Bulan Sya’ban, Asal Muasal dan Maknanya

Bulan Sya’ban adalah bulan ke delapan dari nama-nama bulan Arab, setelah Rajab dan sebelum Ramadhan. Menurut Ibnu Duraid (223 – 321 H = 837 – 933 M), sebagaimana dikutip oleh Ibnu Faris (329 – 395 = 941 – 1004 M) bulan ini dinamakan bulan Sya’ban karena pada saat penamaannya, bulan ini bertepatan dengan berpencarnya suku-suku Arab ke sana dan kemari dalam rangka mencari air (Mu’jam Maqayisul-Lughah [3/192]).

Syekh Salamah bin Muslim al-‘Autabi Ash-Shuhari (ulama’ abad V H) menjelaskan alasan penamaan Sya’ban lebih banyak lagi. Menurut beliau, paling tidak ada tiga alasan, kenapa bulan Sya’ban dinamakan dengan Sya’ban (Al-Ibanah fil-Lughah al-‘Arabiyyah [4/752]):

  1. Karena, pada awal mula saat penamaan bulan-bulan ini, masa itu bertepatan dengan saat di mana pohon-pohon mulai memunculkan cabang-cabang dan ranting-rantinya. Munculnya cabang dan ranting itu secara bahasa disebut tasya’aba – yatasya’abu. Dari sinilah nama Sya’ban itu bermula.
  2. Ada kemungkinan lain, yaitu, karena pada saat penamaan bulan-bulan itu, masa itu bertepatan dengan momentum tersebar dan berpencarnya suku-suku bangsa Arab, di mana antara satu suku dengan yang lainnya saling berpisah dan saling menjauh. Berpencar dan saling berpisah, dalam bahasa Arab juga disebut tasya’aba – yatasya’abu.
  3. Ada kemungkinan lain lagi, yaitu bahwa pada bulan Rajab (sebelum bulan Sya’ban), orang-orang Arab terikat oleh ajaran haramnya berperang dan saling bunuh di antara sesama mereka. Bahkan, saking hormatnya mereka kepada aturan keharaman bulan Rajab, bisa jadi dua orang yang saling bermusuh dan hendak saling membunuh, bisa melakukan satu perjalanan secara bersama-sama tanpa ada kekhawatiran akan dibunuh oleh yang satunya. Namun, menjelang bulan Sya’ban tiba, terutama yang merasa lemah, mulai menghilang dan bersembunyi. Maka, siapa saja yang merasa kuat untuk melakukan dendam, mereka mulai berpencar mencari musuh-musuh mereka. Berpencar mencari musuh ini dalam bahasa Arab diistilahkan sebagai tasya’aba – yatasya’abu.

Kemungkinan terakhir inilah yang dipandang paling kuat oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani (773 – 852 H = 1372 – 1449 M) dalam kitabnya Fathul Bari Syarh Shahih al-Bukhari (4/213).

Sebagian orang Arab menambahkan satu sifat untuk bulan Sya’ban. Lalu mereka menyebutnya sebagai bulan Sya’ban al-‘Adzil. Mereka sifati bulan Sya’ban ini dengan sifat ‘Adzil, yang secara bahasa berarti celaan, dikarenakan mereka mencela siapa saja yang pada bulan Sya’ban tetap berdiam di kampung halamannya, padahal saat itu sedang musim perang dan saling serang menyerang diantara suku yang satu dengan suku yang lainnya. (Majallatul Jami’ah al-Islamiyyah bin Madinah al-Munawwarah []).

Mungkin Anda juga menyukai