي ذَلِكَ وَلَكِنِّي ظَنَنْتُ أَنَّكَ أَتَيْتَ بَعْضَ نِسَائِكَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ لِأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعَرِ غَنَمِ كَلْبٍ

(IBNUMAJAH – 1379) : dari ‘Aisyah ia berkata, “Suatu malam aku kehilangan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, aku pun mencarinya, dan ternyata beliau berada di Baqi’ menengadahkan kepalanya ke langit, beliau lalu bersabda: “Wahai ‘Aisyah, apakah engkau takut Allah dan Rasul-Nya akan mengurangi (haknya) atasmu?” ia menjawab, “Aku telah mengatakan tidak, hanya saja aku khawatir engkau mendatangi salah seorang dari isterimu. ” Maka beliau pun bersabda: “Sesungguhnya pada pertengahan malam Sya’ban Allah turun ke langit dunia lalu mengampuni orang-orang yang jumlahnya lebih banyak dari jumlah bulu kambing. ”

Hadits ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Hiban. Dan Imam At-Tirmidzi menuturkan bahwa Imam Bukhori mendoifkan (melemahkan).

Allah SWT Mengampuni semua Makhluk-Nya kecuali yang Musyrik, yang bermusuhan dan yang membunuh

عَنْ أَبِي مُوسَى الْأَشْعَرِيِّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ

(IBNUMAJAH – 1380) : dari Abu Musa Al Asy’ari dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah SWT mengamati di malam Nishfu Sya’ban kemudian mengampuni semua makhluk-Nya kecuali orang musyrik atau orang yang bermusuhan. ”

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَطَّلِعُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلَى خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِعِبَادِهِ إِلَّا لِاثْنَيْنِ مُشَاحِنٍ وَقَاتِلِ نَفْسٍ

(AHMAD – 6353) : dari Abdullah bin ‘Amru, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Allah Ta’ala mengamati makhluk-Nya pada malam pertengahan bulan sya’ban, lalu Dia mengampuni dosa-dosa hamba-Nya kecuali dua saja; orang yang bermusuhan dan orang yang membunuh seseorang.”

 

Amalan Nisfu Sya’ban

Setelah memahami keutamaan dalam malam Nisfu Sya’ban dan secara umum Bulan Sya’ban itu sendiri. Setiap muslim harus memperbanyak amalan-amalan yang dianjurkan dalam Bulan ini, khususnya malam dan hari Pertengahan Bulan yaitu Nisfu Sya’ban.

Pertanyaan apakah ada amalan-amalan yang dikhususkan dalam malam dan hari Nisfu Sya’ban? Mari kita simak beberapa pendapat ulama yang telah dipaparkan Imam Ibnu Rajab Al-Hanbaly dalam Kitab beliau, Lathooif Al-Ma’aatif.

و أما صيام يوم النصف منه فغير منهي عنه فإنه من جملة أيام البيض الغر المندوب إلى صيامها من كل شهر

“dan adapun puasa pada hari pertengahannya (Nisfu Sya’ban) maka tidak dilarang, karena masuk dalam kategori hari-hari putih (Ayyam Al-Bidh- tgl 13,14 dan 15 setiap bulan hijriah)

Alaman Yang Dilakukan

Shaum/puasa di pagi harinya

Shaum atau puasa pada hari Nisfu Sya’ban tidak termasuk yang dilarang, karena termasuk dalam bilangan hari-hari putih setiap bulan Qomariah. Seperti hadits Rasulullah SAW berikut ini:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ أَوْصَانِي خَلِيلِي بِثَلَاثٍ لَا أَدَعُهُنَّ حَتَّى أَمُوتَ صَوْمِ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَصَلَاةِ الضُّحَى وَنَوْمٍ عَلَى وِتْرٍ

(BUKHARI – 1107) : dari Abu Hurairah radliallahu ‘anhu berkata: “Kekasihku (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) telah berwasiat kepadaku dengan tiga perkara yang tidak akan pernah aku tinggalkan hingga aku meninggal dunia, yaitu shaum tiga hari pada setiap bulan, shalat Dhuha dan tidur dengan shalat witir terlebih dahulu”.

Jadi shaum di hari Nisfu Sya’ban termasuk tiga hari setiap bulam yang dianjurkan Rasulullah SAW kepada Ummatnya dan wasiat Beliau kepada sebagian Sahabatnya seperti Sahabat Abu Hurairah ra.

Begitu juga hadits Nabi di bawah ini:

عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ أَلَا مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلَا مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ

(IBNUMAJAH – 1378) : dari Ali bin Abu Thalib ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila malam nisfu Sya’ban (pertengahan bulan Sya’ban), maka shalatlah di malam harinya dan berpuasalah di siang harinya. Sesungguhnya Allah turun ke langit bumi pada saat itu ketika matahari terbenam, kemudian Dia berfirman: “Adakah orang yang meminta ampun kepada-Ku, maka Aku akan mengampuninya? Adakah orang yang meminta rizki maka Aku akan memberinya rizki? Adakah orang yang mendapat cobaan maka Aku akan menyembuhkannya? Adakah yang begini, dan adakah yang begini…hingga terbit fajar. ”

Memperbayak Qiamul Lail

Hadits yang diriwayatkan Imam Ibnu Majah di atas mengisaratkan anjuran melakukan Qiamul Lail pada malam Nisfu Sya’ban. Apalagi disebutkan dalam hadits yang lain bahwasanya Allah SWT setiap sepertiga malam turnn ke Langit Dunia memperhatikan hamba-hambanya yang sedang melakukan sholat. Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ فَيَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ وَمَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ وَمَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ

(MUSLIM – 1261) : dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Rabb Tabaraka wa Ta’la turun ke langit dunia pada setiap malam, yakni saat sepertiga malam terakhir seraya berfirman, ‘Siapa yang berdo’a kepadaKu niscaya akan Aku kabulkan dan siapa yang meminta kepadaKu niscaya akan Aku berikan dan siapa yang memohon ampun kepadaKu, niscaya akan Aku ampuni.'”

Berdoa

Berdoa di malam Nisfu Sya’ban termasuk katagori do’a yang mustajab. Imam Ibnu Rajab menyebutkan perkataan Imam Syafi’I dalam “Lathaaif Al-Ma’aatif” bawah Malam Nisfu Sya’ban termasuk 5 Malam yang dimana do’a seorang hamba dikabulkan Allah SWT.

وقال الشافعي رضي الله عنه: بلغنا أن الدعاء يستجاب في خمس ليال: ليلة الجمعة والعيدين وأول رجب ونصف شعبان قال: وأستحب كل ما حكيت في هذه الليالي

“dan Imam Syafi’I berkata: “sampai kepada kami bahwa sesungguhnya do’a dikabulkan pada 5 malam; malam Jum’at, malam hari Raya (Fitri dn Adhha), Awal Rajab dan malam Nisfu Sya’ban. Dan berkata: dan aku suka semua apa yang aku ceritakan pada malam-malam ini….

وقد روي عن عمر بن عبد العزيز أنه كتب إلى عامله إلى البصرة عليك بأربع ليال من السنة فإن الله يفرغ فيهن الرحمة إفراغا أول ليلة من رجب وليلة النصف من شعبان وليلة الفطر وليلة الأضحى وفي صحته عنه نظر.

“dan telah diriwayatkan dari Umar bin Abdul Aziz bahwasanya beliau telah menulis kepada bawahannya yang ada di Bashroh: hati-hati dengan 4 malam dari perkara Sunnah, sesungguhnya Allah SWT senantiasa memberikan rahmatNya secara berlebih pada awal malam Rajab, Malam Nisfu Sya’ban, malam Idul Fitri dan malam Idul Adhha. Imam Ibnu Rajab berkata: dalam keshohihannya masih dipertanyakan.

Amlan Tabi’in

Di kalangan Tabi’in juga ada yang melakukan amalan pada malam Nisfu Sya’ban. Termasuk yang dilakukan oleh ahlu Syam. Imam Ibnu Rajab menyebutkan amalan mereka dan juga perbedaan asal muasal amalan masyarakat setelah mereka.

وليلة النصف من شعبان كان التابعون من أهل الشام كخالد بن معدان ومكحول ولقمان بن عامر وغيرهم يعظمونها ويجتهدون فيها في العبادة وعنهم أخذ الناس فضلها وتعظيمها

“dan malam nisfu Sya’ban, dulu kalangan Tabi’in dari Negeri Syam termasuk Imam Kholid bin Mi’daan, Makhul, Lukman bin Amir dan yan lainnya selalu mengagungkan Nisfu Sya’ban dan mujahadah dengan melakukan ibadah di dalammya. Dari mereka inilah manusia setelahnya mengutamakan dan mengagungkannya.”

 

Ada yang berpendapat bahwa amalan Nisfu Sya’ban mereka ambil dari Peninggalan Israiliat yang akhirnya tersebar di kalangan mereka. Oleg karenanya muncul 2 pendapat dari  Ulama Bashroh yang membolehkan dan Ulama Hijaz yang mengingkari seperti Imam Atho, Ibnu Abi Malikah dan termasuk Fuqoha Ahlul Madinah. Juga pendapat madzhab Imam Malik, yang mengatakan bahwa amalan tersebut adalah Bid’ah.

Ulama Syam meskipun membolehkan amalam pada malam Nisfu Sya’ban, tetap juga ada perbedaan pendapat dalam cara melakukan amalan tersebut. Seperti yang dituturkan Imam Ibnu Rajab dalam Kirabnya:

أحدهما : أنه يستحب إحياؤها جماعة في المساجد كان خالد بن معدان ولقمان بن عامر وغيرهما يلبسون فيها أحسن ثيابهم ويتبخرون ويكتحلون ويقومون في المسجد ليلتهم تلك ووافقهم إسحاق بن راهوية على ذلك وقال في قيامها في المساجد جماعة: ليس ببدعة

“pertama: diamjurkan memakmurkan malamnya dengan berjamah di Masjid. Imam Kholid bin Mi’daa, Lukman bin Amir dan yang lainnya memakai pakaian yang bagus, memakai minyak wangi gaharu, memakai sifat mata dan berdiri melakukan Qiamul Lail di Masjid. Hal ini juga disepakati oleh Imam Ishak bin Rahurah. Beliau berkata: Qiamul lail di masjid secara berjamaah tidak termasuk Bid’ah

والثاني : أنه يكره الإجتماع فيها في المساجد للصلاة والقصص والدعاء ولا يكره أن يصلي الرجل فيها لخاصة نفسه وهذا قول الأوزاعي إمام أهل الشام وفقيههم وعالمهم وهذا هو الأقرب إن شاء الله تعالى.

“kedua: dimakruhkan bersama-sama pada malam itu di Masjid untuk melakukan Sholat, membaca kisah dan berdoa. Dan tidak dimakruhkan bagi seseorang yang melakukan sholat sendiri. Ini pendapat Imam Al-Auza’I, Imam Negeri Syam, ahli Fiqh dan Pakar Ulamanya. Imam Ibnu Rajab berkomentar: Dan ini pendapat yang lebih dekat kebenarannya. Allahu yang lebih tahu.

Mungkin Anda juga menyukai